Kelemahan kita selama ini mendiamkan sesuatu yang belum selesai digarap.
Kita selalu meminta agar "biarkan dulu selesai filmnya, baru kita urai."
menurut saya, hal ini sangatlah mengkhawatirkan. saya contohkan, banyak
sekali produk hukum di negara ini, khususnya yang berkaitan dengan investasi
dan/atau penanaman modal  yang dilakukan di lingkungan komunitas (hukum)
adat. Produk hukum yang dibuat tidak pernah memberikan antisipasi "bagaimana
kalau ternyata ekplorasi dan eksploitasi sumberdaya alam  merugikan
kehidupan komunitas" karena hutan dan lingkungan mereka habis.Kita semua
ribut setelah kita melihat bahwa telah terjadi perugian. Tetapi, kita
sendiri tidak pernah memikirkan antisipasi sebelumnya. Kita selalu terpaku
untuk mengkritik apa yang sudah jadi dan beredar, dan tidak mau mengkritik
prosesnya sehingga ketika hasilnya itu tidak karu-karuan, baru kita semua
blingsatan dan kebingungan sendiri.

Logika ini yang sepertinya menghinggapi film Lari dari Blora. Proses
pembuatan film itu sedang berjalan, dan sinopsis dan bahkan beberapa adegan
yang akan ditayangkan di dalamnya juga memuat adegan dan cerita yang
"melukai" komunitas Samin. Apakah kita akan menunggu setelah film itu
selesai, padahal dari segi proses dan isi cerita yang akan ditayangkan sudah
jelas-jelas tidak sesuai dengan keinginan komunitas Samin tu sendiri?

Kalau masalah kedekatan, siapapun bisa dekat dengan komunitas samin, karena
mereka menganggap bahwa kita-kita ini adalah sedulurnya. tapi, apakah
kedekatan kita itu lantas membuat kita berhak untuk merepresentasikan
kehidupan mereka tanpa berkomunikasi (izin, mempertemukan sudut pandang,
dsb) terlebih dahulu? Meskipun sang sutradara sendiri berasal dari Pati,
tapi apakah dia juga berhak untuk menggulirkan cerita komunitas samin yang
di pati. Padahal, saya sendiri ketika ke pati dan berjumpa dengan beberapa
orang, ternyata tidak sedikit dari mereka - yang jelas-jelas orang pati -
berpandangan negatif terhadap komunitas samin.

Apa yang ingin saya kemukakan di sini adalah mengajak semua pihak agar kita
menghargai kehidupan komunitas lokal seperti komunitas samin. Mungkin,
menurut sutradara atau "orang luar", komunitas samin itu eksotik, unik,
lugu, dll sehingga layak untuk dibuat film agar supaya ditonton banyak orang
dengan  alasan untuk "mengangkat budaya bangsa". Tapi, apakah dengan itu
semua lalu komunitas Samin sendiri diuntungkan? Justru sebaliknya, komunitas
Samin akan semakin merugi, karena keberadaan mereka yang difilmkan itu
semakin memperkukuh stigma, strereotip, dan sudut pandang bahwa komunitas
samin adalah komunitas "terasing, terbelakang,tidak modern, dsb." Bukankah
ini bentuk yang sama dari kolonialisasi?


On 5/11/07, Handry Utomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Mas Miftah, sebaiknya biarkan saja dulu film ini
finish, baru kita urai. Sayang banget kalau langsung
main babat, sementara barangnya sendiri belum jadi.
Setahu saya, seluar-luarnya Akhlis sebagai orang di
luar komunitas "Samin" dia terhitung "Samin Banget"
dan tidak nol sama sekali. Peetama, dia kelahiran
Pati, kedua dia jurnalis dan penulis fiksi yang cukup
kuat. Meski saya telah mengkhawatirkan, bahwa film
perdananya ini tidak cukup meyakinkan dirinya sebagai
sutradara berbakat, tapi bagaimanapun saya pernah dan
sangat bersahabat akrab dengannya. Tengkyu arimas
m(maksudnya: thank you verimuch)

handry tm


--- Miftah Surur <[EMAIL PROTECTED] <msurur%40gmail.com>> wrote:

