ISRAEL HIIII.... Kalo kita masih percaya ma UUD 45 ya disitu kan ada paragraf yang anti penjajahan. Nah Israel itu kan menjajah. Gitu makane Indonesia ga mau berdiplomatik ma Israel. Jadi dasarnya adalah UUD negara kita, bukan asumsi dan perspektif para pemimpin negara. Jadi kalo hubungan diplomatik dilihat dari sudut pandang agama (kaya mbak ayu ini jg ikut-ikutan), ya ga bakal beres urusan di negara ini. Liat dong untung ruginya, kalo kita berhubungan dengan israel habis itu Abrahamovich taruh invest di PSIS ya gpp sih.. Kalo masalah kerugian kalo dubes israel ke sini... ya jelas rugi. 1. Kita dipandang pengkhianat dan plinplan oleh negara-negara muslim. 2. Rugi harga diri juga kita dah terlanjur didenda oleh ITF gara2 ga ngirim tim tenis ke israel. 3. Jalan macet karena banyak demo.. belum lagi kalo anarkis, gimana coba?? 4. Menghabiskan energi untuk sesuatu yang ga penting (emang kl kita buka hub dg israel kt jadi makmur po?) ya gitu aja sih pikiran saya.. simpel. gitu aja kok repot. prinsip ekonomi dong.
----- Original Message ---- From: radenayu asli <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, April 24, 2007 5:24:06 PM Subject: [mediacare] Emangnya Kenapa? - Re: Dubes Israel di Indonesia ?? Saya heran, mengapa kita begitu alergi terhadap Israel?!!!Saya rasa Gus Dur adalah pemimpin kita yang paling arif ketika beberapa tahun lalu ia menyatakan akan buka hubungan dagang dengan Israel. Itu sudah tepat! Kenapa kita tidak membuka hubungan diplomatik, sementara Mesir yang pernah berperang dengan Israel mempunyai hubungan diplomatik, begitu juga Yordania dan beberapa negara Timur Tengah lainnya. Mendengar dari beberapa kawan Nasrani, kalau ada fihak yang harus membenci Israel adalah kaum Nasrani, sebab Israel yang menyalibkan Nabi Isa. Sementara Palestina sendiri adalah negara sekular. Kelompok garis keras dalam gerakan kemerdekaan Palestina, George Habbash adalah seorang Kristiani, Dubes Palestina untuk PBB Dr. Terzi juga Kristiani, isteri pejuang Palestina Yasser Arafat adalah perempuan Kristen. Lalu...lalu. .lalu, kita seperti katak dalam tempurung. Tidak melihat kenyataan-kenyataan itu seperti beberapa negara Timur Tengah. Jadi kita berpikiran sempit. Jadi kalau ada Dubes Israel berkunjung ke negeri kita, memangnya apa yang merugikan kita? Salam kebangsaan, RA --- debbie sumual <debbie_sumual@ yahoo.com> wrote: > So what Bapak Satrio? Tujuan Anda berepot-repot > search di Wikipedia itu apa? Dengan judul imel Anda: > Dubes Israel di Indonesia, itu kan stupido sekali.. > Udah jelas dia Dubes AS. Emang hebat provokator. > > Di Amerika, puluhan juta warganya memeluk > Judaisme, sama seperti Kristen, Islam, Kabalah, dan > aneka ragam sekte. Kok kayaknya Judaisme itu sesuatu > yg aneh sampai Anda harus menuliskannya dengan huruf > tebal? Dan banyak warga Amrik yg dwi-warganegara, > jadi tolong well-informed dikit. > > Dan seperti kata Pak Mod, tidak semua keturunan > Yahudi berasal dari Israel. Wah, gaul dong, Pak! > Bisa aja dari Eropa Timur, Iran (Iran, nih!), > Mediterania atau Eropa lainnya macam Belanda atau > Belgia. Nah, itu di wikipedia disebutkan bahwa > orangtuanya keturunan Polandia. Heran deh, kalau > denger Yahudi, langsung dipikirnya orang Israel > *geleng2 kepala* > > Soal komentar Dewi Fortuna Anwar, ya