Sdr. Indra Razak,
(yang asli orang Indonesia, bukan penggiat NGO) - sama dong dengan saya
Berikut adalah url laporan dari Minamata Institute:: silahkan baca dengan
kepala dingin hingga titik komanya.
http://www.buyatbayfacts.com/pdfs_docs/who_report.pdf
Kesimpulan laporan tsb. adalah:
* kadar merkuri di rambut penduduk Buyat tidak cukup untuk menjadikan mereka
tercemar. Tidak terlihat adanya akibat dari pada pencemaran merkuri di penduduk
Buyat, bahkan sebaliknya kadar merkuri di rambut penduduk di teluk tetangga
(Totok), lebih tinggi.
* Kadar merkuri di air dan tanah di teluk Totok lebih tinggai dari di teluk
Buyat, meskipun kadar merkuri tidaklah tinggi seperti yang terbukti dengan
rendarhnya kadar merkuri di ikan.
* Tidak adanya kontaminasi merkuri dan sianida di teluk2 Buyat dan Totok
* Kadar total dari pada konsentrasi logam di rambut penduduk Buyat dan Totok
rendah, tidak cukup tinggi untuk menyebabkan mereka tercemar.
Menurut laporan International Herald Tribune dibawah ini:
http://www.iht.com/articles/ap/2007/04/24/business/AS-FIN-Indonesia-Newmont-Trial.php
Saksi2 yang katanya sakit yang dikemukakan oleh jaksa hanyalah beberapa orang
saja dan keluhan mereka kebanyakan hanyalah gatal2 saja.
Mengenai US $30 juta out of court settlement ini bukannya pertanda bahwa
perusahaan tsb. mengaku salah. Ini sering dilakukan oleh perusahaan2 maupun
perorangan yang dituduh di pengadilan perdata, karena dianggap ini adalah jalan
yang termurah dan tercepat. Jadi keputusan seperti ini diambil ditilik dari
segi keuangan dan waktu.
Saya lebih percaya laporan2 dari WHO/Minamata Institute dll. dibandingkan
dengan laporan dari kepolisian di Menado, ter-lebih2 pada waktu diminta supaya
diselidiki ulang, mereka menolak.
Di url dibawah ini adalah suatu press release penduduk di Buyat yang
mengatakan a.l. ada yang meng intimidasi mereka. (kalau di scroll dibawah maka
anda akan melihat versi aslinya dalam bah. Indonesia).
http://www.buyatbayfacts.com/pdfs_docs/Press%20Release.pdf
Oh, ya ada yang menuduh Newmont menggunakan cara2 pembuangan yang sudah kuno.
Bukti2 memperlihatkan bahwa meskipun cara pembuangan kuno tsb. tetap saja
tidak ada pencemaran yang menjadikan penduduk sakit.
Mengenai usaha memperbaiki situasi di Indonesia
Memang memerlukan waktu yang lama. Tetapi yang paling penting adalah tekad
dari yang dipemerintahan untuk menerapkan kebijaksanaan2 yang baik bagi
masyarakat, melindungi semua penduduk, dan tidak melanggar ham nya semua
penduduk.
Saya tidak melihat adanya itu di pemerintah, dari dulu maupun yang jaman
sekarang. Masing2 hanya memikirkan kantong dan kepentingan diri sendiri.
Sociopathos Limited <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bung, terima kasih Anda 'mengkritisi' masyarakat Buyat dan rumor merkuri tanpa
ada pretensi. Sayangnya, Anda hanya mengutip berita-berita di koran tentang
penelitian itu, tanpa pernah membaca dokumen penelitian itu hingga titik
komanya. Kesalahan umum yang selalu membuat saya takjub. Kok bisa ya?
Indra Razak
(aseli orang Indonesia, bukan penggiat NGO)
PS:
Saya berbagi sedikit data dan informasi yang harus dibaca dengan kepala dingin.
Data 1: Tim kajian Menneg LH juga mengakui bahwa kadar arsenik (bukan merkuri)
yang ada di daerah sekitar Pante Buyat lebih tinggi dan harus dikaji lebih
lanjut. Silakan buka dokumen resmi Menneg LH yang mudah didapat di
Internet:[http://www.menlh.go.id/i/art/pdf_1098163289.pdf]
Data 2: Tentang dampak arsenik, merkuri, dkk dalam jangka waktu tertentu (NMR
beroperasi sejak 1996) perlu kajian kesehatan dan genetis khusus. Beban
anggaran tidak dipusatkan di Depkes, lagipula hanya staf Depkes (jabatan:
non-eselon) yang jadi anggota tim Menneg LH ini. (sumber: orang dalam Depkes)
Data 3: Saat pengadilan memutuskan, belum ada kajian lebih lanjut karena
anggaran (di departemen manapun) untuk kajian arsenik dan substansi lain
(terutama tentang dampak kesehatan/genetis) belum turun.
Kesimpulan sementara: Luka rakyat Buyat adalah murni karena birokrasi Indonesia
Raya. As simple as that, tapi maaf, luka itu jangan ditambah lebar, Bung.
PSS:
Koreksi pasar hanya butuh sebuah kebijakan dan sepaket peraturan. Dalam waktu
singkat, industri ikut apa kata Pemerintah.
Koreksi pemerintah? Butuh waktu lebih lama dan a long list of unbearable
efforts.
