Kala? Menurut saya ini adalah film yang sangat brilian. Rasanya saya belum pernah lihat film Indonesia modern yang surealis seperti ini. Buat saya, Kala membuat warna baru dalam perfilman Indonesia. Tentang gagasan "liar" Joko, mungkin ini adalah sebuah bentuk kegelisahan Joko atas perfilman Indonesia yang cenderung monoton. Saya nggak melihat "keliaran" ini sebagai sesuatu yang negatif. Saya melihatnya ini sebagai suatu kepercayaan produser film untuk bernai membuat sesuatu yang extra ordinary. Memang extra ordinary, ditengah menjamurnya film-film bertema hantu, muncullah film surreal-thriller bikinan Joko ini. Anda bilang film ini mau ngomongin sejarah? I don't think so. This is just an exaggeration of rumors, dan sama sekali nggak dimaksudkan buat jadi film sejarah. Jangan-jangan anda salah nonton film... Soal berapa banyak yang nonton, hmmmmm... Ya jangan juga dibandingkan film ini dengan Nagabonar Jadi 2. Sebagaimana Nagabonar yang pertama, Nagabonar Jadi 2 adalah film komedi satir yang lebih mengikuti selera pasar, sedangkan Kala mempunyai segmen pasarnya sendiri yang lebih niche. But that does not make Kala is a bad movie. Bagus nggaknya sebuah film kan nggak (hanya) diukur dari penjualan karcis. Satu hal lagi yang saya cukup prihatin. Mas Handry beneran baca review film atau at least baca poster film ini nggak sih? Kalau iya, mestinya tahu dong, ini film untuk dewasa, kok nontonnya bawa anak. Well, ini dengan asumsi bahwa anak Mas Hendry masih dibawah 21 tahun ya. Salut buat Joko! Chorie Arland Posted by: "Handry Utomo" <mailto:[EMAIL PROTECTED]> [EMAIL PROTECTED] Mon Apr 23, 2007 6:32 pm (PST) Pekan lalu, di milis ini ada yang memuji setinggi langit tentang film Kala-nya Joko ANwar. Saya apreciate banget, karena sang sutradara tampil meyakinkan di film pertamanya, Janji Joni. Saya coba buka website-nya, siapa tahu ada. Eh, nggak ada ternyata. Saya nonton sama anak dan istri, saya yakinkan ini film bagus, generasi masyarakat film indonesia terkini.
Scene demi scene kunikmati. Yahud, gambarnya oke, pencahayaannya ehm, editing, special effect boleh. Pada tengah durasi, baru terasa memblenya. Pemainnya cannggung, adegan-adegannya "imitatif" dan kamuflase semua. Ini film dibuat berdasarkan nonton film. Artinya, sutradara sudah kebanyakan nonton film (Hollywood, terutama). Jadi, adegan-adegan kayak filmnya Francis Ford Coppola jago banget. Tapi soulnya, aduh aku malu. Adegan scene kiss antara Fachri dan Shanti, kelihatan sok agresif tapi masng-masing kayak "ogah" total. Fachri terjun dari atas gedung disertai kepak sayap kelelawar, lazim di film-fil suspens Barat. Maunya nngomong sejarah, kok jatuhnya Xena. Wah, wah, wah, sayang. Sutradara sehebat Joko ANwar dibiarkan "liar" dengan gagasannya." Maklum anak muda. Mungkin janji Joni akan seperti itu kalau bukan di bawah naungan Kalyana Shira Film. Nia Dinata pasti nggak akan memberi cek kosong ke Joko Anwar, kalau tak ingin tekor. Di kotaku, film Kala cuma ditonton nggak lebih 15 orang tiap show-nya entah sampai hari ke berapa. Dio sampingnya, film nagabonar Jadi 2 malah masih antre menolak penonton. Sayang Mas Joko, bakat Anda mesti digabung dengan yang lain. Misalnya, skenario dan pengkastingan nggak mesti diborong semua. Gambarmu sudah bagus lho, tapi plotnya nggak cuma jelek. Tapi jueleeek banget. htm ************************************************************** Caution - This e-mail and its contents contain privileged information that is intended solely for the recipient. If you are not the intended recipient as evidenced by the salutation and/or content you are hereby notified that any use, dissemination, distribution or reproduction of this e-mail is prohibited. If you have received this e-mail in error please notify the Postmaster at [EMAIL PROTECTED] immediately. Any views expressed in this e-mail are of the sender and may not necessarily reflect the views of Indo Pacific Reputation Management Consultants. **************************************************************
