http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/5/7/o2.htm

Penyusunan anggaran yang realitasnya lebih berpihak pada ambisi individu 
penyelenggara pemerintahan selain mencerminkan ketidakpekaan terhadap kondisi 
dan nasib rakyat yang sesungguhnya, juga mengindikasikan terjadinya kebohongan 
publik. Rakyat yang telah melakukan kewjibannya sebagai pembayar pajak dan 
retribusi lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, semestinya 
mendapatkan kompensasi yang seimbang dalam proses pemanfaatan APBD setiap 
tahun. Untuk menjaga citra pemerintahan yang bersih dan berwibawa, setiap 
aparatur negara harus memahami dirinya sebagai abdi (pelayan) masyarakat yang 
diberikan nafkah oleh negara melalui uang rakyat. 
--------------------------------

Membangun Tatanan Birokrasi Pro-Rakyat
Oleh I Nyoman Rutha Ady, S.H. 

KEBIJAKAN pemerintah daerah dalam pengadaan fasilitas untuk tugas-tugas 
operasional eksekutif dan legislatif menarik untuk disimak dan diambil 
hikmahnya bagi perbaikan kinerja elite birokrasi di masa mendatang. Ketika 
kewenangan otonomi berada di tingkat daerah, mestinya penyusunan anggaran 
belanja diprioritaskan kepada sektor pembangunan untuk peningkatan 
kesejahteraan rakyat, bukan sebaliknya untuk memenuhi ambisi yang menonjolkan 
kemewahan pejabat.

-------------------

Pihak eksekutif dan legislatif selaku petinggi pemerintahan  di daerah perlu 
merevitalisasi konsep penyusunan anggaran yang dituangkan dalam produk hukum 
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dengan memperhatikan serta 
mengadopsi aspirasi rakyat lewat mekanisme berjenjang yang dilakukan mulai 
tingkat desa/kelurahan, kecamatan hingga pembahasan di tingkat kabupaten. APBD 
yang ditunggu-tunggu oleh publik harus menunjukkan kesungguhan pemerintah untuk 
membangun masyarakat lebih sejahtera, sehingga mencerminkan sebuah tatanan 
birokrasi pro-rakyat.

Kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya harus dipelihara dengan membangun 
sebuah komunikasi publik yang seimbang. Makna sebuah komunikasi publik dalam 
konteks penyelenggaraan pemerintahan tidak hanya sebatas pertemuan pejabat 
dengan rakyatnya dalam acara seremonial. Yang lebih penting lagi adalah 
penjabaran program pembangunan yang menyentuh kepentingan rakyat secara umum 
dengan menempatkannya pada prioritas utama. Intinya, komunikasi publik akan 
terwujud apabila pemerintah lebih memperhatikan aspirasi rakyat lewat 
pelaksanaan program-program pembangunan dengan memanfaatkan anggaran secara 
proporsional.



Kebohongan Publik

Penyusunan anggaran yang realitasnya lebih berpihak pada ambisi individu 
penyelenggara pemerintahan selain mencerminkan ketidakpekaan terhadap kondisi 
dan nasib rakyat yang sesungguhnya, juga mengindikasikan terjadinya kebohongan 
publik. Rakyat yang telah melakukan kewajibannya sebagai pembayar pajak dan 
retribusi lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, semestinya 
mendapatkan kompensasi yang seimbang dalam proses pemanfaatan APBD setiap tahun.

Sebuah ilustrasi yang ditampilkan oleh petinggi eksekutif dan legislatif di 
Kabupaten Badung ketika menyusun anggaran untuk pengadaan mobil dinas 
menunjukkan sebuah pengingkaran terhadap komitmen menjadikan rakyat sebagai 
subjek pembangunan. Sarana operasional berupa mobil dinas memang mutlak 
diperlukan untuk menunjang program kegiatan bagi peningkatan pelayanan publik. 
Tetapi penetapan untuk memberikan setiap anggota Dewan satu unit mobil dinas 
dan pemilihan jenis mobil untuk bupati yang mencapai harga Rp 1,2 milyar, 
misalnya, sungguh sebuah kebijakan yang menyakiti hati rakyat. Tatanan 
birokrasi tidak sepenuhnya menjadi solid ketika penyelenggara pemerintahan 
mengingkari komitmen kebersamaan dengan rakyat. Dalam proses dan mekanisme 
terselenggaranya sistem pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan, mutlak 
diperlukan dukungan dana yang cukup, selain partisipasi publik dalam bentuk 
program swadaya. Partisipasi publik dengan sendirinya akan terbangun secara 
efektif ketika pemerintah memang secara tulus telah menempatkan aspek 
transparansi dalam setiap merumuskan sebuah kebijakan publik.

Fenomena ''maju-mundur'' pengadaan mobil dinas untuk operasional jajaran 
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung menjadi sebuah pembelajaran bagi birokrat 
di era otonomi daerah sekarang ini. Setiap kebijakan harus pro-rakyat dan 
menjauhkan perilaku penonjolan ambisi kemewahan di tengah keterpurukan ekonomi 
rakyat.

Setiap langkah dalam menentukan sebuah kebijakan publik, norma-norma hukum 
mutlak dijadikan landasan untuk mengawali proses konseptual perencanaan. Tetapi 
landasan hukum tidaklah cukup apabila konsep produk hukum tidak disertai nalar 
pikiran yang jernih, objektif serta jujur kepada diri sendiri dan pihak lain 
dengan memakai logika yang lebih mempertimbangkan pantas atau layak sebuah 
kebijakan diberlakukan.

Aspek kelayakan inilah sering diabaikan sehingga memunculkan sikap antipati 
publik terhadap sebuah kebijakan. Kecaman rakyat akan merusak citra 
pemerintahan dan para elite yang diberikan kepercayaan untuk mengemban amanah 
rakyat sejalan dengan amanat konstitusi. Untuk menjaga citra pemerintahan yang 
bersih dan berwibawa, setiap aparatur negara harus memahami dirinya sebagai 
abdi (pelayan) masyarakat yang diberikan nafkah oleh negara melalui uang 
rakyat. 

Elite eksekutif dan anggota Dewan perlu memiliki pola pikir yang cerdas dalam 
membangun tatanan birokrasi yang pro-rakyat. Harus direnungkan dan diingat 
terus bahwa perilaku dan pola kebijakan yang menyakiti hati rakyat selamanya 
adalah dosa. Sebaliknya program pembangunan yang berpihak dan menyentuh 
langsung kepentingan rakyat merupakan sebuah pahala.

* Penulis, pemerhati masalah sosial masyarakat, warga Kabupaten Badung, tinggal 
di Legian, Kuta

-----------------------------

* Setiap langkah dalam menentukan sebuah kebijakan publik, norma-norma hukum 
mutlak dijadikan landasan untuk mengawali proses konseptual perencanaan.

* Aspek kelayakan tidak boleh diabaikan agar tidak memunculkan sikap antipati 
publik terhadap sebuah kebijakan.

* Elite eksekutif dan anggota Dewan perlu memiliki pola pikir yang cerdas dalam 
membangun tatanan birokrasi yang pro-rakyat

Kirim email ke