http://www.suarapembaruan.com/News/2007/05/07/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
THE GLOBAL NEXUS

Meritokrasi Vs Mediocrity 
 

Christianto Wibisono 

Hari Senin, 30 April 2007, Kuasa Usaha AS, John Heffern menulis artikel 
"Melindungi Kekayaan Intelektual adalah Urusan Bersama". Hari Rabu, 1 Mei 2007, 
mantan Menteri P dan K Dr Daoed Joesoef menulis "Masyarakat Sipil". Tidak ada 
koneksitas, dan dua karangan itu seolah berdiri sendiri, terpisah satu sama 
lain. 

Heffern secara pragmatis menonjolkan teknologi, rasionalitas, dan inovasi 
intelektual sebagai rahasia kemajuan dunia dan peradaban. Daoed Joesoef secara 
lebih filosofis mengajak masyarakat untuk mendalami akar masalah perkembangan 
peradaban manusia sejak jahiliyah hingga renaissance, aufklarung, dan demokrasi 
liberal yang sekarang menjadi kiblat kaum modernis. Di tengah hiruk-pikuk 
emosional Hari Buruh 1 Mei, kita perlu merenungkan pola pikir elite yang dalam 
jangka panjang bisa mempengaruhi dan berdampak bagi masa depan manusia. 

Tidak dapat disangkal, meritokrasi dan perlindungan hak kekayaan intelektual 
merupakan salah satu fundamen kemajuan teknologi dan invensi serta inovasi yang 
kemudian sukses di pasar bebas dan memajukan kehidupan manusia lintas ideologi, 
agama, ras, etnis dan dogma kabalistik lainnya. 

Yang menjadi masalah umat manusia seperti tersirat dari kolom Daoed Joesoef 
adalah kenyataan banyaknya elite dan massa yang terhanyut menggeneralisasi 
dunia abad XXI yang mapan-majemuk, seolah masih dalam era jahiliyah yang harus 
ditertibkan di bawah submission to the will of God, yang dimonopoli agama atau 
berhala tertentu seperti kelas proletar. 

* 

Dunia Barat mengagungkan intelektualitas, inovasi, dan invensi sebagai rahasia 
kemajuan manusia. Pelipatgandaan PDB adalah skala magnitude yang dijadikan 
tolok ukur keberhasilan umat manusia memperbaiki jenjang tingkat hidup atau 
kesejahteraan masyarakat. 

Dunia Timur masih tenggelam dalam alam pasiva, nrimo, pasrah, dan ketinggalan 
dalam memanfaatkan asset ratio manusia. Yang lebih berperan pada manusia Timur 
ialah beban sebagai korban sejarah, beban rasa tertindas oleh rezim kolonial, 
imperial, dan kemudian diktator bangsa sendiri. 

Manusia Timur selalu kembali kepada agama dan pesan primordial serta kepasrahan 
kepada predestinasi Allah yang di luar kekuasaan manusia tapi hanya menemui 
tirani dan despot berkedok etnis dan agama. Manusia Timur menerima tanpa 
reserve bahwa penguasa duniawi adalah wakil Tuhan dan karena itu sulit diganggu 
gugat. Kecuali bila terjadi kiamat fisik atau revolusi fisik yang membawa 
banjir banding darah manusia tertumpah dalam perang saudara dan kudeta 
berantai. 

Manusia Barat seperti Hitler dan Karl Marx serta Lenin kemudian ditiru oleh Mao 
Zedong, Kim Ilsung dan sang anak, serta Pol Pot, berselancar dengan bangkitnya 
ateisme di Barat dan mengklaim diri sendiri sebagai "Tuhan ideologis" yang 
layak mengorbankan rakyat di altar ideologi. 

Fasisme dihancurkan oleh koalisi temporer kubu demokrasi liberal dan kubu 
komunisme, hanya untuk memasuki perang dingin dunia bebas vs komunisme. 

Kehancuran sistem komunis dengan kehidupan mewah para diktator komunis bagaikan 
raja dinasti feodal kuno, tidak dengan otomatis mengubur ideologi komunis. Di 
Barat, yang justru belum pernah "dijajah" oleh komunisme, kaum ateis eks 
komunis yang malu menyebut komunisme dan Marxisme karena sudah gagal di Soviet 
dan RRT, mengemas ideologi mereka dengan bungkus baru. 

Inilah yang disebut oleh John Fonte dari Hudson Institute di majalah Orbis 
Summer 2002 sebagai ideologi Transnational Progressive. Singkatan Tranzi oleh 
David Carr merujuk kepada Leon Trotsky yang berambisi mengobarkan revolusi 
proletar global dari tempat pelarian di Meksico dan akan dibunuh oleh agen 
rahasia Stalin. 


