Sejak seorang ponggawa opname di rumah-rawat Notomina, berhembuslah
wacana tukar-pasang ponggawa. Ada 13 ponggawa yang terganggu
kesehatannya. Kejadian ini berselang pancasasih setelah pedati-pedati
di kerajaan itu bertubrukan, mesin terbangnya berjatuhan, dan
perahu-perahunya tenggelam. Ular besinya pun masuk jurang lantaran
roda besinya ke luar bantalan atau longsor tanahnya. Malah tak sampai
sepekan kabinet raja diresafel kaping dua, dua ular besinya sudah pula
ke luar rel. Sementara itu, lumpur panas di Perdikan Timur terus
menggelegak, merusak jalan tol pedati dan rel roda besi. Gegerlah
seantero negeri. Raja murka. Angkaranya memerahkan kuping ponggawa.

Nyata sudah, kabinet Kerajaan Bersatu negeri Mandalagiri bertukar
ponggawa kaping sasih kelima. Ada beberapa yang baru, ada juga yang
anyar tapi lawas, dan ada pula mantan kepala perdikan di negeri Timur.
Memang asa telah ditanam agar ponggawa mampu membawa ekonomi kerajaan
menjadi lebih baik dan mantap, agar busung lapar, kelaparan atau
apapun namanya, bisa berkurang. Apalagi ada isu bahwa tahun 2007 ini
keadaan ekonomi negeri mirip dengan tahun 1997 lalu. Ada banyak
saudagar luar membawa ringgit ke dalam istana. Selain itu, tugas besar
ponggawa baru tak lain daripada penstabilan ekonomi tanpa gejolak
seperti pada rusuh massal saat raja lengser pascatridasawarsa memangku
negeri itu.

Menurut warta teranyar harian Serat Centono, tukar-menukar posisi itu
demi menyelamatkan muka ponggawa agar masih tampak berwibawa di mata
rakyat Kerajaan Mandalagiri. Muka-muka itu pada masa lalu pernah
dianggap kaki tangan raja yang lengser keprabon lantaran gerakan
brutalyudha atau minimal punya ikatan kekerabatan. Asas pini sepuh
anutannya dan tepo selironya sebagai pemangku adat selalu menjunjung
prinsip mikul dhuwur mendhem jero. Tatkala urun rembuk tentang arah
tumbuh kerajaan, semua lurah, demang, panditha, ponggawa dan tetua
perdikan tanah seberang telah seia-sekata. Kerajaan seberang pun ramai
mengutus dutanya untuk bersahabat luhur, menimba ilmu ulah kanuragan
dan ulah jiwa. Balas kunjung kerap dilaksanakan hingga ke negeri
Jagatnatha di tataran Antah Berantah yang butuh tujuh siang tujuh
malam perjalanan naik kuda sembrani.

Itulah kedigjayaan Raja yang pernah memimpin paguyuban hulubalang di
kerajaan itu. Pangkatnya mencapai taraf tertinggi, yaitu Pangageng
Utomo sepulang dari akademi di Breda, Nederlands. Di tataran
olah-ilmu, Sinuhun berhasil merengkuh Mahaguru setelah sebelumnya
dinobatkan menjadi Doctor Ingenieur dari Landbouwuniversiteit. Selain
pamornya itu, ia pun menyunting sekar kedaton yang mewangi nan elok,
memukau bukan hanya yang empunya tapi juga hulubalang dan rakyatnya.
Hanya sayang, Sang Raja acap gundah-gulana karena permaisurinya tak
pernah tersenyum lagi setelah penobatannya menjadi raja. Ini tentu
masalah besar apalagi saat jamuan makan malam di hadapan raja-raja
sahabat.