sah2 aja. > Emang bener kali, ya udah. Gini ya Mas... negara > mana sih yang paling hebat korupsinya? Indonesia, > kan? Jadi ya kalo Wolfowitz kurang gagah dalam > memerangi korupsi, ya gimana orang negaranya gak > korup. KITA NEEHHH.... Orang kita yang punya > masalah, kok menuntut orang lain yg memerangi. Gila > kali yee... > > Debbie > > radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: > Sepertinya antara subyek dan data dari > wikipedia kok nggak nyambung ya? > Perihal "dual citizenship" , siapa saja yang lahir > di AS, walau orang tuanya bukan WN AS, otomatis dia > jadi WN AS. > Contohnya seperti Bu Wita (putrinya Pak Soedarpo > Sastrosatomo) , Nela (putri pak Taufik > Abdullah/istrinya Cholid mantan wartawan Tempo) dan > ribuan orang Indonesia lainnya. > > Kalau tak salah ada batasan umur hingga 17 tahun > untuk memilih salah satu kewarga negaraan. Kebetulan > Paul Wolfowitz memilih jadi WN AS, bukan Israel. > Saya sendiri kurang yakin kalau orang tua Paul - > walau Yahudi - adalah asal Israel. Siapa tahu > imigran dari negara lain (misal Eropa Timur) yang > langsung ke AS? Kalau dinalar, ada yang janggal/ Itu > kalau melihat dia kelahiran tahun 1943 di Ithaca. > Israel berdiri tahun berapa coba? > > Atau barangkali Mas Satrio yang memasukkan > data-data Paul tersebut ke wikipedia? Seperti halnya > data "prestasi" Anda yang juga dimasukkan ke situs > itu? Kalau bukan Anda, pasti orang iseng..... > > > > Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@ yahoo.com> > wrote: > > Dari milis ismes (mungkin penting juga buat para > jurnalis): > > Rekans, > > Selama ini selalu muncul pro dan kontra ttg masalah > hubungan Indonesia - Israel. > Ternyata... pada tahun 80an seorang warga Israel > menjadi Dubes di Indonesia. > Dan ... menarik juga disimak komentar Prof. Dr. Dewi > Fortuna Anwar ... > > Perhatikan data-data di bawah ini: > > Paul Dundes Wolfowitz (b. December 22, 1943) is an > American academic and political figure. He is > currently the President of the World Bank. A former > aide to Democratic Senator Henry M. Jackson in the > 1970s, Wolfowitz also served in the U.S. Defense > Department, as Director of Policy Planning and > Assistant Secretary of State for East Asian and > Pacific Affairs at the U.S. State Department, as > U.S. Ambassador to Indonesia, and as Deputy > Secretary of Defense in the Administration of George > W. Bush. Wolfowitz has dual citizenship in both the > US and Israel. > > Born: December 22, 1943 Ithaca, New York, USA > Residence: Chevy Chase, Maryland > Office: 10th President of the World Bank > Term: 1 June 2005 – Predecessor James Wolfensohn > Religion: Judaism > Salary: $302,470 USD > Children: Sara, David, Rachel > Spouse: Clare Selgin Wolfowitz (1968-2002) > Website: http://www.worldban k.org/ > > From 1986-89 Wolfowitz was the U.S. Ambassador to > the Republic of Indonesia while General Suharto was > president. > > Former foreign policy adviser Dewi Fortuna Anwar > told ABC News that Ambassador Wolfowitz "was > extremely able and very much admired and well-liked > on a personal level, but he never intervened to push > human rights or stand up to corruption." > > SUMBER: http://en.wikipedia .org/wiki/ > Paul_Wolfowitz Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
