Dear Yumelda Chaniago,

sorry saya lama tdk punya waktu baca e-mail. Menurut penilaian saya anda 
memang cukup sensitip, sayangnya kesensitipan itu agak berat sebelah. 
Anda bisa menilai apa yg tersirat dari postingan saya menanggapi 
postingan ttg telur tsb. Namun apakah anda juga sensitip terhadap akibat 
sensasi-sensasi demikian ini dilingkungan masyarakat majemuk Indonesia 
Raya?

Anda merasa tersinggung atas tanggapan saya, mungkin juga banyak miliser 
lain yg punya perasaan yg sama namun tdk diungkapkan. Tapi bukankah 
penomena demikian ini perlu ditanggapi dgn serius? Siapakah mereka yg 
mempostingkan semua issue ttg. lafal Allah itu? Apakah motivasi mereka?

Menjawab pertanyaan I ttg siapa, hampir dapat saya pastikan mereka 
adalah penganut agama Islam. Ok tidak apa-apa. Setiap orang bisa bangga 
atas pandangan hidupnya, dapat saya hargai dengan catatan pandangan 
hidup yg membangun sesama manusia. Tapi sebagai orang berpendidikan 
seperti yg anda ungkapkan, seharusnya kita menunjukkan kwalitas 
pandangan hidup/agama kita itu bukan?

Untuk itulah saya menanggapi postingan itu dengan sedikit kadungan 
provokatif dalam arti menantang sikap kritis kita terhadap sesuatu. 
Itulah sebabnya saya sangat mencintai cara penulisan Indonebia. 
Tulisannya sering disalah mengerti, tapi bagi saya dia adalah orang pintar.

Contohnya, ketika digembor-gemborkan lafal Allah di api Lapindo, berikut 
dikirimkan gambar lafal Allah di Ombak Tsunami, maka muncul lagi lafal 
Allah dalam bunga yg merambat di hutan yg menyemburkan bau busuk, lafal 
Allah di bulu Kucing, Indonebia berkomentar, jangan-jangan sebentar lagi 
lafal Allah akan muncul di bulu Babi oleh si kafirun, gitu kira-kira 
tulisan Indonebia, namun sayangnya para pencinta lafal ini belum 
menyadari sindiran Indonebia.

Apa sih makna dari pemunculan lafal ini? Dengan terbitnya matahari 
setiap pagi dan kita semua boleh bangun dengan segar seharusnya cukup 
bagi kita sebagai pertanda kehadiran Allah kita yg Maha Kuasa. Sebagai 
orang-orang intelektual, kita semua harusnya tahu bahwa rotasi bumi dan 
segala season di alam semesta ini tdk mungkin sedemikian teratur kalau 
tdk ada yg mengendalikan. Atau yg paling sederhana dan naif adakah 
diantara kita yg bisa mempertahankan nafas kehidupan ini? Adakah 
defenisi syarat-syarat kematian secara defenitif? Jawabnya TIDAK. Setiap 
orang dalam setiap kondisi dpt mati dalam sekejap.

Ok, spy tdk terlalu menyimpang, menurut saya jika ada pemunculan berupa 
tanda-tanda supernatural, seharusnya kita semakin mawas diri dan 
merendahkan diri sekaligus. Saya tdk bermaksud menistakan atau bahkan 
menyangkali adanya penomena-penomena tersebut, tapi sebaliknya 
_menggarisbawahi. _

Kalau lafal Allah itu nampak nyata di api Lapindo, sedang dampak yg 
nyata akibat semburan api dan lumpur itu kota sidoarjo hancur. Mari kita 
semua, terutama umat Islam yg besar di Indonesia, merenungkan apa 
message yg ingin Tuhan Allah sampaikan? Mungkin Allah telah murka sebab 
banyak orang mengaku pengikut dan pemuja Allah namun tingkah laku mereka 
tdk membawa hormat pada Allah.

Pemegang kekuasaan di NKRI mayoritas menyembah Allah, tetapi negara ini 
hancur berantakan? Setelah banjir Jakarta, ada ajakan utk doa 
pertobatan. Mudah-mudahan dengan sentuhan-sentuhan lafal ini mencapai 
masyarakat pembeli telur, semua rakyat Indonesia semakin waspada dalam 
menggunakan nama Allah.

Tentu saya langsung teringat keadaan di Poso. Bukanlah rahasia lagi 
bahwa penjagalan antar sesama yg terjadi di sana lagi-lagi menggunakan 
nama yg sama. Jika kita mundur kebelakang, peristiwa di Ambon, peristiwa 
mei 98, peristiwa di Bali, semua ini terjadi dan para pelaku selalu 
menyerukan nama Allah.

Menurut saya justru inilah yg layak disebut sebagai penistaan atas nama 
Allah.

Saya anggap Mediacare adalah arena yg layak dipakai sebagai anjang 
mendiskusikan segala sesuatu secara terbuka dan secara intelektual. Mari 
teman-teman beragama Islam, kaum intelektual di Mediacare, bawalah 
suara-sauara halus ini utk memperbaiki cara berpikir umat secara kritis 
dilingkungan anda.

Tidak perlu kita menggembar-gemborkan namaNya tanpa makna pertobatan yg 
mendatangkan kesejahtraan bersama. Mari kita mencermati semua fakta dgn 
cara berpikir sehat dan kritis. Di samping fakta adanya lafal Allah di 
api lapindo, di ombak di telur, juga ada fakta yg terjadi di Poso dan 
telah diwartakan di media TV,Internet dan media tulis seperti Kartini dll.

Kenapa kita tdk menanggapi kedua penomena ini dari cara berpikir yg sama 
misalnya, penomena lafal Allah merupakan PERINGATAN agar jangan 
sembarangan menggunakan nama Allah tanpa pengamalan ttg kesucian Tuhan 
Allah itu, dan cinta kasihNya terhadap manusia ciptaanNya, sementara 
penomena kuasa menggunakan nama Yesus adalah demi mendatangkan kebaikan 
bagi sesama. Bukankah keduanya *positif*?

Dalam hal ini kedua belah pihak baik Kristen maupun Islam diperingatkan 
untuk mengagungkan sesembahanNya dalam proporsi yg tepat dan benar demi 
kepentingan bermasyarakat? Yesus juga akan murka melihat kejahatan, tapi 
yg kita alami Dia sedang menyembuhkan hati orang-orang yg luka di Poso 
dengan mendatangkan kesembuhan bagi siapa saja terutama mereka yg tak 
mampu membayar pengobatan yg cukup mahal di NKRI. Rakyat jelata yg 
menderita tanpa ansuransi kesehatan.

Dimanakah anda-anda yg masih berpikir positip dan intelektual itu?

Bukan Allah yg salah, tapi manusianyalah yg harus koreksi diri. Mumpung 
NKRI masih menjunjung tinggi Pancasila, mari kita kembali menjadi 
manusia-manusia intelektual yg beriman dan mengamalkan iman sesuai 
dengan nurani kemanusiaan ditambah dengan kontrol intektual kita sebagai 
masyarakat berpendidikan/berilmu.

Kiranya kandungan yg tersurat semakin dapat dipahami demi kedamaian dan 
bukan sebaliknya.

PS e-mail ini sempat dibounce mungkin karena saya lupa menghapus 
postingan dibawahnya alias kepanjangan.

Kirim email ke