Saya berpendapat, demo yang pakai atribut Bintang Kejora harus dilarang keras, 
sebab atribut tersebut melambangkan gerakan separatis Papua yang bertentangan 
dengan UUD RI. Kita tidak boleh membiarkan berkembangnya gerakan separatisme 
yang membahayakan negara kesatuan RI. Kalau perlu ditindak tegas, seperti kita 
menghadapi DI/TII, PRRI-Permesta dan RMS. Jangan dikasi hati, jangan terulang 
lagi kesalahan politik Gus Dur.
   
  Tetapi di samping itu, penyelenggara negara harus konsekwen melakukan 
pembangunan di Papua, agar rakyat Papua merasakan keadilan dan kesjahteraan di 
buminya yang kaya raya. Papua jangan dijadikan sapi perahan bagi kepentingan 
kelompok bisnis kurang ajar dan gerombolan mafia birokrat-koruptor pengkhianat. 
Mereka ini harus ditenggelamkan dari peta politik dan disingkirkan dari 
kehidupan bermasyarakat-bernegara.
   
  Memang dewasa ini rakyat sangat berat menghadapi para pencoleng di atas, 
sebab mereka ini berkuasa di segala bidang (eksekutif, legislatif, yudikatif). 
Maka dalam menghadapi pemilu 2009 rakyat harus jeli memilih 
mereka-mereka/partai yang akan duduk di bidang-bidang tersebut. Jangan terkecoh 
lagi dengan seribu janji, nyanyi merdu, pesona wacana dan seember air mata.
   
