bagi kawan2 yang memiliki draft atau informasi dimana saya bisa mendapatkan
Draft RUU Wakaf, RUU pangan halal dan Draft RUU Kerukunan ummat beragama, mohon
bantuannya. kalau bisa dikirim lewat Japri aja.
Jay
Thanks
081381736878
godamlima <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
MANAJEMEN KOLBU NAN BANGKRUT?
26 april 2007,rebo pahing
Padahal, orang yang semakin merasa kotor di hadapan Allah SWT,
semakin tinggi derajat dan kedudukannya di sisi-Nya. Sebaliknya,
orang yang merasa suci di hadapan Allah SWT, itu berarti dia
sebenarnya telah gagal dan jauh dari
>>>>>>>>>>
KOMENTARANKU,
Hehehe,apah bener nih,
AA merangsa kotor di hadepan Alloh?
Banyak dosanyah yah..den AA inih?
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Hehehe,kini daku membacaknyah,
Ternyata AMPIANG AMPIANG BELAKAH.
Tak ada getaran dikolbuku inih lagih.
Ah, kiai AA lagih menghibur siapah yah?
Adakah PENYESALANNYAH DIUNGKAPKEN
DALEM MANAJEMEN KOLBUNYAH YANG BANGKRUT?
Sementara para Majelis taqlimnyahpun nampak bingung.
Duh AA, apah sih yang disengbut DUNIAWI ITUH?
APAH KAH,KEBAHENOLAN TEHH ENTIN BUKANNYAH
DUNIAWIH?
Sementara kawah candra dimukah meletusÂ…
Mangka Manajemen kolbupun roboh tak punyak
Gigitan lagih,
Kerana KOLBU AA UDAH KEGIGITIN SEMUTNYAH
TETEH ENTIN YANG BAHENOL ITUH.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Meniti Derajat Kekasih Allah
Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR
SEGALA puji hanyalah milik Allah SWT, Dzat yang dengan kasih sayang
dan ampunan-Nya menjadikan orang-orang yang beruntung setelah diberi-
Nya jalan yang terang benderang menuju rida-Nya. Sungguh sangat
beruntung siapa saja yang hidupnya husnul khatimah dan kemudian
terus-menerus menyibukkan diri untuk mendekatkan dan taat kepada
Allah SWT, Azza wa Jalla.
Betapa kasih sayang dan ampunan Allah itu mengatasi sebesar apa pun
dosa manusia. Tidak bisa tidak, bagi mereka yang hatinya dikaruniai
taat kepada Allah, Dia akan menggolongkan mereka ke dalam golongan
kekasih Allah. Mereka akan menjadi "wali-wali" Allah SWT, yang
dijanjikan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia maupun di akhirat
nanti.
Allah berfirman, "Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak
ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih
hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.
Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam
kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat
(janji-janji) Allah SWT. Yang demikian itu adalah kemenangan yang
besar." (Q.S. Yunus [10]: 62-64)
Jadi, Allah memang mempunyai kekasih. Kekasih-kekasih Allah SWT, itu
ciri khasnya adalah sangat mengenal Allah dengan baik. Semakin dekat
dengan Allah, dia semakin diberi kemampuan menjelaskan dan merasakan
keagungan dan kebesaran Allah, sehingga keyakinannya menjadi bulat
total kepada-Nya.
Dan dengan keyakinannya, kalau dia berbicara, seperti gunung
meletus, laharnya keluar meluap-luap, tetapi luapannya dari hati,
sehingga bisa mengalir ke hati pendengar. Memang demikianlah hakikat
dari "ucapan". Kalau ucapannya keluar dari mulut, sampainya hanya ke
telinga. Kalau ucapan itu dari pikiran, sampainya ke pikiran lagi.
Namun, kalau ucapan itu bersumber dari hati, tidak bisa tidak
sampainya pun akan ke hati jua. Ini soal media saja.
Akan tetapi, yang menjadi soal, apakah kekasih Allah SWT itu orang
yang ma'shum (terbebas dari kemungkinan berbuat dosa dan khilaf)?
Ternyata waliyullah (kekasih-kekasih Allah SWT) itu tidak ma'shum!
Alhasil, tidak total bersih cemerlang tanpa cacat sama sekali.
Justru mereka tetap diselimuti kekurangan yang membuat dirinya tidak
merasa bahwa kedudukannya sudah tinggi di sisi Allah SWT.
Jadi, Allah SWT sengaja membuatnya berkekurangan supaya dia tetap
merasa hina, merasa rendah, merasa gagal, sehingga dia senantiasa
merasakan teramat malu di hadapan Allah SWT. Padahal, orang yang
semakin merasa kotor di hadapan Allah SWT, semakin tinggi derajat
dan kedudukannya di sisi-Nya. Sebaliknya, orang yang merasa suci di
hadapan Allah SWT, itu berarti dia sebenarnya telah gagal dan jauh
dari sisi-Nya.
