Mungkin berbeda dengan soalan-soalan lain, tapi kalau kita sedang bicara mengenai media, yang bisa dinilai, dikupas, dan dikaji adalah hasil, bukan prosesnya, mas. mengkritisi proses pembuatannya sendiri adalah perkara lain. tapi bagi saya, karya melulu bersifat subjektif. tidak ada yang objektif. kalau di film Lari dari Blora kita menonton kehidupan komunitas sedulur sikep atau komunitas samin, saya kira penontonnya cukup punya kesadaran kalau yang sedang ditonton adalah komunitas samin dari perspektif Akhlis Suryapati. lebih-lebih kalau film itu murni fiksi, bukan dokumenter.
mungkin lebih baik dipilah-pilah ke mana arah kritikan anda: filmnya sendiri sebagai media, atau persoalan sosial yang muncul sebagai implikasi selama proses pembuatan film dan sesudah filmnya disebarluaskan, nanti. salam, Miranda. On 5/13/07, Miftah Surur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kelemahan kita selama ini mendiamkan sesuatu yang belum selesai digarap. Kita selalu meminta agar "biarkan dulu selesai filmnya, baru kita urai." menurut saya, hal ini sangatlah mengkhawatirkan. saya contohkan, banyak sekali produk hukum di negara ini, khususnya yang berkaitan dengan investasi dan/atau penanaman modal yang dilakukan di lingkungan komunitas (hukum) adat. Produk hukum yang dibuat tidak pernah memberikan antisipasi "bagaimana kalau ternyata ekplorasi dan eksploitasi sumberdaya alam merugikan kehidupan komunitas" karena hutan dan lingkungan mereka habis.Kita semua ribut setelah kita melihat bahwa telah terjadi perugian. Tetapi, kita sendiri tidak pernah memikirkan antisipasi sebelumnya. Kita selalu terpaku untuk mengkritik apa yang sudah jadi dan beredar, dan tidak mau mengkritik prosesnya sehingga ketika hasilnya itu tidak karu-karuan, baru kita semua blingsatan dan kebingungan sendiri. Logika ini yang sepertinya menghinggapi film Lari dari Blora. Proses pembuatan film itu sedang berjalan, dan sinopsis dan bahkan beberapa adegan yang akan ditayangkan di dalamnya juga memuat adegan dan cerita yang "melukai" komunitas Samin. Apakah kita akan menunggu setelah film itu selesai, padahal dari segi proses dan isi cerita yang akan ditayangkan sudah jelas-jelas tidak sesuai dengan keinginan komunitas Samin tu sendiri? Kalau masalah kedekatan, siapapun bisa dekat dengan komunitas samin, karena mereka menganggap bahwa kita-kita ini adalah sedulurnya. tapi, apakah kedekatan kita itu lantas membuat kita berhak untuk merepresentasikan kehidupan mereka tanpa berkomunikasi (izin, mempertemukan sudut pandang, dsb) terlebih dahulu? Meskipun sang sutradara sendiri berasal dari Pati, tapi apakah dia juga berhak untuk menggulirkan cerita komunitas samin yang di pati. Padahal, saya sendiri ketika ke pati dan berjumpa dengan beberapa orang, ternyata tidak sedikit dari mereka - yang jelas-jelas orang pati - berpandangan negatif terhadap komunitas samin. Apa yang ingin saya kemukakan di sini adalah mengajak semua pihak agar kita menghargai kehidupan komunitas lokal seperti komunitas samin. Mungkin, menurut sutradara atau "orang luar", komunitas samin itu eksotik, unik, lugu, dll sehingga layak untuk dibuat film agar supaya ditonton banyak orang dengan alasan untuk "mengangkat budaya bangsa". Tapi, apakah dengan itu semua lalu komunitas Samin sendiri diuntungkan? Justru sebaliknya, komunitas Samin akan semakin merugi, karena keberadaan mereka yang difilmkan itu semakin memperkukuh stigma, strereotip, dan sudut pandang bahwa komunitas samin adalah komunitas "terasing, terbelakang,tidak modern, dsb." Bukankah ini bentuk yang sama dari kolonialisasi?
-- http://12miranda.multiply.com http://sihircinta.blogspot.com