Setelah sejumlah upaya, ditemukanlah siasat agar kuntum itu
menyungging lagi. Atas usul paguyuban penasihat raja, tepat purnama
bulan kesembilan ketika orang terlelap di tengah sunyi malam, serdadu
penjaga istana diperintahkan membunyikan genderang perang. Pecahlah
keheningan malam menjadi hiruk-pikuk dan kepanikan. Bunga api di
menara kerajaan pun menghiasi langit. Tampak indah. Dan benarlah,
Permaisuri tersenyum manis, mengalahkan keindahan bulan bulat
terselimuti awan tipis saat itu. Ceria sekali ia, tampak dari semburat
merah merona pipinya, membuat terkesiap darah pemandangnya.

Sementara itu, rakyat kian panik sambil memanggul tombak, busur dan
anak panah serta menghunus keris. Riuh rendah teriakannya, berlari
kian kemari tak tentu arah. Tapi mereka tetap belum tahu, dari mana
arah musuh menyerang istana. Baru setelah obor mati karena minyaknya
habis, mereka tersadar bahwa genderang tadi hanyalah untuk memuaskan
raja, ponggawa, kerabat istana, hulubalang dan penasihat Raja.
Senyaplah lagi suasana. Sembari masuk ke serambi biliknya, terdengar
gumaman keluhan dan sungutan kekecewaan. Beginilah nasib wong cilik.
Minyak mahal habis sia-sia, kantuk berat kian terasa tapi hati terus
terjaga, waswas besok harus puasa. Tak punya lagi apa-apa.

Triwarsa berselang menjadi raja, di tengah evaluasi politisi lawan dan
pengamat yang intensif memata-matai sepak terjangnya, Raja tetap
menjalankan rutinitasnya. Puas membekas, tenteramlah hatinya melihat
begitu indah senyum itu. Barangkali, banyak yang cemburu melihat aku
bahagia seperti ini. Punya istri cantik, tanah perdikan luas-makmur
yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Rakyat pun
mendukungku. Buktinya, tak ada yang kecewa atas malam "rusuh" itu.
Resafel ponggawa dan hulubalang pun tak masalah. Harga-harga di pasar
Giripurwo tetap stabil. "Paberjk Badjoe" di Wonitirto tetap
berproduksi. Begitu gumam Sang Raja setiap ia duduk santai atau
tatkala di pembaringan. Nyenyaklah tidurnya di samping istrinya nan
rancak bana.

Tapi ia keliru rupanya. Tanpa disadarinya, kalangan dekat yang
kepayang dengan gelimang harta, kemudahan dan berbagai hak privilese
membuatnya kurang awas lan waspodo. Ponggawa, hulubalang dan prajurit
pun terbuai sehingga tak siap lagi menangkal kemungkinan terburuk.
Karenanya, ketika benar musuh menyerbu dari delapan penjuru angin,
mereka terlena dan tak sigap lagi. Istana telah dikepung dari utara,
timur dan barat. Padahal, daerah itulah sumber utama dukungan raja
yang juga banyak memberikan upeti untuk pembangunan istana. Suara
tetabuhan genderang perang memang terdengar dari kejauhan, menyusup ke
pori-pori gedhek rumah penduduk. Namun terlambat. Tak ada lagi rakyat
yang bangun dan peduli karena pertahanan berbasis massa telah sirna.
Rakyat sudah tak percaya lagi. "Pasti Raja ingin melihat senyum manis
permaisuri lagi," bisik para suami kepada istrinya sambil menggeliat
di atas dipan-dipan reyotnya.

Tutur sahibul hikayat, kerajaan itu, esoknya, telah dikuasai musuh,
tergadaikan ke orang seberang yang putih kulitnya, tirus parasnya,
mancung hidungnya. Yang sangat menyedihkan, musuh itu ternyata
kalangan yang berkedok membantu dana pembangunan istana dan membantu
sebuah perdikan yang luluh-lantak akibat "geger segoro" tsunami.
Rupanya, telah lama dan dengan sabar mereka mengintai aktivitas istana
dari rumah-rumah sewaan kecil di sekitar istana dan dari nusa-nusa di
Segoro Tjina Kidul. Itulah ondergrondse actie.

Gede H. Cahyana
http://gedehace.blogspot.com

Kirim email ke