'Kala' berbeda. Sangat berbeda. 
Menonton film Joko seperti sedang membaca buku atau cergam, imajinasiku hidup.
Btw, ini film ketiga. 'Arisan' adalah yang pertama. Yang bilang bukan pasti 
sedang berbohong.
Aku menunggu sequel petualangan trio Janus, Eros dan Ranti walaupun katanya 
tidak komersil dan segera akan ditarik dari bioskop. Bukan ide yang jelek untuk 
bikin versi cergamnya ...
Lagipula, pemilihan pemainnya luar biasa cermat. Aku bisa melihat "tokoh-tokoh 
kontroversial bangsa ini" di dalamnya hehehe

bby

  ----- Original Message ----- 
  From: Edwin Irvanus 
  To: Media Care 
  Sent: Tuesday, April 24, 2007 8:48 PM
  Subject: [mediacare] Re:Film Kala menurutku



  Di bawah postini ini aku forwardkan sebuah review Kala. Kalo ini bukan 
menurutku, tetapi menurut salah satu penulis lain.

  Ternyata berempati dengan isi kepala masyarakat memang bisa banyak faedahnya, 
setidaknya ketika ada film yang dibuat dalam bahasa masyarakat, kita jadi tidak 
asing melihatnya...

  Oh iya kalau soal storytelling, ada lagi yang mengomentari Kala, mungkin 
silakan saja dibaca di www.pakde.com

  Ah sutralah...


  EwinK
  http://ewink.blogspot.com



  ----- Forwarded Message ----
  From: mumu_aloha <[EMAIL PROTECTED]>
  To: [EMAIL PROTECTED]
  Sent: Tuesday, April 24, 2007 11:44:05 AM
  Subject: [dunia-film] Re: KALA: The Best "Ciluk Baaaa!"??



  boleh ya, ikut berbagi pengalaman nonton....

  Ketika Golum Bertemu Lara Croft: 
  Sebuah Model untuk (Memahami) Indonesia?

  Begitu makluk berwarna putih berwajah seram itu muncul, partner 
  nonton saya mencengkeram lengan saya dengan geram.

  "Tuh, kan film horor kan, ih bete deh," nada suaranya menyiratkan 
  kemarahan seorang yang sedang merasa tertipu.

  Cukup repot juga saya menjelaskan, bahwa makluk itu (pasti) bukanlah 
  hantu --belakangan, teman saya, cerpenis Ucu Agustin yang sangat 
  piawai mendongeng, menyebutnya manusia terigu-- dan, ini bukan film 
  horor. Tapi, seterusnya, berkali-kali makluk itu muncul lagi, 
  membuat teman saya makin marah (bukan pada filmnya, tapi pada saya 
  yang mengajaknya nonton). Saya mulai putus asa --bagaimana 
  menjelaskannya?

  Film terbaru Joko Anwar, Kala memang sesuatu yang baru dalam sejarah 
  perfilman Indonesia. Sulit --untuk tak bilang tak ada-- mencari 
  presedennya. Untuk pertama kalinya, seorang sineas di Tanah Air 
  dengan sadar menciptakan sebuah "dunia alternatif" --sebuah model-- 
  untuk memotret dan memahami "realitas".

  Orang bisa saja mengetahui --dari berbagai pemberitaan di koran-- 
  bahwa film ini berlokasi syuting di kota lama Semarang dan Ambarawa. 
  Tapi, cerita filmnya sendiri sama sekali tak menyebut nama tempat. 
  Kalau situs 21cineplex.com bisa dianggap mewakili pihak produser, 
  maka kita ikuti saja klaim bahwa film ini bercerita tentang sebuah 
  negeri tak bernama. Tapi, adakah yang benar-benar tak bernama, Tuan-
  tuan dan Puan-puan?

  Sejak adegan pembuka, sulit bagi penonton untuk tak mengasosiaskan 
  bahwa (negeri) itu tak lain Indonesia. Dua orang polisi berada di 
  lokasi kejadian pembakaran lima lelaki yang diteriaki pencuri oleh 
  massa. Bukankah itu mengingatkan kita pada tindakan main hakim 
  sendiri yang beberapa waktu lalu sempat marak di Jakarta? Dari 
  sinilah, cerita berkembang, menjadi sebuah potret --yang diambil 
  dari sudut gelap-- tentang Indonesia masa kini.

  Tapi, jangan bayangkan sebuah film yang --layaknya Marsinah tempo 
  hari-- memindahkan mentah-mentah realitas ke dalam bahasa gambar, 
  hingga jadinya sebuah reportase yang pucat dan membosankan. Juga, 
  jangan bayangkan sebuah film --yang layaknya Ekspedisi Madewa-- yang 
  sebenarnya cukup berpotensi menjadi model alternatif untuk menatap 
  keindonesiaan kita masa kini, namun terjebak dalam formula yang 
  klise, sehingga hasilnya tak lebih daripada banyolan yang tak lucu.

