Sekadar tambahan, setahu saya,  seragam biarawati memang hanya digunakan oleh 
biarawati. Pertanyaan "KEnapa yang bukan pelayan gereja tidak menggunakan 
jilbab?" Jawabannya, ya karena tidak sembarang orang bisa menggunakan kerudung 
serta seragam biarawati. Untuk bisa mengenakan itu, seorang biarawati harus 
melewati masa2 pergumulan, penggemblengan, pendidikan yang tidak mudah dan 
tidak sebentar. Maka dari itu tidak semua perempuan berhak menggunakan kerudung 
dan seragam itu. Seragam itu bukan untuk menutupi aurat tetapi sebagai seragam, 
yang menunjukkan bahwa seseorang itu telah terpilih menjadi pelayan 
Tuhan/gereja yaitu dengan sebutan biarawati atau suster (perempuan) -- 
seseorang yang sudah melewati pergumulan, penggemblngan, pendidikan hingga 
berhak atas seragam itu.  Kalau pria ya biarawan/pastor (untuk bisa menggunakan 
jubah itu, prosesnya juga sama dengan menjadi biarawati).
   
   
   
  debbie sumual <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            FYI aja untuk Wido,
   
  Kerudung biarawati Katolik itu bukan seperti jilbabnya perempuan muslim. 
Tidak ada aturan rambut gak boleh kelihatan total, karena biarawati itu tetap 
kelihatan kok rambutnya, bahkan poninya. Emang tujuannya bukan nutupin rambut 
karena rambut tidak dianggap sebagai hal yang memancing napsu lantas 
menimbulkan dosa.
   
  Dari jaman dulu sampai sekarang, seragam biarawati itu mengalami 
perkembangan. Dan baju biarawati yg di Eropa tentu beda sama kita yang tinggal 
di negara tropis. Ini menjawab juga menjawab mengapa roknya hanya selutut. 
Emang itu panjang rok yang masuk akal sih. Panas bok! 
   
  Dan pertanyaan Anda: mengapa hanya pelayan gereja (biarawati) yang memakai 
kerudung... bagaikan bertanya mengapa hanya anak SD yang pakai kemeja putih dan 
celana pendek merah. YA KARENA ITU SERAGAMNYA!
   
  Tambahan FYI, again, seragam biarawati itu bisa dilepas-pakai kapan saja, 
tergantung sikon. Saya punya saudara suster yang kalau lagi acara keluarga atau 
acara off duty lainnya tampil preman alias pakai blus dan celana panjang. 
Makanya, pikirannya musti terbuka, Wido. Ini bukan baju muslim yang banyak 
aturan dan sanksi sosialnya.

Wido Q Supraha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
      
Tentang orang Katholik berjilbab, saya tidak yakin. Yang saya tahu, yang
sangat konsisten mengenakan jilbab adalah para suster gereja atau pelayan
gereja saja, itupun roknya hanya sebatas lutut, tidak seperti kisah
biarawati di masa dahulu kala seperti suster Theresa misalkan yang
mengenakan jilbab secara penuh. Tentu ini juga menjadi pertanyaan, mengapa
yang bukan pelayan gereja tidak mengenakan jilbab?


  .
 

  

         

       Shape Yahoo! in your own image.  Join our Network Research Panel 
today!http://us.rd.yahoo.com/evt=48517/*http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7
 hot CTA = Join our Network Research Panel

Kirim email ke