Belum ada memang penelitian berapa banyak orang Indonesia yang pandai secara
akademis dan emosional (lulusan Binus atau ITB atau UI) yang merangkak karier
di birokrasi. Yang saya tahu memang banyak dekan dan rektor 'loncat' jadi
menteri atau dirjen. Saya malah ingat beberapa tahun silam, kawan-kawan saya
yang tidak lulus ITB UI dkk, atau tak mampu bayar masuk ke Trisakti Binus dkk
(boro-boro terbang ke luar negeri), akhirnya memilih masuk STAN (sebuah lembaga
pendidikan yang menghabiskan uang rakyat yang seharusnya diliberalisasi saja,
kata Prof Didik Rachbini di satu forum tahun lalu). Lihat kasus IPDN? Sebuah
kampus lain dengan anggaran negara (baca: uang rakyat) yang menerapkan
militerisme dari ujung kaki hingga dalam otak. Jadi, butuh waktu lama untuk
mengkoreksi pemerintah.
amartien <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Indra: Bung, sadarkah kalau Anda mengetik tanpa
melihat langsung ke Freeport atau Newmont (tapi hanya
membaca penelitian, mungkin cuma dari internet bukan
dokumen aseli penelitian tersebut)? Bacakah titik koma
hingga tuntas? Sadarkah kalau email Anda yang
mengumbar penelitian dari seluruh dunia itu hanya
menyilet luka lebih dalam bagi rakyat Minahasa?
Dokumen penelitian itu tidak dipublikasikan ke
masyarakat sana, yang tak bisa akses ke internet.
Punya komputer pun tidak, Bung.
amartien: Berita mengenai hasil laboratorium2 tsb. ada
di surat2 kabar Indonesia. Seperti yang saya sudah
tulis di posting saya sebelum ini, sayangnya, banyak
opini2 yang ditulis di media yang 'melupakan' hal ini.
Inddra: Coba dibalik, kalau ada sepupu atau nenek Anda
hidup dan berkudis seumur hidup di sana, apa Anda akan
membeberkan dokumen yang kian memberatkan hidup
saudara-saudara Anda?
amartien: Saya akan mencari tahu apa yang menyebabkan
hal tsb.
Permulaan dari pada hal ini adalah pada waktu seorang
penduduk menderita penyakit dan kemudian seorang
dokter umum di Manado mengatakan bahwa itu adalah
dikarenakan oleh merkuri, tanpa melaksanakan
penyelidikan lebih lanjut. Kemudian dari sini
berkembang dan hasilnya kita sudah tahu semua, yaitu
dengan dibawanya Newmont ke pengadilan.
Indra: Saya tak punya saudara sedarah di sana, tapi
tepa selira sedikit lah. Have some sense.
amartien: lookn into a mirror.
Indra:
PS.
1. Government failure memang sudah berakar-urat di
Indonesia, tapi jangan hanya disalahkan. Dikoreksi,
Bung.
amartien:
Setuju. Saya tidak bisa melihat bagaimana 'koreksi'
itu jika anda dan orang2 yang sependapat dg. anda
ngotot bahwa Newmont mencemarkan perairan di teluk
Buyat. Meng koreksi sesuatu adalah dengan kembali ke
persoalan asalnya. Yaitu, selidiki mengapa orang tsb.
sakit seperti itu. Seperti yang saya sebut diatas,
diagnosa dokter yang per-tama2 memeriksa orang sakit
tsb. hanyalah diagnosa tanpa penyelidikan di
laboratorium, dan dimana dokter tsb. sama sekali bukan
ali mengenai penyakit Minamata.
Indra:2. Ugh, Freeport itu tak hanya tembaga tapi emas
juga (btw, mekanisme emas untuk stabilitas ekonomi
dunia pernah tahu 'kan?) Karena gak bisa baca kontrak
perpanjangan Freeport (kontrak dalam Bahasa Inggris,
d'uh) makanya bagi hasil Indonesia cuma keraknya aja.
Bisakah lawyer kampung bertarung global? Btw, anggaran
negara untuk bayar lawyer (aka staf ahli) hanya 12
juta per bulan potong pajak dan harus warga negara
Indonesia ber-KTP. (pernah tahu mekanisme APBN kita
yang bolong-bolong kayak keju nikmat buat tikus
koruptor?) Think macro, Bung.
amartien:
Saya tahu mengenai kontrak mengontrak pem. Indonesia.
Yang ikut andil dari pem. Indonesia didalam negosiasi
kontrak pastilah meminta bayaran. Disitulah kuncinya
jika seandainya kontrak bagi hasil menurut anda tidak
sepadan.
Freeport, ataupun perusahaan luar negeri dari manapun
juga, tidak bisa berbuat apa2 di indonesia jika itu
tidak dijinkan didalam perjanjian dengan pemerintah
indonesia.
Seperti yang saya sudah bilang sebelum ini, banyak
sekali orang Indo yang pandai2. Saya selalu senang
sekali melihat banyaknya tenaga ahli Indonesia
terpakai di luar negeri. Bahkan ada juga orang
indonesia yang sampai bekerja di Indonesia dengan
dasar gaji orang Amrik (umpamanya). jadi dia itu
bekerja di Indonesia, tetapi gaji dollar. Hebat
sekali bukan? saya pun sangat bangga akan mereka2
itu. Berbunga hati melihat mereka, ter-lebih2 lagi
ada dari mereka2 itu yang jauh lebih muda dari saya.
(Nulis ini pun sambil senyum senang).
jadi sekali lagi, janganlah berpikiran begitu minder
mengenai kepandaian orang2 Indonesia. Banyak yang
pandai. Fakta adalah bahwa jika pem. Indonesia
memberikan kontrak kerja ke suatu perusahaan, baik
perusahaan itu adalah perusahaan domestik maupun luar
negeri, kontrak besar maupun kecil, banyak sekali
pengeluaran 'yang terselubung', yang kemudian
akhir2-nya merugikan rakyat Indonesia sendiri, tetapi
menjadikan bank account pejabat yang terlibat kontrak
tsb. menjadi membengkak.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com