Di bawah postini ini aku forwardkan sebuah review Kala. Kalo ini bukan 
menurutku, tetapi menurut salah satu penulis lain.

Ternyata berempati dengan isi kepala masyarakat memang bisa banyak faedahnya, 
setidaknya ketika ada film yang dibuat dalam bahasa masyarakat, kita jadi tidak 
asing melihatnya...

Oh iya kalau soal storytelling, ada lagi yang mengomentari Kala, mungkin 
silakan saja dibaca di www.pakde.com

Ah sutralah...
 
EwinK
  http://ewink.blogspot.com


----- Forwarded Message ----
From: mumu_aloha <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, April 24, 2007 11:44:05 AM
Subject: [dunia-film] Re: KALA: The Best "Ciluk Baaaa!"??









  


    
            

boleh ya, ikut berbagi pengalaman nonton....



Ketika Golum Bertemu Lara Croft: 

Sebuah Model untuk (Memahami) Indonesia?



Begitu makluk berwarna putih berwajah seram itu muncul, partner 

nonton saya mencengkeram lengan saya dengan geram.



"Tuh, kan film horor kan, ih bete deh," nada suaranya menyiratkan 

kemarahan seorang yang sedang merasa tertipu.



Cukup repot juga saya menjelaskan, bahwa makluk itu (pasti) bukanlah 

hantu --belakangan, teman saya, cerpenis Ucu Agustin yang sangat 

piawai mendongeng, menyebutnya manusia terigu-- dan, ini bukan film 

horor. Tapi, seterusnya, berkali-kali makluk itu muncul lagi, 

membuat teman saya makin marah (bukan pada filmnya, tapi pada saya 

yang mengajaknya nonton). Saya mulai putus asa --bagaimana 

menjelaskannya?



Film terbaru Joko Anwar, Kala memang sesuatu yang baru dalam sejarah 

perfilman Indonesia. Sulit --untuk tak bilang tak ada-- mencari 

presedennya. Untuk pertama kalinya, seorang sineas di Tanah Air 

dengan sadar menciptakan sebuah "dunia alternatif" --sebuah model-- 

untuk memotret dan memahami "realitas".



Orang bisa saja mengetahui --dari berbagai pemberitaan di koran-- 

bahwa film ini berlokasi syuting di kota lama Semarang dan Ambarawa. 

Tapi, cerita filmnya sendiri sama sekali tak menyebut nama tempat. 

Kalau situs 21cineplex.com bisa dianggap mewakili pihak produser, 

maka kita ikuti saja klaim bahwa film ini bercerita tentang sebuah 

negeri tak bernama. Tapi, adakah yang benar-benar tak bernama, Tuan-

tuan dan Puan-puan?



Sejak adegan pembuka, sulit bagi penonton untuk tak mengasosiaskan 

bahwa (negeri) itu tak lain Indonesia. Dua orang polisi berada di 

lokasi kejadian pembakaran lima lelaki yang diteriaki pencuri oleh 

massa. Bukankah itu mengingatkan kita pada tindakan main hakim 

sendiri yang beberapa waktu lalu sempat marak di Jakarta? Dari 

sinilah, cerita berkembang, menjadi sebuah potret --yang diambil 

dari sudut gelap-- tentang Indonesia masa kini.



Tapi, jangan bayangkan sebuah film yang --layaknya Marsinah tempo 

hari-- memindahkan mentah-mentah realitas ke dalam bahasa gambar, 

hingga jadinya sebuah reportase yang pucat dan membosankan. Juga, 

jangan bayangkan sebuah film --yang layaknya Ekspedisi Madewa-- yang 

sebenarnya cukup berpotensi menjadi model alternatif untuk menatap 

keindonesiaan kita masa kini, namun terjebak dalam formula yang 

klise, sehingga hasilnya tak lebih daripada banyolan yang tak lucu.



Kala adalah lompatan yang tinggi, yang barangkali selama ini hanya 

ada dalam khalayan nakal naluri kanak-kanak kita. Apa jadinya kalau 

Gatotkaca bertemu Spiderman? Seru kali ya kalau perempuan-perempuan 

perkasa dalam Underworld atau manusia-manusia kate dalam Lord of the 

Rings berada dalam satu frame dengan Joko Geledek atau Gundala Putra 

Petir. Pada sastra, orang sudah lama melakukannya. Ingatkah Tuan-

tuan dan Puan-puan pada (cerpen-cerpen) Danarto, dan belakangan 

teman saya yang sudah saya sebut namanya di atas?



