Dear bang Radityo,

Kalau boleh saya memberikan masukan kepada Anda.

-          Anda sebagai moderator MEDIACARE tidak berhak menutup sebuah
diskusi untuk kemudian memberikan kesimpulan pribadi di luar konteks
pembicaraan dengan kendali yang Anda pegang. Terus terang sangat-sangat
tidak etis dan sangat disayangkan dengan kredebilitas Anda.

-          Beberapa opini Anda justeru menjauhkan dari substansi diskusi
yang telah berjalan, beberapa yang dapat saya kerucutkan dari pendapat Anda
sebagai berikut

o   Substansi permasalahan sebenarnya adalah pada usaha pihak yang tidak
menerima jilbab untuk membatasi ruang gerak para pengguna jilbab atas dasar
persepsi yang mereka buat, dan dari hal inilah diskusi berjalan, namun Anda
malah membuat kesimpulan di luar substansi ini.

o   Kita tidak sedang berbicara tentang pemaksaan jilbab ke khalayak umum,
karena bukan itu yang sedang dibicarakan, dan bahwa sudah dimaklumi oleh
semua penganut Islam bahwa jilbab bukan untuk dipaksakan namun menjadi
sebuah pilihan dengan konsekuensi masing-masing

o   Tentang yang suka ribut menurut Anda, justeru bukan meributkan
jilbabnya, tapi meributkan mengapa mereka harus membatasi ruang gerak para
pengena jilbab dan memusuhi mereka?

o   Orang Islam tidak sama dengan orang Arab, jadi sangat naïf kalau
menjadikan orang Arab sebagai standarisasi keislaman sebagaimana kesimpulan
Anda di paragraph terakhir

o   Islam warna-warni adalah sebuah aksioma yang pertama kali diluncurkan
oleh Ulil Abshor Abdallah, S. Theologi. Sepertinya tanggapan Anda atas
aksioma ini hanya mengutip mentah-mentah dari pendapat bang Ulil daripada
pemahaman Anda atas Islam itu sendiri

 

Maka mungkin secara psikologis amat wajar kalau para muslimah sangat
menginginkan berdirinya sebuah Negara yang religius tempat dimana mereka
bisa beribadah dengan tenang, dikarenakan ternyata kompromi politik tetap
menginginkan pendiskreditan atas diri mereka.

 

Wassalam,

--wqs

 

 
<http://groups.yahoo.com/group/mediacare/message/49734;_ylc=X3oDMTJybnU4ZXBv
BF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzMzNDkxNjIEZ3Jwc3BJZAMxNzA2MTczNTEyBG1zZ0lkAzQ5NzM0
BHNlYwNkbXNnBHNsawN2bXNnBHN0aW1lAzExNzk4MTg4Njk-> Re: Perempuan muslimah
berjilbab  bukan hambatan berkarir 

Posted by: "Radityo"
<mailto:[EMAIL PROTECTED]
lbab%20%20bukan%20hambatan%20berkarir> [EMAIL PROTECTED]
<http://profiles.yahoo.com/radityo_dj> radityo_dj 

Mon May 21, 2007 8:46 pm (PST) 

Mari kita sudahi saja diskusi soal jilbab yang tak akan memberikan 
manfaat positif bagi kemajuan negeri ini baik di masa kini maupun di 
masa depan. Jilbab adalah produk sebuah keyakinan dan budaya ciptaan 
masa lalu yang akan selalu dipermasalahkan di masa kini - sebuah 
benturan peradaban.

Bagi saya, silakan saja kaum perempuan pakai jilbab, asalkan mereka 
tidak memaksa kaum perempuan lainnya untuk juga mengenakannya. Misal 
dengan sindiran, "Oh kamu pasti belum mendapatkan hidayah seperti 
saya karena belum berjilbab."

Saya tak anti jilab. Beberapa teman perempuan saya ada yang 
berjilbab, banyak juga yang tidak berjilbab. Isi otak kaum perempuan 
yang berjilbab juga tak seragam kok. Ada yang pinter ada yang pas-
pasan saja, ada yang moderat, sosialis, kiri, kanan, tengah, kaya, 
miskin, dan juga ada beberapa yang puritan. Nah, yang suka ribut 
jelas termasuk mereka yang puritan. Islam itu warna-warni, harus 
kita akui. Kalau ada yang mengklaim Islam itu satu jelas bohong, 
karena tak sesuai dengan kenyataan.

Kemarin saya lihat foto dari Bloomberg, ada sebuah acara World 
Economic Forum yang digelar di Laut Mati, Jordania. Begitu modisnya 
Ratu Rania yang tak berjilbab. Rambutnya panjang tergerai. Begitu 
juga istri PM UAE bernama Putri Haya yang juga tak berjilbab - 
apalagi berburka yang cuma kelihatan mata. Jadi silakan Anda nilai 
sendiri, sudah lebih Arabkah kita dari orang Arab itu sendiri?

 

Kirim email ke