Koalisi Kebangsaan? Sejak kapan Bangsa di Nusantara terbentuk menjadi Bangsa
Indonesia?

Pake jargon yang benar saja Bung! Ntar salah kaprah lagi anda dan teman2
anda. Yang baru benar adalah Negara Indonesia yang dibentuk pada tanggal 17
Agustus 1945.

Pikiran orang2 yang bikin Koalisi Kebangsaan kok mundur ratusan abad
kebelakang? Coba tunjukkan secara ilmiah, dan bukan politis, sejak kapan
Kebangsaan Indonesia terbentuk?

Salam Pencerahan!

PD

On 7/1/07, Akhmad Asaad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Jelas jemelas penyelenggaraan negara pada abd 21 ini sukar sekali untuk
sekedar dilandaskan pada agama, apalagi bila tafsirannya sangat ortodoks,
dogmatis, menafikan
konteks sejarah dan kemasyarakatan. Namun agama akan terus secara indah
dapat mewarnai kehidupan santun keberadaan bangsa. Contohnya cukup banyak.
Silaturakhmi di Medan antara dua pemain utama dalam perpolitikan kita ini
memang bersifat multi-dimensional, lihat saja semua ulasan dan juga
spekulasi para pakar maupun jurnalis.
Tak usah dirisaukan cacian dari yang dungu karena mindsetnya tertinggal
beberapa abad.

AAsaad


SUARA PEMBARUAN DAILY
------------------------------
 Koalisi Golkar-PDI-P Tangkal Partai Berlatar Keagamaan *Kami tetap
menganggap Golkar sebagai pesaing utama kami khususnya di legislatif,
sehingga koalisi ini tidak akan berlangsung lama.* (Pramono Anung) [BLITAR]
Koalisi antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dengan Partai
Golkar bukanlah untuk kepentingan Pemilu 2009, tetapi untuk menangkal
kebangkitan partai-partai berlatar belakang agama. "Sebagai sesama partai
politik besar, kami ingin mempertahankan visi politik kebangsaan sehingga
koalisi ini nantinya bisa meng*counter* kebangkitan koalisi partai-partai
yang berlatar belakang keagamaan," kata Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP)
PDI-P, Pramono Anung di Blitar, Jatim, Jumat (29/6). Karena itu, dia
menegaskan, koalisi antara PDI-P dengan Partai Golkar tidak akan dibangun
secara permanen hingga menjelang Pemilu dan Pilpres 2009. "Kami tetap
menganggap Golkar sebagai pesaing utama kami khususnya di legislatif,
sehingga koalisi ini tidak akan berlangsung lama," katanya saat mendampingi
Ketua Umum DPP PDI-P, Megawati Soekarnoputri berziarah ke Makam Bung Karno
di Bendogerit, Kota Blitar. Pramono seperti dikutip *Antara*, Jumat,
mengatakan, PDI-P sudah punya calon presiden yakni Megawati Soekarnoputri,
sehingga sangat tidak mungkin kalau akan berkoalisi dengan sesama partai
besar yang juga berambisi mengajukan calon presiden sendiri pula, seperti
Partai Golkar. Sementara itu, Wakil Sekjen DPP PDI P Mangara M Siahaan
mengatakan, saat ini, PDI-P masih melakukan konsolidasi guna memuluskan
pencalonan Megawati sebagai calon presiden 2009. Pada kongres dan rapat
kerja nasional (Rakernas) I di Bali, partai ini sudah memutuskan pencalonan
ketua umumnya sebagai satu-satunya calon presiden. Pencalonan ini sudah
sesuai dengan prosedur dan mekanisme partai. Tapi, kata Mangara Siahaan,
kemungkinan besar Megawati baru akan menyatakan kesediaannya sebagai calon
presiden dalam Rakernas II yang akan digelar di Makassar, Sulawesi Selatan,
Agustus nanti. "Di forum Rakernas itu nanti ketua umum akan menjawab
dukungan terhadap dirinya, apakah bersedia dicalonkan sebagai presiden atau
tidak," kata Mangara di Senayan kemarin. *Prihatin* Mangara mengaku
prihatin dengan wacana yang dikembangkan akhir-akhir ini, yang mengaitkan
pertemuan Taufiq Kiemas dengan Surya Paloh sebagai upaya memasangkan Jusuf
Kalla dan Puan Maharani sebagai capres dan cawapres pada Pemilu 2009. "Itu
kan dagelan konyol, jangan lah lambang-lambang negara dibuat jadi mainan,"
katanya. Lambang negara yang dimaksud Mangara adalah jabatan presiden dan
wakil presiden. H Irmadi Lubis, politisi PDI-P lainnya menegaskan bahwa
pertemuan PDI-P dan Golkar di Medan sebagai pertemuan yang bermakna
strategis, tentang bagaimana mengatur permasalahan bangsa ke depan. "Karena
itu, pertemuan itu jangan diartikan untuk kepentingan sekarang, apa lagi
hanya sekedar strategi maupun pengaturan dalam hubungannya dengan Pilkada,"
kata Irmadi menanggapi beredarnya anggapan bahwa bertemunya dua petinggi
partai tersebut untuk mengatur pencalonan gubernur dalam Pilkada Sumatra
Utara. Di tempat terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Damai
Sejahtera (PDS) Aldentua Siringo-ringo berpendapat, terlalu naif jika
koalisi yang dibangun Partai Golkar dan PDI-P hanya manuver politik. Tapi
jika koalisi itu dibangun hingga menjadi koalisi permanen, maka merupakan
ancaman bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Tetapi jika dibangun
sesaat, itu hanya sekedar peringatan," kata Aldentua Siringo-ringo. [L-8]
------------------------------
*Last modified: 30/6/07*

------------------------------
Yahoo! Answers - Get better answers from someone who knows. Try it 
now<http://uk.answers.yahoo.com/;_ylc=X3oDMTEydmViNG02BF9TAzIxMTQ3MTcxOTAEc2VjA21haWwEc2xrA3RhZ2xpbmU>
.

Kirim email ke