Quote:
"..
*Jika angka itu diambil dari 44 kota di Indonesia, berarti tidak bisa
mewakili realitas. Kenapa ?
Karena sebagian besar penduduk miskin itu berada di pedesaan. Dengan
realitas seperti itu,
kenapa BPS dengan tega hati mengeluarkan angka kemiskinan yang menurun.
*.."

Maaf, saya cuma orang awam yang ikutan nimbrung diskusi, gpp ya.. Tolong
jangan dimintai
data".. karena saya gak tahu persis cara & metodenya.. :-)
Tapi berdasarkan tajuk rencana dari Suara Merdeka disebutkan data tersebut
(kemungkinan
besar) diambil dari 44 kota di Indonesia; dan tidak bisa mewakili realitas.
Apakah ini masih kurang untuk menunjukkan 'ada yang kurang/tidak beres' dari
output BPS?

Kalau (ini misalkan saja) ada orang/lembaga non formal/di luar lembaga
resmi/pemerintah(an)
& bisa menunjukkan kesalahan BPS, misalnya, apakah lembaga tersebut bisa
menggantikan
BPS? Buat apa kita punya (dan membayar) lembaga resmi yang tidak independen
dan/atau
tidak bisa dipercaya? :-)

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

----------
SUARA MERDEKA
Rabu, 04 Juli 2007

*TAJUK RENCANA* *Mempertanyakan Menurunnya Penduduk Miskin*

*Penduduk miskin di negeri yang dikabarkan gemah ripah loh jinawi turun.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) dalam setahun turun 2,13 juta, dari
39,30 juta di tahun lalu, sekarang menjadi hanya 37,17 juta. Tentu saja
sebuah perkembangan yang sangat menggembirakan, dan patut diacungi jempol.
Sebuah prestasi yang luar biasa karena dalam setahun angka kemiskinan bisa
turun sedemikian besar. Penurunan angka itu menarik dikomentari ketika dalam
realitas pemerintah setahun ini tidak memperlihatkan kejutan yang berarti.
Jadi, wajar manakala sejumlah pengamat meragukan penurunan itu, meski pun
mereka memprediksi bahwa tahun ini angka kemiskinan akan diturunkan.*

*Angka kemiskinan memang bisa diturunkan. Sangat mudah menurunkan angka
tersebut, karena semua hanyalah permainan angka-angka. Tetapi, dalam
realitas jumlah orang miskin tetap tidak bisa diturunkan bahkan memiliki
kecenderungan bertambah dan meluas. Seperti diketahui, persoalan kemiskinan
bukan semata-mata masuk dalam rumpun masalah ekonomi dan sosial, tetapi
sebenarnya derajat politisnya jauh lebih besar. Jika sebuah rezim tidak bisa
menciptakan kesejahteraan bagi warganya, maka dengan mudah akan dianggap
gagal. Tentu saja semua orang, apalagi orang politik tidak mau dengan mudah
untuk dikatakan pemerintahnya gagal dalam memperbaiki taraf hidup
masyarakatnya.*

*Tidak mengherankan manakala pemerintah sebuah rezim akan melakukan segala
upaya, misalnya dalam bentuk intervensi untuk membuat angka kemiskinan
menjadi ''lebih cantik''. Di samping perlu untuk menjaga citra, angka
kemiskinan yang ''diturunkan'' dinilai perlu untuk membangkitkan optimisme.
Tetapi, ketika angka yang ''dipercantik'' itu tidak sesuai realitas, maka
akan menimbulkan tanda tanya besar sekaligus membenarkan dugaan bahwa angka
itu benar-benar bermuatan politis (baca: intervensi). Bukan optimisme yang
didapat pemerintah, sebaliknya justru meningkatkan derajat ketidakpercayaan
publik. Di samping semakin terbaca bahwa pemerintah cenderung untuk tidak
jujur.*

