--- In [email protected], usman kansong <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
>>
> Tetapi, apakah kemajuan ekonomi India sungguh-sungguh
> karena nilai-nilai Hinduisme dengan sistem kastanya?
> Apakah sistem kasta bisa memajukan ekonomi? Dari sisi
> logika, bukannya sistem kasta justru menghambat
> kemajuan ekonomi?



Haaaa? Anda anggap enteng kemajuan ekonomi India

Bung, baca ini!


Kamis, 07 Desember 2006




Mestinya Kita Malu kepada India


M Suprihadi

Kalau saja Bung Karno masih ada, mungkin ketertinggalan ini tidak
terjadi. Bayangkan, ketika di Jakarta pembangunan monorel saja masih
diperdebatkan akibat belum ada kepastian soal sumber dana, di India,
sebuah negeri yang selalu disebut-sebut oleh Bung Karno, hampir semua
kota besarnya sudah membangun jaringan kereta bawah tanah (subway)
atau Metro alias mass rapid transit.

Sampai tahun 1990-an, dunia masih memandang sebelah mata kepada India,
sebuah negara miskin dengan penduduk satu miliar lebih yang penuh
bencana. Kecelakaan kereta api, banjir, dan badai adalah berita-
berita dari India yang sering kita baca, lihat, atau dengar. Begitu
juga dengan kemiskinan penduduknya yang sepertinya berada di mana-
mana.

Salah satu berita negatif yang juga sering menjadi bahan pemberitaan
adalah polusi kotanya. New Delhi, misalnya, disebut-sebut sebagai
kota terpolutif di dunia.

Namun, sekarang dunia memandang India dengan terkagum-kagum. Negeri
dengan jumlah penduduk terbesar kedua di dunia setelah China itu kini
disebut-sebut sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang luar
biasa. Ketika banyak negara, termasuk Indonesia, terpuruk, India
justru sedang gencar membangun.

Kota New Delhi yang dulu polutif sekarang udaranya relatif bersih
dengan taman luas dan pepohonan hijau hampir di seluruh pelosok kota.
Lalu lintas kini tidak macet lagi meskipun bus-bus dan kendaraan umum
yang mengangkut puluhan ribu penumpang setiap hari kondisinya tak
lebih dari Jakarta.

Kebijakan pemerintah yang ”memaksa” semua kendaraan umum
menggunakan bahan bakar gas jenis compressed natural gas memberi
sumbangan besar pada kebersihan udara New Delhi.

Selain itu, pengoperasian angkutan massal berbasis rel yang sebagian
besar melintas di bawah tanah (subway) juga sangat membantu
terciptanya kebersihan udara. Kini warga New Delhi lebih suka
menggunakan jaringan kereta yang disebut Metro untuk bepergian ke
kantor, sekolah, berekreasi, atau berbelanja.

Anuj Dayal, Kepala Humas Delhi Metro Rail Corporation Ltd (DMRC),
operator Metro Delhi, menyatakan dengan bangga, setiap jam Metro
mampu mengangkut 80.000 penumpang atau setara dengan 10.000 bus.

Keberhasilan New Delhi membangun jaringan Metro itu kini diikuti kota-
kota lain di India. New Delhi sendiri masih terus mengembangkan
jaringan Metro dari tiga jalur yang sekarang sudah dioperasikan
menjadi delapan jalur pada tahun 2021.

Kalkuta sekarang sudah punya satu jalur, sedangkan kota-kota lain
seperti Bangalore, Hyderabad, Chennai, Mumbai, dan Ahmedabad segera
menyusul. Ketika Kompas berada di India bulan Juni lalu, misalnya,
Perdana Menteri India Manmohan Singh sedang meresmikan peletakan batu
pertama pembangunan Metro di Bangalore.

Dibangun mulai tahun 1998, Metro Delhi kini sudah terbangun tiga
jalur dari delapan yang direncanakan selesai pada tahun 2021 saat
India menjadi tuan rumah Commonwealth Games.

Ketiga jalur yang sekarang sudah dioperasikan adalah jalur merah
(Sadhara-Rithala), jalur kuning (Vishwavidyalaya-Central
Secretariat), dan jalur biru (Barakhamba Road-Dwarka).

Jalur merah panjangnya 22 kilometer (km), sama sekali tidak ada yang
di bawah tanah kecuali stasiun. Sepanjang 4,5 km dibangun di
permukaan tanah dan 17,5 km sisanya merupakan jalur layang (elevated)
dengan ketinggian umumnya 10 meter.

Sebaliknya, jalur kuning yang panjangnya 11 km semuanya merupakan
jalur di bawah tanah. Sedangkan jalur biru yang panjangnya 32,1 km
terdiri dari jalur bawah tanah (2,17 km) dan jalur layang (29,93 km).