Begitulah, Kala merengkuh "realitas" yang dekat, tapi sekaligus 

menepisnya jauh-jauh. Ia menghadirkan sesuatu yang masih lekat dalam 

ingatan kita, tapi memilih untuk tidak menamainya. Tapi tidak. Tak 

ada yang pernah benar-benar tak bernama. Ia memotret wajah yang 

jelas-jelas Indonesia, tapi (menyamarkan dengan cara) dengan keras 

menolak untuk "menjadi Indonesia".



Ibu-ibu yang muncul dari kegelapan di TKP itu, berbicara dalam 

tradisi orang Barat. Tanpa ditanya, ketika pak polisi Eros (Ario 

Bayu) yang ganteng datang, ia langsung menyergah, "Ogoh-ogoh!" Lalu, 

dengan gaya yang sok-asik dan sok-akrab, ibu-ibu itu meminta rokok 

pada pak polisi itu dan terjadilah obrolan yang berat: ibu-ibu itu 

menuturkan teori akumulasi kemarahan yang melahirkan kekerasan dalam 

masyarakat.



Namun, kalau tadi saya bilang, "ibu-ibu itu...berbicara dalam 

tradisi orang Barat"...apa sebenarnya tradisi? Apa itu Barat? Apa 

itu (ke)Indonesia( an)? Joko memutuskan untuk tak peduli, dan dia 

bisa jadi benar. Mungkin ketakpedulian itu pula yang mendasarinya 

untuk agak genit menempelkan identitas gay --meskipun tak secara 

eksplisit-- kepada tokoh Eros.



"Nggak penting banget deh, apa kaitannya dengan cerita?" keluh 

partner nonton saya tadi, yang agaknya mulai bisa melupakan --

atau "menerima"?- - tokoh si manusia terigu (Jose Rizal Manua). Ah, 

bagaimana menjelaskannya?



Bagi saya, ini sama dengan ketika tim pujangga yang ditunjuk oleh 

Paku Buwana V menyelipkan adegan-adegan seks sesama laki-laki dalam 

satu-dua lembar dari beribu lembar naskah Centhini. Sebuah impian 

masa depan tentang masyarakat yang ideal, di mana berbagai perbedaan 

(termasuk atribut-atribut seksual) tak (perlu) lagi dipersoalkan?



Yang jelas, sebagai sebuah model, Kala menjadi leluasa untuk 

memungkinkan segalanya. Sosok manusia terigu yang datang dan pergi 

itu menjadi tak bermasalah dengan logika. Demikian juga tokoh Ranti 

(Fahrani) yang penyanyi kafe itu, yang pada akhir cerita digambarkan 

dengan sangat keren sebagai pendekar perkasa, dengan pedang di 

tangan, berdiri di atas reruntuhan candi dan meluncur setengah 

terbang menyerang musuhnya.



Joko meramu kenyataan dan fantasi, fakta dan dongeng, sejarah dan 

(impian) masa depan.



Tokoh(-tokoh) dibuat se-real mungkin, dan disengaja untuk memancing 

emosi-asosiatif penonton, misalnya menteri pariwisata. Namun, pada 

saat yang sama tokoh(-tokoh) itu dibuat segila mungkin: rakus, 

kejam, irasional. Realitas, di tangan Joko, hanyalah impuls bagi 

ide, untuk kemudian dengan kreatif ia kembangkan menjadi sebuah 

dunia yang lain, yang serba aneh, dingin, sunyi, mencekam, yang 

seolah-olah tak memiliki sambungan dengan kenyataan-kekinian, tapi 

membuat kita justru (semakin) yakin: hei, itu kan wajah kita sendiri!



Cermin, Tuan, cermin, Puan. Ya, barangkali film ini adalah cermin. 

Sepanjang film, penonton seperti dituntun untuk mengunjungi jejak-

jejak memori kolektif bangsanya sendiri atas mitos-mitos dan isu-isu 

yang selalu kembali seperti gema: dana revolusi, menteri agama yang 

memerintahkan penggalian lokasi harta karun, sampai Ratu Adil juga.



Ya, ya, bukankah hal yang paling tak bisa dipercaya dari bangsa ini 

adalah sejarahnya?



Dan, Kala menawarkan formula (baru) untuk memahaminya.



"Iiih keren bangeeet," seru partner nonton saya, ketika Ranti 

menancapkan pedangnya ke tanah dan menjatuhkan tubuhnya, berlutut di 

depan Eros.



