[quote:] Memang berapa banyak sih yang punya telepon ataupun HP untuk SMS? saya yakin 1000000% bahwa mereka yang memilikinya merupakan masyarakat kelas menengah ke atas. Akhirnya; yang kaya akan semakin kaya, yang miskin cuma bisa mringis melihat keberuntungan si kaya.
Akhir-akhir ini saya jarang (bahkan belum pernah) melihat tayangan- tayangan yang bersifat mendidik, mengandung pengetahuan/ilmu praktis untuk kalangan menengah kebawah, khususnya untuk para petani. (kan katanya lebih dari 50% penduduk Indonesia adalah petani?) [end] Pak Heri, anda benar, saat ini rakyat miskin semakin dijejali dengan tayangan duit-duit- duit akhirnya membuat hidup mereka semakin merana, banyak bunuh diri, atau istri dijonjokin suami, gara-gara duit. sedangkan petani kita, semakin tak terurus, Sekolah Menengah Pertanian yang dulu menjadi toggak terdepan mengurusi para petani sudah lama dihilangkan, sedangkan lulusan agronomi bekerja menjadi wartawan, atau kerja di bursa saham. petani, di Indoensia sungguh malang benar nasibnya.... di Jepang petani, dan beras sungguh dihargai, bahkan ada beras yang harganya Rp 50,000 / KG. salam, GG --- In [email protected], "HERI HIDAYAT" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Begitulah Pak GG, memang hal ini cukup memprihatinkan... > ribuan bahkan jutaan penduduk yang masih hidup dibawah garis > kemiskinan, yang hanya bisa nonton televisi dari jendela rumah > tetangga atau tv umum di balai desa, terpaksa menonton dengan > perasaan iri melihat tayangan-tayangan yang merupakan 'mimpi' buat > mereka. > > Sayangnya lagi, pihak Media Televisipun seolah-olah berlomba-lomba > menjadi yang 'terbesar' dalam memberikan hadiah. Kuis-kuis yang > tidak bermutu, dengan undian lewat telepon maupun sms... > Memang berapa banyak sih yang punya telepon ataupun HP untuk SMS? > saya yakin 1000000% bahwa mereka yang memilikinya merupakan > masyarakat kelas menengah ke atas. > Akhirnya; yang kaya akan semakin kaya, yang miskin cuma bisa mringis > melihat keberuntungan si kaya. > > Akhir-akhir ini saya jarang (bahkan belum pernah) melihat tayangan- > tayangan yang bersifat mendidik, mengandung pengetahuan/ilmu praktis > untuk kalangan menengah kebawah, khususnya untuk para petani. (kan > katanya lebih dari 50% penduduk Indonesia adalah petani?) Kalau saja > pihak media jeli melihat ini, mereka adalah pangsa pasar yang cukup > besar untuk para advertiser lho. > > Saya jadi teringat jaman dulu ketika TVRI masih jaya-jayanya sekitar > tahun 70-80an (karena belum ada siaran TV Swasta Nasional), hampir > seluruh masyarakat desa berkumpul di balai desa untuk menonton: > Siaran Pedesaan, atau Dari Desa ke Desa; yang dibawakan oleh Sambas > (Alm.?) > Sebuah tayangan yang AMAT SANGAT MENDIDIK, sarat dengan pengetahuan > praktis; bagaimana cara mengatasi hama tanaman, bagaimana cara > memilih bibit, ataupun cara pemupukan yang baik, dsb, dst... > Saya rasa acara yang semacam inilah yang sekarang dibutuhkan oleh > masyarakat Indonesia khususnya para petani, bukan cuma sekedar > Sinetron atau Kuis yang cuma menjual 'mimpi', atau tayangan > kekerasan, berita-berita kriminal yang malah menjadi "bahan > pelajaran untuk kejahatan yg berikutnya".... > > Sangat disayangkan kalau kebutuhan informasi dan pendidikan praktis > yang seperti ini tidak pernah disentuh atau bahkan dilirik sekalipun > oleh pihak Media Televisi. Walaupun konon katanya ada Televisi yang > menyandang nama PENDIDIKAN tetapi nyatanya tayangannya malah jarang > ada yang mendidik. > > Media Televisi pun begitu angkuh dan sombongnya, lebih mengutamakan > tayangan2 sinetron atau kuis yang bisa mendatangkan 'duit cepat dan > banyak', ketimbang acara-acara penyuluhan pertanian, pendidikan > untuk remaja, pendidikan untuk anak, dsb. > Saya merasakan sendiri, karena saya bekerja di sebuah PH yang banyak > menawarkan pembuatan program2 acara televisi yang bersifat mendidik > seperti ini. Begitu susahnya menawarkan program-program yang seperti > ini. Paling yang diterima cuma satu diantara sekian puluh program, > itu pun cuma di Televisi Swasta Berbayar. > Contohnya; > IPS (Ikatan Pelajar Sejati) yang tayang di AstroExpresi (ASTROTV), > yang membahas tentang Pelajaran-pelajaran di sekolah, yang dibawakan > secara serius tapi santai oleh Vincent & Desta Club '80s. > atau "Baba Beruangku yang Cerdas"; yang akhirnya hanya menjadi bonus > VCD (terbatas) untuk setiap pembelian Susu Bendera.... > > Yah, memang begitulah kenyataannya yang ada... > tayangan-tayangan yang bersifat mendidik akhirnya harus kalah dengan > Sinetron dan kuis yang menjual mimpi... > Ataukah memang Bangsa Indonesia yang sekarang ini memang lebih suka > bermimpi??? > > Tanya Kenapa????? > > cape deeeeehhh... > > heri hidayat > avantgarde > > --- In [email protected], Goenardjoadi Goenawan > <goenardjoadi@> wrote: > > > > halo sahabat, > > > > saat ini marak berbagai macam undian dan kuis berhadiah duit, > namun satu hal yang sungguh mengganggu dan tidak baik, duit > dipajang, dikipas-kipaskan sebagai iming-iming kepada peserta. > > > > Kuis super deal 2 milyar rajanya, duit satu juta, dua juta, > sepuluh juta, sebelas juta dikipas-kipaskan kepada peserta, diiming- > iming secara tidak benar, seolah olah semua penduduk di Indonesia > budak uang, demi uang kesetanan, hanya menunggu tirai 1 atau tirai 2. > > > > Trans TV dan TV 7 bagi-bagi TV 21 inch, SCTV ikutan dengan membagi- > bagi uang cash [duit beneran] dikipas-kipas kepada pemenang dua > juta, kalau menjawab benar tiga juta atau empat juta, duduk-duduk > nonton TV dapat hadiah, sungguh pesan goblok dari TV Broadcaster, > membodohi masyarakat, > > > > Undian dimana-mana bergambar hujan duit, duit ratusan ribu disebar > dibuat mandi uang, gambar perempuan berada di bath tub penuh dengan > lembaran ratusan ribu, mau jadi apa bangsa kita? > > > > Kemana lagi pahala, amanah, amal, ilmu? sudah ditukar menjadi > duit semua..... > > > > salam, > > GG > > > > __________________________________________________ > > Do You Yahoo!? > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > > http://mail.yahoo.com > > >