Mengingat besarnya dana yang diperlukan (sampai selesainya ketiga
jalur itu atau pembangunan tahap 1 sudah dikeluarkan 21 miliar dollar
AS), pembangunan Metro Delhi dilakukan secara bertahap, tetapi titik
tujuan akhirnya jelas, dan secara konsisten pemerintah terus
mengerjakan proyek itu.

Jalur merah, misalnya, adalah jalur yang pertama kali dioperasikan
pada 24 Desember 2002. Waktu itu, panjang jalur baru 8,5 km dari
Shandara ke Tiz Hazari (enam stasiun), di antaranya melintang di atas
Sungai Yamuna yang legendaris itu.

Selanjutnya, pada 3 Oktober 2003 diresmikan pengoperasian seksi dua
dari Tiz Hazari ke Inder Lok sepanjang 4,7 km. Seksi tiga
dioperasikan 31 Maret 2004 dari Inder Lok ke Rithala (8,8 km).

Jalur kuning sepanjang 11 km, dan semua di bawah tanah, dibangun
dalam dua tahap. Pada 19 Desember 2004 diresmikan pengoperasian jalur
Vishwavodyayala-Kashmere Gate sepanjang 4 kilometer. Sedangkan jalur
sisanya dioperasikan pada 2 Juli 2005. Seluruh jalur ini berada di
bawah tanah pada kedalaman 10 meter.

Pembangunan jalur biru baru dimulai Juni 2003, tetapi hanya dalam dua
setengah tahun jalur ini sudah selesai semua (22,79 km). Yang
menarik, jalur ini 100 persen dikerjakan oleh para teknisi India
sendiri. Kereta yang dioperasikan di jalur biru juga produk India
(Barath Earth Movers Ltd, Bengalore), bukan produk Korea seperti pada
jalur kuning dan merah.

Berbeda dengan Jakarta yang lebih senang menswastakan setiap kegiatan
pembangunannya, dalam membangun infrastruktur transportasi massal itu
India tidak menyerahkannya kepada swasta. Untuk itu, pemerintah pusat
dan pemerintah kota bersama-sama mendanai pembangunan megaproyek
tersebut.

Menurut Anuj Dayal, DMRC sebagai operator Delhi Metro berkewajiban
mengembalikan investasi pembangunan. Ia hanya diwajibkan merawat
jalur dan memelihara/menambah kereta.

Dengan pola seperti itu, DMRC tetap untung meski tarif yang
diberlakukan untuk penumpang Metro sangat murah, 6 rupee (Rp 1.200)
hingga 22 rupee (Rp 4.400). DMRC sendiri adalah sebuah perusahaan
yang dimiliki Pemerintah Kota New Delhi.

Menurut Dayal, pembangunan infrastruktur transportasi massal seperti
Metro itu memang tidak mungkin diswastakan. Biaya yang diperlukan
sangat mahal. Kalau swasta, tarifnya menjadi sangat mahal, katanya.

Kenapa tidak membangun monorel yang lebih murah? Menurut dia, monorel
yang termasuk light rail transit tidak akan mampu mengatasi ancaman
serius kemacetan di New Delhi. Ini mengingat daya angkut monorel
sangat terbatas.

Lalu apa yang didapat pemerintah dengan membangun Metro yang sangat
mahal itu?

Menurut Dayal, keuntungannya bisa didapat dari kompensasi atas
menurunnya pencemaran udara sampai 30 persen, pengurangan subsidi
bahan bakar 110 juta dollar AS per tahun, menurunkan tingkat
kecelakaan sampai 30 persen, dan masih banyak lagi, misalnya
penghematan waktu perjalanan masyarakat, peningkatan produktivitas,
dan perbaikan kualitas hidup masyarakat.

Satu hal yang bisa dipetik dari pengalaman India, yaitu untuk urusan
layanan publik seperti Jakarta Metro System yang akan dibangun maupun
monorel yang masih juga belum jelas kelanjutannya, pemerintah
mestinya tidak ragu-ragu. Pemerintah mungkin harus membangun sendiri
fasilitas publik itu untuk selanjutnya dikelola badan usaha milik
daerah atau swasta yang bertanggung jawab.

Ini mengingat keuntungan atas hadirnya transportasi massal tidak
semata-mata diukur dari keuntungan usaha operatornya. Perbaikan
kualitas udara dan penghematan subsidi bahan bakar minyak adalah
keuntungan lain yang bisa dikompensasikan untuk mengembalikan
investasi.

Hal lain yang juga bisa menjadi pertimbangan adalah tidak melibatkan
swasta dalam pembangunan infrastrukturnya. Soal dana, bisa diambil
dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta anggaran pendapatan
dan belanja daerah, ditambah pinjaman pemerintah.

Dengan sosialisasi yang baik, kiranya rakyat pun bisa memahami bahwa
ada sejumlah pembangunan yang tertunda karena proyek raksasa itu.
Syaratnya hanya satu, rakyat yakin bahwa proyek selesai pada waktunya
dan dananya tidak dikorupsi....



Kirim email ke