http://batampos.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=20896&Itemid=1
Bentrokan di UISU Bikin Malu Umat Islam
Jumat, 11 Mei 2007
MEDAN (BP) - Konflik Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) yang
berbuntut aksi penyerangan ke dalam kampus tersebut mengundang keprihatinan
banyak pihak. Tidak terkecuali Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Medan
Muhammad Hatta, mantan Ketua PP Muhammadiyah Prof Syafii Ma'rif dan Ketua
Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansyor Machsin.
Dihubungi koran ini tadi malam, Hatta mengaku terkejut dan Ma'arif bilang
konflik itu buat malu umat islam.
''Saya baru pulang dari Kuala Lumpur saat saya baca koran di Medan hari
ini (Kamis, red). Saya kecewa, terkejut dan sedih melihat apa yang terjadi di
kampus tertua di Sumatera Utara itu," ujar Hatta. Seharusnya, UISU sebagai satu
perguruan tinggi yang berbasis keagamaan menerapkan prinsip-prinsip iman
keislaman.
Hatta mengatakan bahwa bentrokan tersebut tidak perlu terjadi jika saja
kedua belah pihak pengurus UISU bisa lebih sabar dalam menyelesaikan
perseteruan yang ada.
''Saya sudah memberi imbauan jauh-jauh hari agar kedua belah pihak
bermusyawarah. Jika tidak ketemu kesepakatan, lakukan dengan jalur hukum. Bukan
dengan kekerasan fisik," katanya lagi.
Karena kasus ini sudah demikian parah dan bisa menyebabkan kerusakan
fatal bagi masa depan UISU sendiri dan umat yang bernaung di dalamnya, seluruh
pihak terkait harus mengambil langkah-langkah yang konkrit dan tegas.
Badan wakaf yang diamanatkan masyarakat untuk mengurus UISU bisa lebih
melibatkan masyarakat dalam musyawarah menyelamatkan UISU. Namun, bukan meminta
masyarakat untuk mengambil kendali melainkan supaya ada pihak ketiga yang bisa
melihat lebih netral untuk menyelesaikan konflik ini.
''Gubernur harus turun tangan juga. Pihak kepolisian harus bersikap
netral, seluruh stakeholder juga bersikap bijak, agar situasi bisa baik
kembali. Dengan demikian, ribuan mahasiswa bisa kuliah dengan tenang,"
tambahnya.
Sedangkan mantan Ketum PP (Pengurus Pusat) Muhammadiyah Prof Syafii
Ma'rif mengaku sangat malu dan marah mendengar kerusuhan di UISU (Universitas
Islam Sumatera Utara) yang hingga kini belum jelas penyelesaiannya. Guru Besar
Universitas Negeri Yogyakarta itu meminta kedua belah pihak yang berkonflik
secepatnya duduk bersama dengan difasilitasi seorang tokoh yang dipercaya
sebagai penengah.
''Saya marah. Tulis itu, bahwa saya sangat marah. Buang itu kata Islam di
nama universitas itu. Ganti saja dengan nama Universitas Penyubur Konflik
Sumut," tegas Syafii Ma'rif kepada koran ini, kemarin, saat dimintai tanggapan
mengenai konflik di UISU yang sudah menjelma menjadi konflik fisik yang
melibatkan massa kedua kubu.
Syafii mengaku sangat menyesalkan konflik di UISU. Pasalnya, UISU selama
ini dikenal sebagai salah satu universitas yang cukup baik di Sumut. ''Saya
tahu persis, UISU itu merupakan salah satu universitas yang cukup tua, sudah
ada sejak tahun 1950-an. Kok bisa seperti itu, saya malu sekali," tegas
intelektual muslim itu.
Dia meminta kedua kubu agar bisa berpikir jernih, tidak mengedepankan ego
kepentingan sendiri-sendiri, tapi lebih memikirkan kepentingan umat, dunia
pendidikan, dan nasib mahasiswanya sebagai generasi bangsa. Tokoh nasional asal
Sumbar itu menyarankan, kedua pihak secepatnya mengambil inisiatif untuk
menunjuk seorang tokoh yang bisa sebagai penengah konflik. ''Lantas duduk
semeja, jangan berlama-lama merusak peradaban. Dunia kampus itu dunia
peradaban, bukan dunia kekerasan," ungkapnya dengan nada tinggi. Saat ditanya
apakah dirinya sanggup bila ditunjuk sebagai penengah, dia menjawab, "Inisiatif
harus dari mereka, jangan dari saya. Tunggu dulu inisiatif mereka, nanti saya
baru memberi jawaban."