> Saat ini, Sutradara Akhlis Suryapati tengah
> menggarap produksi film layar
> lebar terbaru yang diberi judul Lari Dari Blora.
> Film ini menampilkan
> bintang film Ardina Rasti, penyair WS Rendra, dan
> sederet bintang baru,
> termasuk Tina Astari, Iswar Kelana, Nizar Zulmi, dan
> cewek asal Belanda,
> Annyka Kuyper. Film ini menceritakan tentang
> kehidupan komunitas sedulur
> sikep, atau yang juga dikenal dengan komunitas
> samin. Pengambilan gambar
> dilakukan di Pati, tepatnya di Dukuh Karangmalang,
> Desa Baturejo, Kecamatan
> Sukolilo, dan masih berjalan hingga saat ini.
>
> Tetapi, tanpa disadari (atau mungkin tidak
> mengerti), sutradara Akhlis
> justru melakukan tindakan bodoh yang melukai
> komunitas sedulur sikep itu
> sendiri. Misalnya, skenario film ini tidak diawali
> melalui urun rembug
> dengan komunitas sedulur sikep. bahkan, menurut
> Gunritno (salah satu warga
> komunitas sedulur sikep yang cukup populer di
> Sukolilo) penggarapan film itu
> dilakukan dengan tidak berdiskusi terlebih dahulu
> dengan komunitas.
> Akibatnya, banyak sekali cerita dan adegan film yang
> tidak sesuai dengan
> tata cara kehidupan komunitas sedulur sikep.
> "Ya itulah, kalau ORANG LUAR yang tidak pernah
> SRAWUNG (berkumpul) dengan
> sedulur sikep, lalu tiba-tiba membuat film tentang
> kami kan pasti lucu,
> aneh, dan pasti tidak sesuai dengan apa yang kami
> lakoni dalam kehidupan
> sehari-hari," ucap gunritno.
>
> Lebih dari itu, ternyata dengan tindakan bodoh pula
> sang sutradara
> menampilkan adegan erotis yang telah membuat
> Gunritno dan sedulur sikep lain
> merasa dilukai. Simak saja cuplikan berita di bawah
> ini (sumber: Warta
> Kota):
>
> Akhlis mengaku, sejumlah adegan erotis menghiasi
> film ini. Namun, sebagai
> anggota Lembaga Sensor Film (LSF), Akhlis berjanji
> takkan ada adegan yang
> terkesan jorok. "Memang banyak adegan erotis. Tapi,
> saya berusaha
> menampilkannya seartistik mungkin," jelas Akhlis.
> Di film ini, Tina Astari berperan sebagai Waty,
> perempuan liar dari suku
> Sikep. Tina ditantang beradegan panas,
> memegang--maaf--"gaman" (alat vital)
> lelaki yang menjadi suaminya. Bahkan, pada Sabtu
> lalu, Tina baru usai
> syuting adegan berhubungan seks di atas motor.
>
> Kalau memang sutradara ingin menampilkan sebuah
> kultur komunitas lokal,
> apakah perlu menampilkan adegan-adegan seperti itu
> yang saya yakin hanya
> untuk menarik minat penonton? Padahal, menampilkan
> adegan seperti itu sudah
> pasti melanggar rasa kemanusiaan komunitas sedulur
> sikep. Inilah yang
> menurut saya merupakan penjajahan baru yang
> dilakukan terhadap komunitas
> adat di indonesia. Sutradara yang merasa bergaul
> dengan komunitas sedulur
> sikep, tapi ia sendiri bukanlah warga sedulur sikep
> yang pasti tidak akan
> pernah bisa merepresentasikan kehidupan komunitas
> sedulur sikep secara utuh.
>
>
> Tapi saya sendiri tidak tau apakah sutaradara mau
> menghentikan proyek
> pembuatan film yang sedang berjalan dengan menelan
> biaya yang pasti tidak
> sedikit. kalaupun film ini tetap berjalan, maka
> inilah potret dari sebuah
> marginalisasi terhadap komunitas yang selama ini
> telah mengalami peminggiran
> yang luar biasa. Inilah potret dari pendiskreditan
> yang luar biasa, juga
> sebuah tindakan melukai yang bukan hanya akan
> membuat komunitas sedulur
> sikep terpojok, tetapi juga menyuburkan stigma
> negatif yang selama ini
> berkembang.
>

__________________________________________________________Luggage? GPS?
Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=graduation+gifts&cs=bz

Kirim email ke