Cho bukanlah seorang pria yang marah. Dia adalah seorang yang sakit jiwa,
yang pernah dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
Bullying, tidak hanya terjadi di antara anak2 di Amrik. Kita melihat ini di
diskusikan di Amrik, karena disini masyarakatnya terbuka, kalau ada suatu
persoalan, maka pasti didiskusikan.
Kalau dia tidak sakit jiwa, maka betapapun dia di 'bully', dia tidak akan
bertindak seperti itu.
Di koran2 disini orang2 men-cari2 alasan yang lain, diluar dari ke
'gila-annya, (psychopath), yang menjadikan dia melakukan pembunuhan2 tsb. Satu
alasan adalah karena dia di 'bully', karena mereka tidak bisa
mencari/mendapatkan alasan yang lain.
Allasan2 yang lain, umpamanya kemiskinan, tidak kena disini sebab orang
tuanya tinggal di perumahan upper middle class, menurut apa yang saya baca di
salah satu koran disini.
Alasan mungkin karena dia malu karena bodoh, tidak juga kena, sebab dia bisa
masuk ke universitas.
Alasan ke 'Asia' annya, juga tidak kena, sebab banyak sekali orang2 asia yang
sukses di Amrik. Bahkan valedictorians banyak yang turunan Asia, proporsinya
jauh lebih besar dari proporsi penduduk Asia. Jadi satu2-nya yang bisa
dibicarakan adalah 'bullying'.
Arya: Cho juga adalah buah dari sebuah masyarakat yang tidak beres. Komunitas
yang menghakimi dan abai.
Amartien: Dimana ada bukti bahwa di Amrik ada masyarakat yang 'menghakimi'?
Kalau di Indonesia sih banyak sudah bukti adanya masyarakat/kelompok yang
menghakimi --- contoh: FPI.
Disini tidak ada gerombolan seperti FPI yang seenaknya bisa memaksakan
kehendak mereka ke orang lain dan dibiarkan oleh pemerintah.
Kalau 'masyarakat yang tidak beres' salah satu ciri2-nya adalah komunitas
yang tidak beres dan abai, maka menurut kriteria anda tsb., maka masyarakat di
Indonesia adalah masyarakat yang 'tidak beres dan abai'.
Sayangnya, senjata genggam bisa dibeli di Amrik, dan ini yang menimbulkan
kematian2 yang seharusnya tidak terjadi, seperti halnya dengan Cho.
Kalau senjata2 seperti itu tidak bisa didapatkan di Amrik, maka orang2 yang
mengamuk seperti Cho hanya akan bisa menggunakan senjata2 yang tidak semudah
untuk membunuh dibandingkan dengan gunds, seperti pisau umpamanya.
Kalau Cho itu hanya menggunakan pisau pada waktu dia mengamuk itu, maka
korban pastilah jauh lebih sedikit, bahkan mungkin saja tidak akan ada korban
yang mati.
Arya Perdhana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Hari itu, Senin 16 April 2007. Jam masih menunjukkan pukul 07.15 pagi.
Kampus Virginia Tech yang teduh dan luas di Blacksburg, Virginia, AS,
sungguh tenang. Perkuliahan baru akan dimulai pukul 08.00.
Tapi di lantai 4 asrama mahasiswa West Ambler, kegaduhan terjadi.
Seorang pria, agak gemuk, berjalan dengan tergesa. Di dua tangannya,
tergenggam dua pucuk pistol. Lelaki itu menyerang asrama yang dihuni
895 mahasiswa tersebut. Pistol sang penyerang menyalak, dan 2 orang
pun tersungkur tewas di pagi celaka itu.
Pria itu tak berhenti di situ. Dua jam kemudian, ia kemudian juga
menyerang Norris Hall, gedung kuliah yang selalu ramai oleh para
mahasiswa. Apalagi di hari Senin. Suara tembakan bersipongang di
seantero gedung. 30 nyawa dihabisi. Kemudian nyawa sang penyerang pun
melayang oleh tembakan pistol empunya sendiri.
Adalah Cho Seung-hui yang melakukan semua kesadisan itu. Cho, pemuda
imigran asal Korea Selatan itu. Usianya baru 23 tahun lewat 3 bulan.
Diantara 2 aksi pemberondongannya, mahasiswa jurusan Bahasa Inggris
itu sempat mengirim paket ke sebuah stasiun televisi. Isinya, catatan
sepanjang 1800 kata yang terkadang tidak saling berkaitan. Foto-foto
dalam pose yang intimidatif. Serta klip video berisi sumpah serapah
dan penuh dengan ancaman. Mungkin, ia ingin dunia tahu, mengapa ia
sanggup melakukan kekejaman semacam itu.
Cho adalah pria yang marah. Ia frustasi dengan kehidupannya. Ia
berasal dari keluarga miskin di Dobong-gu, Korea Selatan. Ia
berimigrasi ke AS saat berusia 8 tahun, beserta ayah ibunya dan kakak
perempuannya. Demi kehidupan yang lebih baik. Ayah-ibunya bekerja
sebagai buruh di sebuah laundry di Washington DC.
Bertingkah aneh dan psikotik, Cho juga adalah buah dari sebuah
masyarakat yang tidak beres. Komunitas yang menghakimi dan abai.
Orang-orang yang menghina dan menjaga jarak. Dalam satu kelas, Cho
diminta membaca. Ia bersuara pelan. Nyaris tak terdengar. Teman-teman
sekelasnya menertawainya seraya berkata, "Kembali saja kau ke Cina!".
Menggelikan untuk mereka, menyakitkan untuk Cho.
Cho tak punya teman. Ia penyendiri. Ia juga canggung. Sialnya, Cho
hidup di sebuah negara yang mentradisikan bullying (menggencet) dalam
dunia pendidikannya. Kutub siswa populer melawan kutub siswa
pecundang. Yang pasti, yang dinistakan tentu saja yang pencundang. Ia
marah melihat mahasiswa-mahasiswa kaya di sekitarnya. "Aku jengah
melihat gaya hedonistik mereka. Aku takkan lari", demikian tulisnya
penuh geram dalam surat yang ia kirimkan ke televisi.
Angkara itu menggeram. Lalu menyalak, menghambur keluar melalui peluru
dari dua pistol Cho.