--- In [email protected], amartien <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Cho  bukanlah seorang pria yang marah.  Dia adalah seorang yang
sakit jiwa, yang pernah dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
>    
>   Bullying, tidak hanya terjadi di antara anak2 di Amrik.  Kita
melihat ini di diskusikan di Amrik, karena disini masyarakatnya
terbuka, kalau ada suatu persoalan, maka pasti didiskusikan.  
>    
>   Kalau dia tidak sakit jiwa, maka betapapun dia di 'bully', dia
tidak akan bertindak seperti itu.  

Menurut saya justru sebaliknya. Jika dia telah sebelumnya menunjukkan
gejala sakit, mengapa bullying itu masih saja terjadi dan dilakukan?
Dia mengamuk bukan tanpa motif. Mungkin ada banyak orang yang sakit di
sebuah institusi pendidikan, tapi mengapa tidak semuanya menembakkan
senjata dan membunuh 32 orang? Saya tdk mengabaikan fakta bahwa Cho
memang sakit, tapi saya melihat bahwa faktor bullying inilah yang
memegang peranan lebih besar dalam kasus Cho.

Cho sudah berkali-kali disarankan melakukan konseling psikologi karena
beberapa kali melakukan tindakan yang berbahaya dan ganjil (menguntit,
memotreti orang2 di kelas, dsb). Tapi kenyataanya, mereka tdk berhasil
"memaksa" Cho bertemu psikiater. Sakit yg dialami Cho, bisa jadi,
makin parah.
>    
>   Di koran2 disini orang2 men-cari2 alasan yang lain, diluar dari ke
'gila-annya, (psychopath), yang menjadikan dia melakukan pembunuhan2
tsb.  Satu alasan adalah karena dia di 'bully', karena mereka tidak
bisa mencari/mendapatkan alasan yang lain.  
>    
>   Allasan2 yang lain, umpamanya kemiskinan, tidak kena disini sebab
orang tuanya tinggal di perumahan upper middle class, menurut apa yang
saya baca di salah satu koran disini.
>    
>   Alasan mungkin karena dia malu karena bodoh, tidak juga kena,
sebab dia bisa masuk ke universitas.
>    
>   Alasan ke 'Asia' annya, juga tidak kena, sebab banyak sekali
orang2 asia yang sukses di Amrik. Bahkan valedictorians banyak yang
turunan Asia, proporsinya jauh lebih besar dari proporsi penduduk
Asia. Jadi satu2-nya yang bisa dibicarakan adalah 'bullying'.
>    
>   Arya: Cho juga adalah buah dari sebuah masyarakat yang tidak
beres. Komunitas yang menghakimi dan abai.
>    
>   Amartien: Dimana ada bukti bahwa di Amrik ada masyarakat yang
'menghakimi'?  Kalau di Indonesia sih banyak sudah bukti adanya
masyarakat/kelompok yang menghakimi --- contoh: FPI.
>    
>   Disini tidak ada gerombolan seperti FPI yang seenaknya bisa
memaksakan kehendak mereka ke orang lain dan dibiarkan oleh pemerintah.  

Sepertinya, Anda agak keliru memahami poin saya. Menghakimi tak hanya
yang ekstrem seperti menghakimi ala FPI. Orang2 di sekitar Cho
menghakimi Cho sebagai orang yang aneh. Mungkin juga menakutkan untuk
didekati. Karena itulah, tak ada yang berteman dengannya. 
>    
>   Kalau 'masyarakat yang tidak beres' salah satu ciri2-nya adalah
komunitas yang tidak beres dan abai, maka menurut kriteria anda tsb.,
maka masyarakat di Indonesia adalah masyarakat yang 'tidak beres dan
abai'.

Tentu saja. Masyarakat Indonesia juga tidak beres. Itulah mengapa
kasus IPDN bisa terjadi berkali kali. Kita abai terhadap hal2
tersebut. Kita abai terhadap fakta bahwa ada yang tdk beres terhadap
pendidikan kita. Tapi kita diam saja. Kita ignorant. Seolah olah,
semuanya baik-baik saja. Ketika ada kasus, kita lantas menuding oknum.

Kasus penembakkan di kampus/sekolah sudah berkali-kali terjadi. Bahkan
pola2 orang yang berpotensi seperti Cho ini sudah ada penelitian
tersendiri tentangnya. Orang Amerika entah mengapa kurang bisa belajar
terhadap ini. 
>    
>   Sayangnya, senjata genggam bisa dibeli di Amrik, dan ini yang
menimbulkan kematian2 yang seharusnya tidak terjadi, seperti halnya
dengan Cho.
>    
>   Kalau senjata2 seperti itu tidak bisa didapatkan di Amrik, maka
orang2 yang mengamuk seperti Cho hanya akan bisa menggunakan senjata2
yang tidak semudah untuk membunuh dibandingkan dengan gunds, seperti
pisau umpamanya.
>    
>   Kalau Cho itu hanya menggunakan pisau pada waktu dia mengamuk itu,
maka korban pastilah jauh lebih sedikit, bahkan mungkin saja tidak
akan ada korban yang mati.
>    

Nah, kembali ke pernyataan saya di atas. Entah mengapa Amerika seperti
terlambat menyadari hal ini. Sependek yang saya tahu, upaya untuk
mengurangi kegiatan bullying ini kurang bergema di sana. 

To make matter worse, di beberapa wilayah tertentu, senjata bisa
didapatkan dengan sangat mudah. Senjata yang Cho miliki pun, didapat
dengan legal. Mengapa bisa seperti itu?
Jelas sekali ada sesuatu yang tidak beres di sana. Persoalan tidak
akan selesai dengan menyalahkan si pelaku. "Oh, itu karena Cho sakit
jiwa". End of story. Tidak bisa seperti itu.

Setelah kasus ini, muncul suara2 untuk melakukan kontrol ketat
terhadap peredaran senjata api. Itu bagus. Sekalian juga kontrol
terhadap peredaran minuman keras juga harus diperketat. Pemberantasan
pemakaian narkoba juga. Tak kalah penting, menilik ulang juga budaya
kekerasan yang tergambarkan di film-film dan televisinya, misalnya?
Mengapa tidak? Semua faktor2 tersebut menurut saya berkait berkelindan
menyusun lapisan2 persoalan seperti mengurai lapisan bawang putih.

DIbutuhkan upaya komprehensif untuk mengatasi persoalan yang berulang
seperti ini. Karena persoalan tidak selesai dengan menyalahkan pelaku
dan kemudian bussiness as usual lagi. 

Juga bagi kita, kita sudah sepatutnya belajar juga dari kejadian ini.
Saya bukannya berharap hal ini juga terjadi di Indonesia, tapi sebagai
upaya preventif saja. Karena kita juga tdk steril terhadap kemungkinan
adanya kasus seperti ini.

Terimakasih.
Salam,
Arya
>    
>   


Kirim email ke