* 

Di balik euforia Fukuyama dengan teori demokrasi liberal sebagai pemenang 
tunggal dunia pasca-Perang Dingin dan teori Samuel Huntington tentang perang 
peradaban, Fonte mewaspadai dan mencermati perang intra peradaban Barat 
sendiri. The Ideological War within the West, akan lebih menentukan nasib 
manusia dan ke mana dunia ini akan menuju. Civil society ala Barat yang 
digambarkan oleh Daoed Joesoef sebagai sumber inspirasi kemajuan dunia 
sebetulnya sedang mengalami ancaman gawat berupa kanker Tranzi di dalam 
peradaban Barat itu sendiri. 

Kelompok Tranzi ini dimotori oleh profesor Yahudi, Noam Chomsky dan ratusan 
professor radikal kiri yang dengan piawai mengeksploitasi rasa ketertindasan 
dan ketidakberdayaan Dunia Ketiga, diaduk dengan rasa tidak puas dan kepala 
batu golongan Marxis Barat. Tranzi menaburkan ideologi kekerasan antikemapanan 
sebagai kiblat perjuangan massa seluruh dunia yang mayoritas masih miskin, 
dibanding masyarakat yang lebih egalitarian di Barat. 

Majoritas civitas academica universitas di AS didominasi oleh kaum Tranzi. 
Ketika Cho Seung Hui dengan tato Ismail Ax di lengannya, membunuhi 32 rekan, 
golongan Tranzi seolah kaget dan kehilangan akal, alasan, serta bingung kenapa 
Cho Ismael Ax bisa sekejam itu. Padahal para profesor Tranzi itulah yang dalam 
kurikulum mereka menjejali mahasiswa dengan dramatisasi dan magnifikasi 
kebobrokan setan besar kapitalis kafir AS. 

James Lewis menulis dalam American Thinker 20 April nama staf pengajar penyebar 
retorika dan agitasi untuk berontak dengan kekerasan terhadap ketidakadilan 
struktural AS dan hegemoni AS di dunia. Nikki Giovanni, Bernice Hausman, Lisa 
Norris, Matthew Vollmer, Paul Heilker, Carter-Tod, James Collier, Carlos Evia, 
Susan Allender Hagedorn, adalah orator penebar kebencian dan kekerasan untuk 
melampiaskan amok bunuh diri. Hasilnya ialah kebiadaban Cho Ismail Ax, tulis 
Jerry Bowyer dalam TCS Daily 18 April. 

Bunuh diri politik oleh para ideolog Tranzi inilah yang menyebarkan pelbagai 
teori konspirasi dan kejahatan AS dan bergema ke seluruh dunia karena didukung 
oleh media massa Barat itu sendiri. Di AS sekarang mayoritas mahasiswa yang 
sukses menguasai bidang iptek adalah nonKaukasian, Asia Timur, dan India. 
Sementara dogma Tranzi yang tidak menghargai meritokrasi dan cenderung 
mengadopsi mediocrity berdasar proporsionalitas kelompok, mendominasi pola 
pikir kampus AS. Mediocrity adalah sistem di mana orang mediocre -kepalang 
tanggung, bukan brilian, justru menyisihkan orang yang ber-merit. 


* 

Prof Muhamad Abduh (1849-1905), dikutip oleh Zuhairi Misrawi (Kompas, 8 Juli 
2006) menyatakan: "Saya menemukan Islam di Barat tanpa orang Muslim, sedangkan 
saya di Mesir menemukan orang Muslim tanpa Islam." Prof Abdus Salam pemenang 
hadiah Nobel Fisika tahun 1979 hijrah dari Pakistan sejak tahun 1974 karena 
mengulangi statement Abduh tentang Islam sejati dengan risiko harus hidup di 
luar Pakistan. Namanya akan diabadikan pada Abdus Salam Institute of 
Theoretical Physic di Trieste, Italia. 

Tulisan Daoed Joesoef yang mendambakan Islam sejati setara dengan Abduh. 
Tulisan John Heffern suatu assetiveness untuk menghormati karya dan kreativitas 
individu dan memupuk kembali meritokrasi Barat. Daoed Joesoef layak jadi Dirjen 
UNESCO untuk menyelamatkan moral peradaban. Sedang advokasi Heffern adalah 
upaya menyelamatkan AS dari gelombang mediocrity yang bagaikan tsunami sedang 
menggeser meritokrasi di bumi AS sendiri. 

Di atas merit dan rasio selalu ada kekuatan moral omnipotent supranatural, yang 
tetap menjadi penentu akhir. Pintar tapi tidak tahu mana baik mana buruk atau 
membajak "agama" juga akan berujung pada jahiliyah modern model 911 atau 
derivatifnya: Cho Ismael Ax. 


Penulis adalah pengamat masalah nasional dan internasional 


Last modified: 7/5/07 

<<christia.gif>>

Kirim email ke