Berdo'a dan meminta ampun, saya ingat waktu kecil saya meminjam mainan salah satu teman yg bermain kerumah, karena dia bersikeras menolak sayapun merampasnya, lalu dia memukul saya, saya balas sampe dia jatuh, mainan pun ada ditangan saya, teman saya menangis, emak saya yg melihat langsung adegan ini serta merta menghampiri saya, menepuk keras pantat saya dan menghardik " berikan mainan itu kembali dan kamu segera masuk kamar, berdo'a dan minta ampun sama Tuhan !" Dgn kecewa saya kembalikan mainan kepada teman saya, setengah ngambek saya masuk kamar, mak mengikuti saya dari belakang, saya biasanya menghadap tembok dan mulai berdo'a, mak puas karena saya berdo'a dan berlalu meninggalkan saya. Makan malam tiba, mak menceritakan apa yg saya perbuat hari itu kepada ayah, ayah langsung menghentikan kunyahan nya dan menatap saya " siapa teman yg kau sakiti siang tadi ?" tanyanya, saya pura2 tak mendengar, mak membentak " ayo jawab omie, biar ayah kau tau betapa nakalnya kau ini !" saya langsung bela diri " tadi kan saya sudah berdo'a dan minta ampun sama Tuhan ?" saya tentu saja berharap perselisihan siang tadi tak perlu diperpanjang lagi karena saya sudah menebus kesalahan saya dengan berdo'a dan minta ampun kepada Tuhan. Ayah menyentuh pundak kecil saya " yg kau sakiti itu bukan Tuhan, tetapi teman kau itu, kau harus minta maaf sama teman kau bukan kepada Tuhan, Tuhan mungkin sudah memaafkan kau karena buktinya kau msh punya dua tangan, bukankah kau memukul temen kau dengan tangan ?" Setiap ucapan yg mengalir dari mulut ayah, itulah yg terpahat sepanjang malam dibenak saya, hingga hari ini.... Pemerintah ataupun pemimpin Indonesia yg sudah melakukan tindakan2 yg merugikan rakyat dan negara, membuat ber juta2 rakyat Indonesia menderita, menjadi korban kebiadaban dan keserakahan mereka, meninggalkan rakyat indonesia dengan impian masa depan yg kering kerontang, mereka hanya sibuk menghidupi diri dan keluarga dan kerabat dengan uang rakyat dan negara yg dirampas secara licik, mereka tidak menyakiti Tuhan karena Tuhan tak bisa disakiti, mereka tidak mendurhakai Tuhan karena Tuhan tidak bisa didurhakai, Tuhan bukan manusia yg perasaan nya mudah di cabik2, para biadab ini harus menghentikan tindakan serakah dan zolim nya karena kesadaran mereka sebagai manusia, berhentilah membuat dosa, eling, sadar, kembali kepada naluri manusia, kepada jiwa yg beradab, milikilah rasa malu, lihatlah kedalam diri dan benahi akal yg sesat dan takabur, karena dalam realita yg ada do'a saja tidak akan merubah apa2, meminta ampun kepada Tuhan tidak akan berguna bila tidak disertai kesungguhan perubahan diri yg nyata. Berdialog dengan Tuhan tak perlu dengan kata2, tunjukan sikap dan niat yg baik, hanya itu yg akan merubah Indonesia kita yg tercinta ini. Salam hangat omie Liquid Google <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Mereka rajin berdoa cuma untuk diri sendiri, biar banyak rejeki, dikasih bini lagi, supaya kalo korupsi atau disuap ga ketauan KPK, jadi mereka berdoa itu ada manfaatnye, untuk dirinye sendiri....
----- Original Message ----- From: "Danardono HADINOTO" To: Sent: Thursday, 07 June, 2007 09:50 Subject: RE: [RumahKita] : Para Pemimpin agar Lebih Banyak Berdoa > Mas, kalau soal berdoa, bangsa kita adalah jagoan, dari rakyat kecil > sampai semua presiden. Minta ampun, juga. Tetapi, mas, apakah sesuatu itu > akan mendapat berkah dari sang pencipta, yang berdoa harus bersih, > dan...banyak berbuat yang baik dan nyata, ber-dharma. Hukum kharma lebih > kuat dari doa.. > > Yang lain, mas, for nothing.. > > Salam > > Danardono > > sumarsastrowardoyo schrieb: > > > > Para pemimpin diharapkan lebih banyak berdoa tanpa henti dan mohon > ampun dari Tuhan. > > > > BALI POST > > > Kamis Kliwon, 7 Juni 2007 > > Surat Pembaca > > > > Para Pemimpin agar Lebih Banyak Berdoa > > Pada saat ini bangsa Indonesia termasuk para elite > pimpinannya sedang dirundung kemelut dalam pola pikir dan perasaan > juga dalam menghadapi kondisi bangsanya yang rupanya sulit > diprediksi sebelumnya, bertubi-tubi mengalami bencana alam bahkan > kemungkinan bencana sosial politik. Mungkinkah semuanya ini terjadi > karena kurangnya kemampuan kita dalam menerapkan hakikat ajaran > dharma bahkan adharma, sehingga semakin jauh dari kebenaran sesuai > sabda Tuhan dengan segala hukum mutlaknya yang pasti terjadi (Sat > dan Rta)? > > Kita sebagai manusia diharapkan selalu waspada dan > mengendalikan diri dalam pikiran, kata-kata dan perbuatan dengan > hati yang bersih (Tapa dan Diksa), siap melakukan atau menerima > segala apa pun yang terjadi dengan rasa syukur dan ikhlas (Brahma > dan Yadnya). Semuanya ini adalah dharayanti atau penopang alam > semesta. Karena itulah kepada para negarawan diharapkan agar > memahaminya dan menjadikannya sebagai pedoman kehidupan. Terlebih > masalah pengendalian diri terhadap sasaran Tri Guna, khususnya rajas > dan tamas. Kalau rajas dan tamas ini lepas kendali muncullah > perilaku Sadripu, yaitu enam musuh besar kemanusiaan yang dapat > menjatuhkan martabat manusia yang dapat menimbulkan penderitaan > tiada tara. Keenam musuh besar itu adalah amarah besar (krodha), > dendam dan iri hati (moha), tamak dan rakus (lobha), angkuh dan > sombong (mona), mabuk lupa diri (mada) dan suka berfoya-hoya (harsa). > > Para pemimpin bangsa diharapkan dalam menghadapi > masa sulit seperti sekarang, lebih banyak berdoa dalam hati tanpa > henti, mohon ampun dari Tuhan atau setidaknya melakukan > trancendental meditation, sehingga emosi menjadi tenang, pola pikir > menjadi jernih, lebih bersabar hati, tidak mudah tersinggung. > Bersyukur jika muncul sifat pemaaf dan mengampuni. Mungkin harapan > seperti itu akan dianggap naif pada saat ini, tetapi bukan berarti > tidak mungkin. > > Dr. I Dewa Ketut Wisnu Putra > Br. Sembung Kumpi Kerambitan, Tabanan