  Kala adalah lompatan yang tinggi, yang barangkali selama ini hanya 
  ada dalam khalayan nakal naluri kanak-kanak kita. Apa jadinya kalau 
  Gatotkaca bertemu Spiderman? Seru kali ya kalau perempuan-perempuan 
  perkasa dalam Underworld atau manusia-manusia kate dalam Lord of the 
  Rings berada dalam satu frame dengan Joko Geledek atau Gundala Putra 
  Petir. Pada sastra, orang sudah lama melakukannya. Ingatkah Tuan-
  tuan dan Puan-puan pada (cerpen-cerpen) Danarto, dan belakangan 
  teman saya yang sudah saya sebut namanya di atas?

  Begitulah, Kala merengkuh "realitas" yang dekat, tapi sekaligus 
  menepisnya jauh-jauh. Ia menghadirkan sesuatu yang masih lekat dalam 
  ingatan kita, tapi memilih untuk tidak menamainya. Tapi tidak. Tak 
  ada yang pernah benar-benar tak bernama. Ia memotret wajah yang 
  jelas-jelas Indonesia, tapi (menyamarkan dengan cara) dengan keras 
  menolak untuk "menjadi Indonesia".

  Ibu-ibu yang muncul dari kegelapan di TKP itu, berbicara dalam 
  tradisi orang Barat. Tanpa ditanya, ketika pak polisi Eros (Ario 
  Bayu) yang ganteng datang, ia langsung menyergah, "Ogoh-ogoh!" Lalu, 
  dengan gaya yang sok-asik dan sok-akrab, ibu-ibu itu meminta rokok 
  pada pak polisi itu dan terjadilah obrolan yang berat: ibu-ibu itu 
  menuturkan teori akumulasi kemarahan yang melahirkan kekerasan dalam 
  masyarakat.

  Namun, kalau tadi saya bilang, "ibu-ibu itu...berbicara dalam 
  tradisi orang Barat"...apa sebenarnya tradisi? Apa itu Barat? Apa 
  itu (ke)Indonesia( an)? Joko memutuskan untuk tak peduli, dan dia 
  bisa jadi benar. Mungkin ketakpedulian itu pula yang mendasarinya 
  untuk agak genit menempelkan identitas gay --meskipun tak secara 
  eksplisit-- kepada tokoh Eros.

  "Nggak penting banget deh, apa kaitannya dengan cerita?" keluh 
  partner nonton saya tadi, yang agaknya mulai bisa melupakan --
  atau "menerima"?- - tokoh si manusia terigu (Jose Rizal Manua). Ah, 
  bagaimana menjelaskannya?

  Bagi saya, ini sama dengan ketika tim pujangga yang ditunjuk oleh 
  Paku Buwana V menyelipkan adegan-adegan seks sesama laki-laki dalam 
  satu-dua lembar dari beribu lembar naskah Centhini. Sebuah impian 
  masa depan tentang masyarakat yang ideal, di mana berbagai perbedaan 
  (termasuk atribut-atribut seksual) tak (perlu) lagi dipersoalkan?

  Yang jelas, sebagai sebuah model, Kala menjadi leluasa untuk 
  memungkinkan segalanya. Sosok manusia terigu yang datang dan pergi 
  itu menjadi tak bermasalah dengan logika. Demikian juga tokoh Ranti 
  (Fahrani) yang penyanyi kafe itu, yang pada akhir cerita digambarkan 
  dengan sangat keren sebagai pendekar perkasa, dengan pedang di 
  tangan, berdiri di atas reruntuhan candi dan meluncur setengah 
  terbang menyerang musuhnya.

  Joko meramu kenyataan dan fantasi, fakta dan dongeng, sejarah dan 
  (impian) masa depan.

  Tokoh(-tokoh) dibuat se-real mungkin, dan disengaja untuk memancing 
  emosi-asosiatif penonton, misalnya menteri pariwisata. Namun, pada 
  saat yang sama tokoh(-tokoh) itu dibuat segila mungkin: rakus, 
  kejam, irasional. Realitas, di tangan Joko, hanyalah impuls bagi 
  ide, untuk kemudian dengan kreatif ia kembangkan menjadi sebuah 
  dunia yang lain, yang serba aneh, dingin, sunyi, mencekam, yang 
  seolah-olah tak memiliki sambungan dengan kenyataan-kekinian, tapi 
  membuat kita justru (semakin) yakin: hei, itu kan wajah kita sendiri!

  Cermin, Tuan, cermin, Puan. Ya, barangkali film ini adalah cermin. 
  Sepanjang film, penonton seperti dituntun untuk mengunjungi jejak-
  jejak memori kolektif bangsanya sendiri atas mitos-mitos dan isu-isu 
  yang selalu kembali seperti gema: dana revolusi, menteri agama yang 
  memerintahkan penggalian lokasi harta karun, sampai Ratu Adil juga.

  Ya, ya, bukankah hal yang paling tak bisa dipercaya dari bangsa ini 
  adalah sejarahnya?

  Dan, Kala menawarkan formula (baru) untuk memahaminya.

