Anda menulis, Di Swedia contohnya, agama merupakan masalah pribadi yang tidak diatur dalam sistem pemerintahan. Bahkan tidak ada statistik yang pasti berapa jumlah pemeluk suatu agama tertentu. Oleh karenanya, agak sulit mengukur tingkat kesejahteraan berdasarkan agama yang dianut.
Roslina: Tidak benar kalau Agama tdk diatur dalam sistem pemerintahan. Negara-negara Eropa adalah berlatarbelakang Katholik dan Protestan. Pada umumnya setiap penduduk asli telah terdaftar langsung di kantor lurah apakah orang itu Katholik atau protestan. Akte kelahiran itu akan tersimpan rapi shg pada saat seorang mulai berpenghasilan. Gaji bruttonya akan langsung dipotong untuk membayar pajak Gereja. Uang itu tersalur sesuai dengan tujuannya masing-masing. Demikianlah jika seorang pendatang melakukan registrasi kependudukan, mereka akan disodorkan formular isian data dan di sana ada kolom Agama, namun hanya ada dua pilihan yaitu Katholik atau Protestan. Tentu bagi non Katholik dan non Protestan akan melewatkan kolom ini dan mereka bebas pajak Gereja. Beda lagi dengan penduduk asli yg benar-benar sdh sekuler. Mereka harus membuat pernyataan keluar dari keanggotaan gereja, barulah pendapatan mereka akan dibebaskan pajak Gereja. refunny: Yang pasti, di negara ini kesenjangan antara miskin dan kaya hampir tidak terlihat. Pajak penghasilan yang bisa mencapai 50% dikembalikan ke masyarakat dlm bentuk berbagai tunjangan kesejahteraan sosial. Kalau sudah jadi warga negara, nggak kerja pun bisa dapat tunjangan bulanan yang cukup untuk hidup layak. Roslina: Di sini banyak yg tersirat yg tdk anda terangkan. Sistem pemotongan pajak juga berbeda-beda. Mulai dari kelas menegah keatas, harus bayar pajak jauh lebih tinggi. Tentu mayoritas High level itu adalah penduduk asli. Anda sendiri berkata bahwa imigran cari kerjaan di sana karena penduduk asli sdh enggan kerja di low level. Nah otomatis pendapatan penduduk setempatlah yg kemudian dibagi-bagikan kepada migran-migran yg tdk kerja atau yg miskin itu. Makanya kesenjangan dimasyarakat itu tipis. Back to the begining: Inilah sistem masyarakat sekuler yg dilatarbelakangi kekristenan. Lalu para migran yg sdh enak dibantu dan diselaraskan dgn penduduk asli, diberi hak menjalankan ibadahnya bahkan fasilitas disediakan untuk itu, tapi malah menuntut hukum agamanya yg diberlakukan menyamai hukum pemerintah setempat. Ini namanya dikasih hati mau jantung. [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Sepanjang pengamatan saya, di negara2 Eropa para imigran ini seperti > layaknya penduduk asli, terdiri dari berbagai kelas mulai dari yang > miskin sampai yang paling kaya. Tentunya proporsi kaya dan miskin juga > mengikuti kaidah umum bahwa orang yang miskin lebih banyak daripada > yang kaya. > > Sesuai pendapat "scribbler", negara-negara Skandinavia memberlakukan > perlindungan khusus untuk pengungsi korban perang. Sementara di negara > Eropa lainnya dan mungkin juga di US, imigran datang lebih dikarenakan > motif ekonomi, dimana kehidupan di negara tujuan dianggap lebih baik > drpd negara asal. Penduduk asli sudah semakin sedikit yang berminat > dengan pekerjaan 'low level' sehingga posisi ini banyak diisi kaum > imigran. Di satu sisi, imigran menjadi masalah buat mereka tapi di sisi > lain, mereka tetap butuh para imigran ini. > > Mungkin menarik juga kalau ditarik kesimpulan: perang dan globalisasi > ekonomi menjadi penyebab utama terjadinya migrasi. Jadi, kalau tidak > mau berhadapan dengan masalah yang ditimbulkan imigran, negara maju > harus mau menghentikan perang dan arus globalisasi. Tapi, mereka juga > harus siap dengan konsekuensi lainnya. > > Kalau dikaitkan dengan ajaran yang dianut, saya rasa kita bisa melihat > lebih proporsional bahwa ada imigran muslim yang sukses dan tidak semua > imigran tsb muslim. Di samping itu, cukup banyak penduduk asli kemudian > menjadi muslim setelah berinteraksi dgn imigran. Di Swedia contohnya, > agama merupakan masalah pribadi yang tidak diatur dalam sistem > pemerintahan. Bahkan tidak ada statistik yang pasti berapa jumlah > pemeluk suatu agama tertentu. Oleh karenanya, agak sulit mengukur > tingkat kesejahteraan berdasarkan agama yang dianut. > > Yang pasti, di negara ini kesenjangan antara miskin dan kaya hampir > tidak terlihat. Pajak penghasilan yang bisa mencapai 50% dikembalikan > ke masyarakat dlm bentuk berbagai tunjangan kesejahteraan sosial. Kalau > sudah jadi warga negara, nggak kerja pun bisa dapat tunjangan bulanan > yang cukup untuk hidup layak. > > Nah, mungkin anda yang bermukim di Swedia bisa memberikan klarifikasi > mengenai kebenaran informasi saya ini. > > . > >
