IBRAHIM ISA BERBAGI CERITA Jum'at, 25 mei 2007. --------------------- KASUS MUNIR DAN AUNG SAN SUU KYI DI MEDIA MANCANEGARA
Beberapa wartawan/penulis karyawan RADIO HILVERSUM, atau resminya RADIO NEDERLAND, SEKSI BAHASA INDONESIA (RANESI), seperti Tossi, Mung Murbandono,Eka Tanjung dan Bari Muchtar, kukenal baik. Mereka berusaha menulis dengan 'obyektif'. Menurut penjelasan mereka sendiri, Radio Hilversum, bukan 'His Master's Voice' . Maksudnya bukan suara pemerintah, seperti VOA. RANESI, mengaku, mengambil sikap bebas dalam pemberitaannya. Kira-kira lebih mirip dengan BBC, begitu. Namun, sebaiknya biarlah pendengar Radio Hilversum sendiri memberikan penilaiannya, apakah Radio Hilversum itu benar obyektif. Apakah benar mereka tidak meletakkan kepentingan Belanda diatas kebenaran dan obyektifitas. Ulasan-ulasan pers Radio Hilversum kali ini, mengenai Aung San Suu Kyi, yang mengutip dua s.k. Amerika, 'The International Herald Tribune', maupun mengenai Munir, yang mengutip harian 'The Los Engeles Times', kufikir berusaha ditulis dengan obyektif. * * * Dalam dua kasus tsb baik mengenai Munir maupun mengenai Aung San Suu Kyi, siapapun yang bermata jeli, akan melihat, bahwa pembawa bencana, jelas sekali adalah penguasa. Mengenai pembunuhan terhadap Munir, memang harus ditunjukkan bukti-bukti (meskipun penguasa berusaha untuk menyembunyikannya), bahwa benarlah adanya, adalah penguasa itu sendiri, melalui badan rahasianya, adalah dalang sesungguhnya pembunuhan terhadap aktivis dan pejuang HAM Indonesia Munir. Sedangkan mengenai kasus Aung San Su Kyi, apakah masih diperlukan penjelasan lagi bahwa rezim militer Myanmar, junta militernya, adalah suatu rezim yang tidak peduli pada hak-hak azasi manusia, dan hak-hak demokrasi. Dalam pemilu beberapa tahun yang lalu, rakyat Myanmar sudah menjatuhkan pilihannya pada Aung San Suu Kyi, untuk memimpin negara dan bangsa. Tetapi para jendral dari junta militer Myanmar itu, kasarnya, telah meludahi suara rakyatnya sendiri. Aung San Suu Kyi malah dipenjarakan dan kemudian dikenakan 'tahanan rumah', kebebasannya direnggutkan dengan cara lain. Kita ingat selalu betapa Presiden Sukarno dikenakan 'tahanan rumah sampai mati' oleh Jendral Suharto. Anéhnya, dan juga memalukan sekali, adalah sikap negeri-negeri ASEAN. Mereka kumpul-kumpul itu, terbukti, hanya untuk pamer saja. Dengan dalih 'tidak mencampuri urusan dalam negeri' masing-masing, mereka secara hakiki tidak berbuat apa-apa untuk membela demokrasi di Myanmar. Yang mereka utamakan adalah cari-cari peluang bagi masing-masing penguasa dan dunia bisnisnya, melalui asosiasi ASEAN tsb sebanyak mungkin menarik keuntungan ekonomi, yang tokh akirnya keuntungan utamanya tidak untuk kepentingan rakyat banyak. Bagi penguasa Indonesia lebih parah lagi, lebih memalukan lagi. Karena bukankah, kalau tidak salah, Indonesia jadi anggota Komisi HAM PBB? Lalu, apa peranannya dalam meembela HAM, hak-hak manusia dari manusia pejuang HAM Munir dan hak manusia Aung San Suu Kyi? Kebalikannya yang terjadi. Dari sumber yang boleh dipercaya, terbetik informasi mengenai sikap Indonesia di World Bank. Yang juga memalukan. Menurut info tsb, wakil Indonesia di World Bank, bersama wakil Pakistan, telah memberikan suara simpati dan dukungan Indonesia kepada Direktur World Bank Wolfowitch untuk bertahan terus sebagai direktur Bank Dunia. Padahal direktur World Bank Wolfowich tsb telah digugat dari segala penjuru dan dituntut supaya mundur, karena ulahnya, yang orang Belanda bilang terlibat dalam 'vriendjes politiek', atau 'nepotisme', 'meng-anakmaskan pacarnya sendiri'. Dalam hal ini kita lihat betapa dua surat kabar Amerika seperti juga, Radio Hilversum, media mancangera, memberikan