  J.Surendro
   
  
--- In [EMAIL PROTECTED], "Sunny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/7/5/p3.htm
  Pendemo Pakai Artibut Bintang Kejora
Nyaris Bentrok dengan Aparat ---
Yogyakarta (Bali Post) -
Puluhan mahasiswa Papua, Rabu (4/7) kemarin melakukan aksi demo menuntut 
kemerdekaan rakyat Papua Barat. Aksi massa yang nyaris bentrok dengan aparat 
kepolisian ini diwarnai dengan pemakaian atribut Bintang Kejora oleh pengunjuk 
rasa.
  Wartawan Jogja TV melaporkan, bentrok antara aparat kepolisian dan massa 
pengunjuk rasa nyaris terjadi tatkala para demonstran yang tergabung dalam 
Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat (F-Pepera-PB) menolak membubarkan 
diri. Massa yang semula berniat berunjuk rasa di perempatan Kantor Pos Besar 
Yogyakarta urung melakukan aksinya karena dicegat puluhan aparat kepolisian. 
Akhirnya, massa pun berbalik arah dengan tetap melanjutkan aksinya menuntut 
kemerdekaan bagi rakyat Papua Barat, sekaligus mengecam pemerintah saat ini. 
Saat itu mereka berdemo di depan asrama mahasiswa Papua.
  Ketegangan kembali terjadi ketika salah seorang aparat kepolisian meminta 
massa melepas atribut separatis Bintang Kejora, yang dipakai para demonstran. 
Pihak aparat akhirnya mengizinkan para demonstran ini berorasi selama 15 menit. 
Aksi sempat memacetkan arus lalu lintas sepanjang Jalan Kusumanegara.
  Jangan Terulang
  Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol. Sutanto menilai kasus pengibaran bendera 
Bintang Kejora di Papua, Selasa (3/7) lalu tidak dapat disamakan dengan kasus 
pembentangan bendera Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon (Maluku). Oleh 
karena itu, penanganan terhadap aparat kepolisian yang bertugas mengamankan 
kedua peristiwa itu pun dipastikan akan berbeda. ''Kalau di Papua kan terjadi 
di lingkungan mereka (acaranya berlangsung tertutup - red), tentu lain (dengan 
kasus pengibaran bendera RMS),'' katanya. 
  Meski Kapolri tidak menjelaskan maksud pernyataannya lebih lanjut, namun 
kasus pengibaran bendera Bintang Kejora di Papua memang tidak dilakukan di 
acara yang dihadiri oleh masyarakat umum. Pengibaran bendera itu dilakukan di 
acara Konferensi Dewan Adat Papua II yang digelar di Jayapura. Dalam acara itu 
pun, aparat keamanan dilarang masuk oleh panitia dan hanya diamankan oleh 
Satuan Tugas Papua (BP, 3/7).
  Kata Kapolri, meskipun kasusnya berbeda, dirinya tetap tidak menginginkan 
peristiwa serupa terulang di masa mendatang. Untuk itu, Polri telah melakukan 
langkah-langkah penindakan untuk mencegah terjadinya insiden yang sama. ''Itu 
sudah dilakukan Polda setempat, jangan sampai terjadi lagi,'' tegasnya. 
(kmb5/kmb
  ++++
  http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/7/5/p1.htm
  Anggota Kongres AS Dilarang ke Papua
  Jakarta (Bali Post) -
Bali Post/sep
Agung Laksono dan Eni Faleomavaega.
  Dilarang ke Papua oleh pemerintah Indonesia, tidak membuat anggota Kongres AS 
pro-kemerdekaan Papua Eni Faleomavega patah semangat. Anggota Subkomisi Asia 
Pasifik dari Kongres AS ini justru mendatangi Gedung MPR/DPR Jakarta, Rabu 
(4/7) kemarin, untuk melakukan klarifikasi atas sikapnya terhadap rakyat Papua 
selama ini. 
  Setelah bertemu dengan Ketua DPR, selama kurang lebih satu setengah jam 
anggota Kongres AS mengadakan pertemuan tertutup dengan pimpinan Dewan 
danaAnggota Komisi I DPR. Eni mengakui pernah menyatakan dukungan pemisahan 
Papua dari NKRI karena alasan kesejahteraan rakyat di ujung timur wilayah 
Indonesia itu tidak diperhatikan.
  ''Pernyataan itu saya sampaikan pada masa lalu, saya tidak mengingkarinya. 
Kurangnya perhatian dan kurangnya komitmen dari pemerintah Indonesia terhadap 
Papua, karena pemerintah tidak memberikan hal yang layak, maka berikan 
kemerdekaan itu. Saya tidak mengingkari, saya telah membuat pernyataan itu,'' 
kata Eni usai pertemuan di Gedung MPR/DPR Jakarta, Rabu kemarin.
  Namun, sikapnya kini telah berubah setelah melihat perkembangan Papua 
pascapemberlakuan otonomi khusus. UU Otsus telah memberikan keleluasaan kepada 
rakyat Papua untuk mengembangkan demokrasi, HAM, serta pengembangan pembangunan 
infrastruktur di daerahnya. ''Saya berharap dapat melakukan kunjungan ke Papua, 
tetapi karena masalah keamanan kunjungan itu batal dilakukan. Kemarin saya 
sudah bertemu dengan Fredy Numberi dan wakil dari Papua, saya senang sekali 
bertemu dengan mereka, masalah Papua menjadi penting untuk dibahas,'' ujarnya.
  Kedatangannya ke Indonesia ini, katanya, merupakan undangan dari beberapa 
anggota DPR dan permintaan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri saat 
berkunjung ke Washington, AS beberapa waktu lalu.
  Sementara itu, Ketua Komisi I DPR Theo L Sambuaga mengatakan, pertemuan ini 
manghasilkan banyak manfaat. Kedua belah pihak bertukar pikiran tentang 
peningkatan hubungan kedua negara, dan dia juga menyampaikan saran-saran dan 
pandangannya tentang pembangunan Indonesia secara keseluruhan, khususnya 
pembangunan Propinsi Papua maupun Papua Barat. (kmb4)
  --- End forwarded message ---


       
---------------------------------
Get the free Yahoo! toolbar and rest assured with the added security of spyware 
protection. 

Kirim email ke