Merry, saya bersimpati kepada Anda. Mungkin pelajarannya, lain kali  lebih 
berhati-hati kalau urusannya soal kontrak-mengontrak. Anda baru  sekarang 
menyadari kalau 'oknum-oknum' yang mengibarkan bendera LSM  tidak selalu 
idealis dan profesional. Hehehe......beberapa pengalaman  di masa lalu telah 
membuat saya hilang respek saya terhadap IDEALISME  dan PROFESIONALISME yang 
konon menjadi ujung tombak perjuangan LSM.  Mungkin hanya 1 atau 2 LSM saja 
yang benar-benar berada di jalur itu.  Selebihnya? Hem.......asal ada sumber 
dana, bisa membuat proposal  dengan sedikit kreasi program, disetujui, jadilah. 
  
  Begitulah, Dunia ini, panggung sandiwara...........hahahahahaha
  
  
  Tebet Barat IV/11-Jaksel
  Sebuah LSM Profit Oriented
  Bernama Bisnis PROPERTI
  (hehehehehehe)
magdalena merry <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                      
            Dear teman jurnalis dan penulis lepas..  
Saya ingin sedikit share tentang pengalaman seputar penulis lepas.  
  
Pada  11 Mei 2007 lalu, saya menerima telepon dari seseorang yang mengaku  dari 
Justice for The Poor, (JTP) kabarnya LSM di bawah naungan World  Bank alias 
Bank Dunia. Ia yang bernama Marini ini meminta kesediaan  saya untuk menerima 
pekerjaan mengedit buku tentang kasus korupsi di  dearah di Indonesia.
 Kabarnya dia mendapat no kontak saya dari teman yang juga penulis lepas dan 
mantan jurnalis Kompas.
 Setelah  dijelaskan tentang job desk, kami bernegoisasi honorarium dan 
akhirnya  mencapai kesepakatan. Ini kesalahan fatal pertama: menerima job hanya 
 dari telepon saja, tidak ada bukti hitam di atas putih alias kontrak  
tertulis. Mungkin saya terbuai oleh nama besar Word Bank atau percaya  betul 
pada nama teman yang memberikan referensi.
 
 
 Beberapa hari  kemudian bahan yang harus diedit saya terima melalui email. 
Sejak itu  saya mengedit dan mengirim hasilnya melalui email. Untuk buku 
kira-kira  tebal 150-an halaman itu saya hanya diberi waktu 2 minggu. Uniknya,  
setelah contoh editing pertama saya kirim, Marini dan rekannya Dewi  dari LSM 
tersebut setuju dengan hasilnya. Akhirnya saya mengerjakan  bagian lain dengan 
sistem yang serupa. 
 
 
 Tapi  di hari-hari terakhir menjelang deadline, mendadak mereka komplain  
banyak hal. Dan saya terpaksa melakukan pekerjaan ulang dari awal lagi  pada 
detik-detik menjelang deadline. Dapat dibayangkan betapa pekerjaan  ini cukup 
underpressure mengingat saya juga memiliki pekerjaan utama  dan kesibukan lain. 
  Lalu tak lama kemudian, Dewi  Damayanti yang akrab dipanggil Damay menyuruh 
agar saya membuat invoice  penagihan honor. “Nanti honornya lama mbak 
keluarnya,” begitu kira2  tulisnya di SMS. 
  
Tentu  saja saya kaget, sebab soal terlambatnya honor dan invoice ini baru  
diberitahu setelah tugas nyaris selesai saya kerjakan. Dari situ saya  mulai 
merasa ada yang tidak beres karena:
 
   Pihak JTP  mempekerjakan saya hanya secara lisan, bukan tulisan. Tapi kenapa 
soal  honorarium harus saya urus secara tertulis? Jika memang itu pekerjaan  
formal, semestinya mereka mempekerjakan saya secara formal juga. Tapi  jika 
informal, mereka semestinya membayar saya secara informal juga. Di  sini sudah 
ada ketidakadilan antara saya pekerja freelance dengan  mereka sebagai pihak 
pemberi pekerjaan.
  
   Soal honor yang terlambat tidak  diberitahu di awal kesepakatan, melainkan 
setelah pekerjaan nyaris  selesai. Ini   merupakan bentuk penipuan halus.
   