suara yang boleh dibilang ada simpati pada pejuang-pejuang kebenaran dan keadilan, Munir dan Aung San Suu Kyi. * * * Maka kusarankan pembaca yang kebetulan tidak mengikuti siaran Radio Hilversum, membaca kutipan di bawah ini. Inilah ulasan Radio Hilversum yang dimaksud itu: PENINDASAN TERHADAP HAK SUCIWATI JADI KENDALA TEMUKAN KEBENARAN Kita beralih ke laporan tentang ancaman-ancaman terhadap istri Munir, yang muncul di harian The Los Angeles Times. Laporan itu berjudul Mencari Keadilan di Indonesia untuk Munir. Istri Munir dikenai banyak ancaman dalam mencari jawaban. Penyidikan yang diperbarui adalah ujian bagi presiden. Ancaman-ancaman berupa surat kaleng ataupun melalui telepon, isinya tetap sama: "Hentikan menyalahkan militer Indonesia atas pembunuhan suamimu, atau kau menjadi korban berikutnya." Ancaman pengecut itu selalu muncul sebelum Suciwati pergi keluar negeri, untuk mencari dukungan pemerintah-pemerintah manca negara atas perjuangannya mencari keadilan. The Los Angeles Times mengutip Suci yang mengungkapkan para pengancam yang tidak berani tampil itu mencapnya sebagai pengkhianat bangsa dan merusak kesatuan Indonesia. Bahasa mereka sangat militeristik, namun Suci tidak perduli. Kalau ia bercerita tentang teror yang dialaminya, berarti ia menyebarkan terror itu sendiri. Charmain Mohamed dari Human Rights Watch mengatakan; penangkapan personil Garuda memang tanda yang baik, tetapi polisi tidak bertindak serius kalau hal itu mengarah ke dinas rahasia BIN. Barang-barang bukti mengungkapkan hubungan Pollycarpus dengan dinas rahasia BIN, termasuk sejumlah hubungan telefon antara Pollycarpus dan Muchdi Purwopranjono, wakil direktur BIN. "Ketika Muchdi ditanya mengapa ada rekaman kontaknya dengan Pollycarpus, ia menjawab bahwa telepon genggamnya bisa dipakai oleh siapa saja", ungkap Charmain, "Itu keterlaluan. Telepon genggam saya saja tidak bisa dipakai oleh sembarang orang, padahal saya hanya seorang sipil". The Los Angeles Times mengakhiri laporan dengan mengutip ucapan Suciwati; "Bagi saya di Indonesia tidak demokrasi. Kami baru bisa mengatakan Indonesia demokratis bila orang-orang yang melanggar keadilan diseret ke pengadilan". Demikian The Los Angeles Times. * * * PERJUANGAN PEMBEBASAN AUNG SAN SUU KYI Ada sejumlah tokoh historis yang menegakkan kisah kepahlawanan, karena mereka telah menegakkan nilai-nilai luhur. Demikian tajuk berita harian The Internasional Herald Tribune. Nelson Mandela seorang tokoh demikian. Vacalv Havel yang lain lagi. Seorang rekan mereka adalah seorang pemenang Hadiah Nobel Perdamaian dari Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang hampir selama 17 tahun ditindas kebrutalan kekuasaan militer yang menguasai negeri itu. Liga Nasional untuk Demokrasi pimpinan aung San Suu Kyi meraih lebih 80% kursi parlemen dalam pemilu tahun 1990, militer menolak menghormati hasil pemilu itu. Berkat tekatnya untuk melakukan dialog dengan para jenderal, yang bisa mengarah ke perubahan demokratis, Aung San Suu Kyi menjadi lambang hidup untuk prinsip-prinsip demikrasi. Juga karena perjuangan tanpa kekerasan, ia termasuk pejuang kemerdekaan dengan jalan damai, seperti Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr. Junta militer berencana memperpanjang tahanan rumah bagi Suu Kyi beberapa tahun lagi. Hal itu mengundang protes keras yang ditanda tangani oleh lebih dari 59 mantan kepala negara, di antaranya mantan Presiden Jimmy Carter, George Bush dan Bill Clinton. Surat itu ditujukan kepada pemimpin junta Myanmar, Than Shwe yang menuntut dibebaskannya segera dan tanpa syarat semua tahanan politik, termasuk Aung San Suu Kyi dan U Tin Oo. Demikian Internasional Herald Tribune. * * *