  "Iiih keren bangeeet," seru partner nonton saya, ketika Ranti 
  menancapkan pedangnya ke tanah dan menjatuhkan tubuhnya, berlutut di 
  depan Eros.

  Nah, sekarang sudah jelas bukan, bahwa tak perlu penjelasan apapun 
  untuk membuat dia melupakan makluk putih itu, si monster terigu itu, 
  atau siapalah dia! Gantian saya yang kemudian jadi kepikiran: saya 
  teringat ibu-ibu yang pintar tadi. Tiba-tiba dia terasa begitu logis 
  di antara yang tak logis, dan dengan demikian justru terasa 
  mengganjal.

  Dan, hei, bukankah masih ada satu ibu-ibu lagi, yang juga anomim, 
  yang juga muncul begitu saja, dan memberi banyak menjelasan penting 
  untuk menyambung alur cerita? Ternyata Joko tak benar-benar tak 
  peduli. Atau, untuk tak peduli sebenarnya butuh "ketahanan mental" 
  yang besar? Teori cerdas dan berbagai penjelasan dari tokoh-tokoh 
  anonimus itu seperti menjungkirkan dunia alternatif yang sedari awal 
  dibangun Joko dengan rapi.

  Menjadi "anti intelek" --dengan menciptakan tokoh-tokoh yang membuat 
  wartawan Kompas gelisah ("Apa maunya hantu merangkak yang selalu 
  muncul tiba-tiba untuk menakut-nakuti? Untuk mencipta misteri atau 
  atas nama seni?"), ternyata sulit juga. Dan, Joko tak tahan untuk 
  tak berkomentar, dengan menampilkan tokoh ibu-ibu jalanan yang 
  mungkin penjelmaan sosiolog UI.

  Pada akhirnya, Kala adalah sebuah film tentang ide, gagasan, mungkin 
  tentang sejarah, mungkin yang lain, yang jelas itu ide atau gagasan 
  besar. Tokoh-tokoh, dengan segala karakterisasinya yang kuat --
  misalnya seorang wartawan yang si penidur-- digerakkan untuk 
  mendukung penyampaian ide besar itu.

  Lalu, di manakah manusia di ide itu? Kita tak pernah tahu, misalnya, 
  apa yang terjadi ketika si penidur itu (ter)tidur? Kita hanya 
  (diberi) tahu, setiap kali ia menghadapi ketegangan, ia terkulai, 
  tidur lalu cut to adegan lain, dan ketika cut to lagi, kita lihat 
  dia tengah merangkak bangkit.

  Realitas direduksi ke dalam ide, dan pada gilirannya mereduksi 
  (atau, jangan-jangan menghilangkan) manusia.

  Teman saya sibuk SMS-an sambil sesekali manggut-manggut biar 
  terlihat bahwa ia masih mendengarkan saya.

  salam,
  mumu
  http://mumualoha. blogspot. com

  --- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, minan ali <[EMAIL PROTECTED] ..> wrote:
  >
  > Saya kecewa dengan film kedua Joko Anwar, "Kala". Mungkin ini 
  karena saya berharap terlalu banyak darinya, bahwa akhirnya muncul 
  film hebat produksi priboemi tanpa harus diembel-embeli "standar 
  Indonesia" lagi. 
  > 
  > Saya seratus persen setuju pembelaannya atas kritikan bahwa "Kala" 
  terlalu kebarat-baratan. Joko bilang (kurang-lebih) , "Apa salahnya 
  kebarat-baratan? Orang Barat bikin film kungfu tidak ada yang 
  meributkannya ketimur-timuran! " Ya, Joko benar sekali! Membaca ini 
  di blognya membuat saya makin bergairah berangkat menonton filmnya.
  > 
  > Tapi ternyata, tega betul Joko Anwar yang aku kagumi melukai 
  logika yang lemah ini, ihk! Kenapa penulis sekelas Joko ternyata 
  juga doyan menggunakan adegan-adegan kodian untuk mencoba bikin 
  kaget penikmat ceritanya? (... si tokoh lagi santai, ketika menoleh 
  dan kamera geser dikit ternyata, ciluk baaaaa, ada hantunya! Hih, 
  entah kenapa saya kok sudah kebal dengan adegan macam begini. Tidak 
  adakah pilihan lain selain pakem jadul ini?)
  > 
  > Yang paling mengecewakan mungkin ketika ia gunakan elemen "hantu 
  serba bisa" untuk menjelaskan adegan-adegan tak masuk akal. Menurut 
  saya ini semacam metode "nyari gampangnya". Apa mungkin ini gara-
  gara saya terlalu terobsesi genre film macam "Silence of the lamb", 
  entahlah. 
  > 
  > Aku sungguh jadi rindu datangnya another "Janji Joni" biarpun Joko 
  mengecapnya sendiri dengan label "rendah teknologi" karena di film 
  Joko yang "tinggi teknologi" ....
  > 
  >







------------------------------------------------------------------------------
  Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
  Check out new cars at Yahoo! Autos. 

   

Kirim email ke