Nah, sekarang sudah jelas bukan, bahwa tak perlu penjelasan apapun 

untuk membuat dia melupakan makluk putih itu, si monster terigu itu, 

atau siapalah dia! Gantian saya yang kemudian jadi kepikiran: saya 

teringat ibu-ibu yang pintar tadi. Tiba-tiba dia terasa begitu logis 

di antara yang tak logis, dan dengan demikian justru terasa 

mengganjal.



Dan, hei, bukankah masih ada satu ibu-ibu lagi, yang juga anomim, 

yang juga muncul begitu saja, dan memberi banyak menjelasan penting 

untuk menyambung alur cerita? Ternyata Joko tak benar-benar tak 

peduli. Atau, untuk tak peduli sebenarnya butuh "ketahanan mental" 

yang besar? Teori cerdas dan berbagai penjelasan dari tokoh-tokoh 

anonimus itu seperti menjungkirkan dunia alternatif yang sedari awal 

dibangun Joko dengan rapi.



Menjadi "anti intelek" --dengan menciptakan tokoh-tokoh yang membuat 

wartawan Kompas gelisah ("Apa maunya hantu merangkak yang selalu 

muncul tiba-tiba untuk menakut-nakuti? Untuk mencipta misteri atau 

atas nama seni?"), ternyata sulit juga. Dan, Joko tak tahan untuk 

tak berkomentar, dengan menampilkan tokoh ibu-ibu jalanan yang 

mungkin penjelmaan sosiolog UI.



Pada akhirnya, Kala adalah sebuah film tentang ide, gagasan, mungkin 

tentang sejarah, mungkin yang lain, yang jelas itu ide atau gagasan 

besar. Tokoh-tokoh, dengan segala karakterisasinya yang kuat --

misalnya seorang wartawan yang si penidur-- digerakkan untuk 

mendukung penyampaian ide besar itu.



Lalu, di manakah manusia di ide itu? Kita tak pernah tahu, misalnya, 

apa yang terjadi ketika si penidur itu (ter)tidur? Kita hanya 

(diberi) tahu, setiap kali ia menghadapi ketegangan, ia terkulai, 

tidur lalu cut to adegan lain, dan ketika cut to lagi, kita lihat 

dia tengah merangkak bangkit.



Realitas direduksi ke dalam ide, dan pada gilirannya mereduksi 

(atau, jangan-jangan menghilangkan) manusia.



Teman saya sibuk SMS-an sambil sesekali manggut-manggut biar 

terlihat bahwa ia masih mendengarkan saya.



salam,

mumu

http://mumualoha. blogspot. com



--- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, minan ali <[EMAIL PROTECTED] ..> wrote:

>

> Saya kecewa dengan film kedua Joko Anwar, "Kala". Mungkin ini 

karena saya berharap terlalu banyak darinya, bahwa akhirnya muncul 

film hebat produksi priboemi tanpa harus diembel-embeli "standar 

Indonesia" lagi. 

> 

> Saya seratus persen setuju pembelaannya atas kritikan bahwa "Kala" 

terlalu kebarat-baratan. Joko bilang (kurang-lebih) , "Apa salahnya 

kebarat-baratan? Orang Barat bikin film kungfu tidak ada yang 

meributkannya ketimur-timuran! " Ya, Joko benar sekali! Membaca ini 

di blognya membuat saya makin bergairah berangkat menonton filmnya.

> 

> Tapi ternyata, tega betul Joko Anwar yang aku kagumi melukai 

logika yang lemah ini, ihk! Kenapa penulis sekelas Joko ternyata 

juga doyan menggunakan adegan-adegan kodian untuk mencoba bikin 

kaget penikmat ceritanya? (... si tokoh lagi santai, ketika menoleh 

dan kamera geser dikit ternyata, ciluk baaaaa, ada hantunya! Hih, 

entah kenapa saya kok sudah kebal dengan adegan macam begini. Tidak 

adakah pilihan lain selain pakem jadul ini?)

> 

> Yang paling mengecewakan mungkin ketika ia gunakan elemen "hantu 

serba bisa" untuk menjelaskan adegan-adegan tak masuk akal. Menurut 

saya ini semacam metode "nyari gampangnya". Apa mungkin ini gara-

gara saya terlalu terobsesi genre film macam "Silence of the lamb", 

entahlah. 

> 

> Aku sungguh jadi rindu datangnya another "Janji Joni" biarpun Joko 

mengecapnya sendiri dengan label "rendah teknologi" karena di film 

Joko yang "tinggi teknologi" ....

> 

>





    
  

    
    




<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a {
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc {
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o {font-size:0;}
.MsoNormal {
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq {margin:4;}
-->







__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke