Saat ini, Sutradara Akhlis Suryapati tengah menggarap produksi film layar lebar terbaru yang diberi judul Lari Dari Blora. Film ini menampilkan bintang film Ardina Rasti, penyair WS Rendra, dan sederet bintang baru, termasuk Tina Astari, Iswar Kelana, Nizar Zulmi, dan cewek asal Belanda, Annyka Kuyper. Film ini menceritakan tentang kehidupan komunitas sedulur sikep, atau yang juga dikenal dengan komunitas samin. Pengambilan gambar dilakukan di Pati, tepatnya di Dukuh Karangmalang, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, dan masih berjalan hingga saat ini.
Tetapi, tanpa disadari (atau mungkin tidak mengerti), sutradara Akhlis justru melakukan tindakan bodoh yang melukai komunitas sedulur sikep itu sendiri. Misalnya, skenario film ini tidak diawali melalui urun rembug dengan komunitas sedulur sikep. bahkan, menurut Gunritno (salah satu warga komunitas sedulur sikep yang cukup populer di Sukolilo) penggarapan film itu dilakukan dengan tidak berdiskusi terlebih dahulu dengan komunitas. Akibatnya, banyak sekali cerita dan adegan film yang tidak sesuai dengan tata cara kehidupan komunitas sedulur sikep. "Ya itulah, kalau ORANG LUAR yang tidak pernah SRAWUNG (berkumpul) dengan sedulur sikep, lalu tiba-tiba membuat film tentang kami kan pasti lucu, aneh, dan pasti tidak sesuai dengan apa yang kami lakoni dalam kehidupan sehari-hari," ucap gunritno. Lebih dari itu, ternyata dengan tindakan bodoh pula sang sutradara menampilkan adegan erotis yang telah membuat Gunritno dan sedulur sikep lain merasa dilukai. Simak saja cuplikan berita di bawah ini (sumber: Warta Kota): Akhlis mengaku, sejumlah adegan erotis menghiasi film ini. Namun, sebagai anggota Lembaga Sensor Film (LSF), Akhlis berjanji takkan ada adegan yang terkesan jorok. "Memang banyak adegan erotis. Tapi, saya berusaha menampilkannya seartistik mungkin," jelas Akhlis. Di film ini, Tina Astari berperan sebagai Waty, perempuan liar dari suku Sikep. Tina ditantang beradegan panas, memegang--maaf--"gaman" (alat vital) lelaki yang menjadi suaminya. Bahkan, pada Sabtu lalu, Tina baru usai syuting adegan berhubungan seks di atas motor. Kalau memang sutradara ingin menampilkan sebuah kultur komunitas lokal, apakah perlu menampilkan adegan-adegan seperti itu yang saya yakin hanya untuk menarik minat penonton? Padahal, menampilkan adegan seperti itu sudah pasti melanggar rasa kemanusiaan komunitas sedulur sikep. Inilah yang menurut saya merupakan penjajahan baru yang dilakukan terhadap komunitas adat di indonesia. Sutradara yang merasa bergaul dengan komunitas sedulur sikep, tapi ia sendiri bukanlah warga sedulur sikep yang pasti tidak akan pernah bisa merepresentasikan kehidupan komunitas sedulur sikep secara utuh. Tapi saya sendiri tidak tau apakah sutaradara mau menghentikan proyek pembuatan film yang sedang berjalan dengan menelan biaya yang pasti tidak sedikit. kalaupun film ini tetap berjalan, maka inilah potret dari sebuah marginalisasi terhadap komunitas yang selama ini telah mengalami peminggiran yang luar biasa. Inilah potret dari pendiskreditan yang luar biasa, juga sebuah tindakan melukai yang bukan hanya akan membuat komunitas sedulur sikep terpojok, tetapi juga menyuburkan stigma negatif yang selama ini berkembang.