Machsin Ketua PW GP Ansyor juga berharap semua pihak yang terlibat
pertikaian di UISU dapat menahan diri dari perbuatan anarkis serta tidak
terpengaruh dengan isu-isu yang tak dapat dipertanggungjawabkan yang sengaja
diciptakan oleh provokator. ''Semua pihak harus mawas diri dan dapat menahan
diri agar konflik tak meluas dan dimanfaatkan oleh orang yang ingin memecah
belah umat islam," sebutnya.
Polisi Ambil Alih Pengamanan UISU
Hingga kemarin 200 satpam telah dievakuasi dari Kampus UISU di Jalan
Sisingamangaraja, Medan, Sumatera utara. Pengamanan diambil alih sepenuhnya
oleh polisi. Belum diketahui kapan polisi akan meninggalkan kampus yang tengah
kisruh itu.
''Sebelumnya tidak diduga akan terjadi bentrokan lanjutan, jadi evakuasi
dilakukan, dan pengamanan sementara dilakukan polisi,'' kata Kepala Poltabes
Medan AKBP Bambang Sukamto usai proses evakuasi para satpam, kemarin.
Dikatakan Bambang, dengan pengamanan polisi, diharapkah situasi akan
lebih terkendali. Namun pengamanan ini hanya bersifat sementara, sebab, polisi
segera penyerahkan kembali pengamanan kepada yang berwenang, dalam hal ini
Yayasan UISU yang sah menurut hukum.
Bambang membantah, proses penanganan polisi lamban, sebab hampir dua jam
lebih massa mahasiswa dan masyarakat terlibat saling lempar batu di kampus UISU
pada Kamis sore.
''Kita punya pengalaman, dan jika polisi masuk ke kampus, nanti akan
menjadi persoalan. Namun karena mengingat situasinya, maka polisi harus
bertindak. Tindakan ya mengevakuasi para satpam dari kampus. Dengan demikian
tidak ada lagi bentrokan,'' kata Bambang.
Seiring dengan dievakuasinya para satpam ke Markas Brimob Sumut di Jalan
Wahid Hasyim, massa yang mencapai sekitar 1.000 orang di sekitar kampus
termasuk massa yang aktif saling lempar sekitar 300 orang, sudah mulai
meninggalkan kampus tersebut. Hujan yang turun, semakin mempercepat massa
membubarkan diri.
Jalan Sisingamangaraja, Pelangi dan Turi yang semula sempat ditutup, kini
sudah dibuka kembali. Mobil-mobil yang lewat, melindas batu-batu sisa lemparan.
Sejumlah polisi berpakaian sipil terlihat masih berada di lokasi.
Sedangkan polisi anti huru-hara berseragam lengkap, terkonsentrasi di Mapolsek
Medan kota, di Jalan Stadion Medan, sekitar 500 meter dari kampus.
Kerugian Akibat Bentrokan Rp 30 Miliar
Penguasaan kampus Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) selama enam
bulan oleh Yayasan UISU versi Helmi Nasution, menyebabkan berbagai kerusakan.
Jika dihitung-hitung, kerugian akibat kerusakan itu mencapai Rp 30 miliar.
''Barang-barang yang rusak, antara lain komputer-komputer, mobiler kantor
di sejumlah ruangan, maupun kerusakan pada beberapa bagian gedung,'' kata Usman
Pelly, Ketua Bidang Organisasi dan Sumber Daya Manusia (SDM) Yayasan UISU versi
Syahriani di Medan, Sumatera Utara, kemarin.
Pasca kembalinya kelompok Syariani ke kampus, yakni kelompok yayasan yang
diakui pemerintah, maka pembersihan dan perbaikan akan dilakukan. Waktu libur
kuliah yang berlaku mulai 9 - 12 Mei 2007, dimaksudkan sebagai waktu untuk
menormalkan kembali situasi di kampus.
''Mobiler yang rusak, terutama di ruang dekan dan yayasan, tetapi di
ruang-ruang belajar mahasiswa, relatif tidak ada kerusakan berarti. Jadi
perkuliahan pada Senin nanti, sudah bisa dilakukan seperti biasa,'' kata Usman
Pelly.
Usman menyatakan, apa yang dilakukan kelompoknya pada Rabu 9 Mei 2007
kemarin, merupakan upaya untuk masuk kembali ke kampus dan mengusir
preman-preman yang selama enam bulan terakhir bercokol di kampus tersebut. Aksi
para preman di kampus itu, menyebabkan bermacam persoalan.
''Waktu kami masuk pagi kemarin, bahkan kami menemukan ada wanita di
dalam kampus sedang berkencan. Selain itu ada beragam senjata tajam. Jadi
memang selama ini preman yang menguasai,'' kata Usman Pelly. (rpg
<<pdf_button.png>>
<<printButton.png>>
<<emailButton.png>>