Dengan demikian, seseorang yang berkedudukan tinggi di sisi Allah
SWT tidak berarti dia bersih dari dosa. Tetap saja ia punya cacat-
cacat. Masih juga muncul hawa nafsunya. Pokoknya ada saja hal yang
membuat dia tergelincir. Dan justru gara-gara ketergelinciran hawa
nafsunya, itulah yang membuat dirinya sering bertobat memohon
ampunan-Nya. Dia selalu merasakan teramat malu kepada Allah SWT,
lalu terus-menerus mengiba minta ditolong dan diselamatkan. Inilah
yang semakin membuatnya semakin dekat dengan Allah SWT. Subhanallah!
Oleh karena itu, tidaklah heran kalau orang yang semakin dekat dan
akrab dengan Allah SWT, memiliki derajat waliyullah, dia biasanya
dikaruniai kemuliaan tertentu yang disebut karamah. Berbeda dengan
kelebihan yang Allah SWT karuniai kepada para ulama yang berupa
ma'unah dan kepada "manusia biasa" yang berupa ilham dan al-
mubasyirah (mimpi yang benar). Karamah ini akan membuat orang yang
memilikinya sering dikabulkan keinginan dan doanya. Bahkan terkadang
tanpa diminta sekalipun, Allah SWT suka menampakkan "sesuatu" yang
justru bagi waliyullah bukan lagi hal itu yang diinginkannya betul.
Pernah, misalnya, seorang waliyullah bernama imam Sahl ketika sedang
berwudu, tiba-tiba air yang mengalir di hadapannya itu berubah
seketika menjadi lempengan emas. Apa reaksi imam Sahl? Ternyata ia
tidak terkejut atau merasa heran. Ia lalu bergumam, "Ah,
Subhanallah. Kalau anak kecil, ia akan merasa gembira jika dihibur
dengan mainan. Namun, ya Allah SWT, saya tidak membutuhkan hal yang
seperti ini."
Ya, seorang kekasih Allah SWT memang tidak membutuhkan hal-hal yang
bersifat duniawi, yang notabene akan menjadi kesenangan sementara
belaka. Bahkan mereka tidak meminta hal yang "macam-macam"
kendatipun memiliki karamah dari Allah SWT. Kalaupun punya
keinginan, paling tinggi yang pernah diminta nabi Ibrahim a.s. "Ya,
Allah SWT. Aku bukan berarti tidak yakin kepada-Mu. Namun, aku ingin
sesuatu yang dapat menambah keyakinanku bahwa Engkau memang luar
biasa," demikian ucap Ibrahim ketika itu.
Allah SWT pun lalu mewahyukan kepada Ibrahim agar mengambil seekor
burung. Burung itu kemudian dicincang lalu potongan-potongannya
dibawa dan masing-masing diletakkan di empat bukit yang berbeda.
Setelah itu, hanya dengan satu siulan, dengan takdir Allah SWT
potongan-potongan daging yang tercincang dan terpisah jauh tersebut,
dalam sekejap melesat dan menyatu kembali, sehingga menjadi seekor
burung yang hidup seperti sedia kala. Hal ini Allah SWT firmankan
dalam Alquran surat al-Baqarah (2) ayat 260. Inilah bukti kebesaran
Allah SWT yang membuat Nabi Ibrahim a.s. menjadi bertambah yakin
kepada-Nya.
Nah, sahabat. Janganlah kita merasa silau oleh hal-hal yang bersifat
duniawi. Apalagi menginginkannya secara berlebihan, sehingga dapat
menggelincirkan kita ke jalan maksiat. Kalaulah suatu saat Allah SWT
menunjukkan "sesuatu" di hadapan kita, hendaklah diartikan semata-
mata untuk menambah dan meneguhkan keyakinan kita atas kemahaagungan
Allah SWT.
Hal itu disebabkan keterbiasaan kita oleh hal-hal yang lazim
terjadi, oleh hukum-hukum alam, biasanya secara tidak sadar membuat
kita kurang yakin bahwa semua itu terjadi semata-mata atas izin
Allah SWT. Ketika kita berobat ke dokter, lalu sembuh sering membuat
kita lupa bahwa kesembuhan itu hakikatnya dari Allah SWT. Akan
tetapi, kalau ada orang yang hanya dengan izin Allah SWT mampu
mengobati penyakit hanya dengan mengucapkan basmalah atau hanya
dengan memberinya air minum, biasanya kita yakin bahwa itu karena
pertolongan dari Allah SWT.
Mudah-mudahan dengan kita selalu mengembalikan segala sesuatu
sebagai ketentuan Allah SWT dan bukti kemahabesaran-Nya, menjadi
jalan bagi kita untuk dapat selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT
sehingga --digolongkan-- dapat mencapai dejarat kekasih-Nya.***
> SUPLEMEN
>
Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com