  Tidak sampai di situ, setelah invoice saya buat dan harus DIANTARKAN SENDIRI 
ke kantor LSM tersebut, hingga HARI INI, HONORARIUM BELUM SAYA TERIMA.  Padahal 
Damay menjanjikan pada saya honor akan turun paling lama 1  bulan setelah 
pekerjaan selesai. Dan sampai hari ini sudah berjalan 1  bulan lebih.
 Lebih terkejut lagi ketika saya membaca email Damay ke bagian administrasi 
yang di CC ke saya berbunyi:
 
 
 
Mbak Sania dan Rani,

invoice atas nama Merry Magdalena untu pekerjaan editing kasus, sudah
 aku
proses ke bagian admin awal Juni kemarin. Mbak Merry menanyakan soal
transfernya yang belum sampai padahal sudah satu bulan. Tolong mbak
 Sania
atau Rani cek ke mbak Nina or siapapun yang menangani urusan
 LGCS
sekarang. Soalnya seperti email yang bersangkutan dibawah, hingga hari
 ini
dana itu belum masuk, seharusnya kan sudah masuk 2 minggu yang lalu.
Tolong langsung dibalas ke mbak merry dan cc ke saya soal perkembangan
 ke
saya

Terima kasih,

Damay
  Dari email tersebut, diketahui bahwa semestinya honorarium sudah saya  terima 
sejak 2 minggu lalu, yang artinya sejak pertengahan Juni. Itu  jika melalui 
prosedur semestinya. Namun sampai 4 Juli 2007, tidak ada  pemberitahuan apapun 
dari pihak JTP atau World Bank. Artinya saya harus  bolak-balik menggesekkan 
kartu ATM saya demi memeriksa apakah  honorarium sudah turun atau belum.
    Yang menyakitkan  adalah tidak ada keinginan dari pihak JTP untuk mengabari 
atau memberi  penjelasan tentang keterlambatan honorarium ini.
Bukan masalah jumlah uangnya,   namun usaha atau apresiasi terhadap hasil kerja 
manusia itu memang nyaris tidak ada. Padahal nama LSM ini adalah Justice for 
The Poor dan  buku yang saya edit berisi tentang studi kasus korupsi di 
daerah-daerah  di Indonesia yang tereksan seolah mereka memperjuangkan nasib 
rakyat/  sesama manusia.
  Faktanya?  
  Ternyata saya tidak  sendirian. Seorang teman berkisah bahwa temannya juga 
pernah mengalami  nasib serupa, bahkan lebih parah. Honor baru diterima lima 
bulan  kemudian setelah proyek selesai. 
  Semoga kelalaian saya  menerima pekerjaan tanpa surat perjanjian di awal ini 
bisa menjadi  pelajaran bagi teman-teman jurnalis dan penulis lepas. Dan satu 
lagi,  nama besar institusi internasional atau LSM dengan nama yang berbau  
menggusung idealisme demi kepentingan rakyat, BUKAN JAMINAN akan  memperlakukan 
kita secara manusiawi.
Apakah saya berlebihan  dalam menyikapi masalah ini? Maaf saja jika terkesan 
demikian, sebab  ini pun pengalaman saya pertamakali mendapat perlakuan tidak 
adil sejak  berprofesi menjadi jurnalis dan penulis. Sebelumnya saya memang 
tidak  pernah berhubungan dengan LSM dalam pengerjaan proyek penulisan.  
Klien-klien saya terdiri dari personal bereputasi baik yang  mempekerjakan saya 
secara profesional dan cukup kompeten kendati tidak  ada kontrak tertulis.
Tapi ini sungguh pengalaman berharga  yangn membuat saya jadi TIDAK PERCAYA 
PADA LSM atau instansi apapun  yang bergaya IDEALIS walau di bawah naungan 
BADAN DUNIA sekalipun.


Salam

 
 
 
 
 
 


Sayangi Indonesia!   
  Ada 1001 Cara Sayangi Indonesia dengan Cara Sederhana!'
http://sayangi-indonesia.web.id

www.netsains.com
Mempopulerkan Tulisan Ilmiah, Mengilmiahkan Tulisan Populer
phone: 021 7155 8993

   
  
Merry Magdalena 
Reporter Harian Sore Sinar Harapan 
www.sinarharapan.co.id 
021-3912360/61 Fax 021-3912370 


         

---------------------------------
Building a website is a piece of cake. 
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.
      
                                    

       
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.

Kirim email ke