Saya melihatnya sederhana saja bahwa mereka berkoalisi untuk melanggengkan 
kepentingannya/kekuasaan. Maka dihembuskan opini untuk menangkal agama dlln, 
mengklaim kesamaan nasionalis.

Kita lihat saja selama ini kedua partai tersebut benar nggak melakukan yang 
diucapkannya?Kita liat kelakuannya dan bukan pengakuannya.
Mungkin pertanyaan ini  bisa membantu:
1.Di antara anggota DPR/DPRD, bupati/gubernur dari partai mana yang paling 
banyak kena kasus : korupsi, ijazah palsu , narkoba, prostitusi dlln.
2.Kasus mantan jenderal di pilkada DKI yang dibohongi oleh kedua partai 
tersebut patut dijadikan rujukan.
3.Partai mana yang mendapat gelar partai terkorup ( pendapat Kwik Kian Gie?)?
4.Partai mana yang ketika kampanye selalu brutal dan tidak beretika?
5.Partai mana yang paling tidak demokratis ketika mengadakan pemilihan ketua 
umum?

Lihat kenyataan bukan pernyataan.
Lihat kelakuan bukan pengakuan.

Salam 
Kadarsah




Akhmad Asaad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
Jelas jemelas penyelenggaraan negara pada abd 21 ini sukar sekali untuk sekedar 
dilandaskan pada agama, apalagi bila tafsirannya sangat ortodoks, dogmatis, 
menafikan
  konteks sejarah dan kemasyarakatan. Namun agama akan terus secara indah dapat 
mewarnai kehidupan santun keberadaan bangsa. Contohnya cukup banyak. 
  Silaturakhmi di Medan antara dua pemain utama dalam perpolitikan kita ini 
memang bersifat multi-dimensional, lihat saja semua ulasan dan juga spekulasi 
para pakar maupun jurnalis.
  Tak usah dirisaukan cacian dari yang dungu karena mindsetnya tertinggal 
beberapa abad.
   
  AAsaad
   
   
  SUARA PEMBARUAN DAILY   
---------------------------------
  
  Koalisi Golkar-PDI-P Tangkal Partai Berlatar Keagamaan     Kami tetap  
menganggap Golkar sebagai pesaing utama kami khususnya di legislatif, sehingga 
koalisi ini tidak akan berlangsung lama. (Pramono Anung)   [BLITAR] Koalisi 
antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dengan Partai Golkar 
bukanlah untuk kepentingan Pemilu 2009, tetapi untuk menangkal kebangkitan 
partai-partai berlatar belakang agama.   "Sebagai sesama partai politik besar, 
kami ingin mempertahankan visi politik kebangsaan sehingga koalisi ini nantinya 
bisa mengcounter kebangkitan koalisi partai-partai yang berlatar belakang 
keagamaan," kata Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI-P, Pramono Anung di 
Blitar, Jatim, Jumat (29/6).   Karena itu, dia menegaskan, koalisi antara PDI-P 
dengan Partai Golkar tidak akan dibangun secara permanen hingga menjelang 
Pemilu dan Pilpres 2009. "Kami tetap menganggap Golkar sebagai pesaing utama 
kami khususnya di legislatif, sehingga koalisi ini tidak akan
 berlangsung lama," katanya saat mendampingi Ketua Umum  DPP PDI-P, Megawati 
Soekarnoputri berziarah ke Makam Bung Karno di Bendogerit, Kota Blitar.   
Pramono seperti dikutip Antara, Jumat, mengatakan, PDI-P sudah punya calon 
presiden yakni Megawati Soekarnoputri, sehingga sangat tidak mungkin kalau akan 
berkoalisi dengan sesama partai besar yang juga berambisi mengajukan calon 
presiden sendiri pula, seperti Partai Golkar.   Sementara itu, Wakil Sekjen DPP 
PDI P Mangara M Siahaan mengatakan, saat ini, PDI-P masih melakukan konsolidasi 
guna memuluskan pencalonan Megawati sebagai calon presiden 2009. Pada kongres 
dan rapat kerja nasional (Rakernas) I di Bali, partai ini sudah memutuskan 
pencalonan ketua umumnya sebagai satu-satunya calon presiden. Pencalonan ini 
sudah sesuai dengan prosedur dan mekanisme partai.   Tapi, kata Mangara 
Siahaan, kemungkinan besar Megawati baru akan menyatakan kesediaannya sebagai 
calon presiden dalam Rakernas II yang akan digelar di Makassar,
 Sulawesi Selatan, Agustus nanti. "Di  forum Rakernas itu nanti ketua umum akan 
menjawab dukungan terhadap dirinya, apakah bersedia dicalonkan sebagai presiden 
atau tidak," kata Mangara di Senayan kemarin.   Prihatin   Mangara mengaku 
prihatin dengan wacana yang dikembangkan akhir-akhir ini, yang mengaitkan 
pertemuan Taufiq Kiemas dengan Surya Paloh sebagai upaya memasangkan Jusuf 
Kalla dan Puan Maharani sebagai capres dan cawapres pada Pemilu 2009. "Itu kan 
dagelan konyol, jangan lah lambang-lambang negara dibuat jadi mainan," katanya. 
Lambang negara yang dimaksud Mangara adalah jabatan presiden dan wakil 
presiden.   H Irmadi Lubis, politisi PDI-P lainnya menegaskan bahwa pertemuan 
PDI-P dan Golkar di Medan sebagai pertemuan yang bermakna strategis, tentang 
bagaimana mengatur permasalahan bangsa ke depan.   "Karena itu, pertemuan itu 
jangan diartikan untuk kepentingan sekarang, apa lagi hanya sekedar strategi 
maupun pengaturan dalam hubungannya dengan Pilkada," kata Irmadi
 menanggapi  beredarnya anggapan bahwa bertemunya dua petinggi partai tersebut 
untuk mengatur pencalonan gubernur dalam Pilkada Sumatra Utara.   Di tempat 
terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Damai Sejahtera (PDS) 
Aldentua Siringo-ringo berpendapat, terlalu naif jika koalisi yang dibangun 
Partai Golkar dan PDI-P hanya manuver politik. Tapi jika koalisi itu dibangun 
hingga menjadi koalisi permanen, maka merupakan ancaman bagi Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono. "Tetapi jika dibangun sesaat, itu hanya sekedar peringatan," 
kata Aldentua Siringo-ringo. [L-8]     
---------------------------------
  Last modified: 30/6/07         

---------------------------------
  Yahoo! Answers - Get better answers from someone who knows. Try it now.














     
                       

 
---------------------------------
Finding fabulous fares is fun.
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel 
bargains.

Kirim email ke