*Penduduk yang masuk kategori miskin adalah mereka yang konsumsi per
bulannya kurang dari Rp 166.697. Dalam realitas mereka yang masuk kategori
inilah yang paling awal menderita ketika harga minyak goreng, beras, cabe
melambung beberapa waktu lalu. Mereka bukan hanya digempur oleh kenaikan
harga, di sisi lain mereka juga sedang terlanda pertumbuhan penghasilan yang
negatif. Jika angka itu diambil dari 44 kota di Indonesia, berarti tidak
bisa mewakili realitas. Kenapa ? Karena sebagian besar penduduk miskin itu
berada di pedesaan. Dengan realitas seperti itu, kenapa BPS dengan tega hati
mengeluarkan angka kemiskinan yang menurun.*

*Jika hasil survei BPS itu diragukan banyak pihak, tentu saja nilai survei
itu rendah karena memunculkan banyak pertanyaan. Informasi yang memiliki
derajat kepercayaan rendah tentu bisa menimbulkan syakwasangka yang kontra
produktif. Padahal, survei BPS itu sebenarnya dirancang untuk memotret
realitas yang kemudian dijadikan bahan penting pengambilan keputusan
strategis mensejahterakan masyarakat. Jika potret ternyata dipolitisasi
hanya untuk menjaga atau menumbuhkan citra semata, maka yang terjadi sekadar
seolah-olah saja. Yakni, seolah-olah angka kemiskinan turun, dan itu berarti
seolah-olah merupakan keberhasilan pemerintah.*
*Betapa bahayanya jika pemerintah terperangkap pada data dan informasi yang
seolah-olah itu. Karena yang seolah-olah berarti bukan yang sesungguhnya,
atau semu. Manakala yang semu itu kemudian dijadikan sebagai bahan
pengambilan keputusan, pastilah keputusan itu juga tidak atas dasar
realitas. Alangkah lebih baiknya jika survei itu benar-benar mewakili
realitas sebagian besar keadaan rakyat negeri ini saat ini, entah itu baik
atau buruk. Jika memang penduduk miskin masih banyak, tidaklah perlu dipoles
bahwa mereka seolah-olah telah menjadi lebih kaya. Jika setiap survei BPS
selalu dipertanyakan banyak pihak, bukankah hal itu akan mengurangi
kredibilitas lembaga tersebut*

On 7/5/07, fauziah swasono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Dear all,
Menurut saya tuduhan Iman Sugema ini sangat serius. Karena ybs
mengklaim bahwa dia ekonom. Hanya sayangnya, seperti biasa, tidak ada
argumentasi ilmiahnya. Padahal ini yang diperlukan publik.

Katanya BPS hanya mengeluarkan "pesanan". Nah, biasanya data BPS
menyertakan modul yang berisi definisi, asumsi, metodologi, sampling,
dsb. Ini yang seharusnya dibuktikan oleh inter-CAFE, dimana
manipulasinya. Kalau perlu uji verifikasi sehingga bisa terbongkar
kebusukan BPS jika memang ada.

Tetapi kalau cuma maen tuduh tanpa argumen, kok kayak provokator dan
malahan mengkhianati etika akademis. Kata Iman, 3 indikator kemiskinan
mengalami penurunan, tapi tidak ada data yg diajukannya: berapa
penurunannya, bagaimana mereka menghitungnya, samplingnya bagaimana,
definisi dan asumsinya apa, tingkat errornya berapa? Jadi bisa
dibandingkan dg data keluaran BPS.

Tidak ada data yang bisa 100% menggambarkan kenyataan (karenanya pake
sampling, tidak mungkin mencatat penghasilan dan pengeluaran bulanan
SETIAP penduduk) dan tidak ada yg bisa diklaim 100% error free. Tetapi
dg melihat metodologi, asumsi, dsb tsb, kita bisa tahu derajat
kepercayaan thd hasil perhitungan ini. Tapi kalau asal njeplak nuduh
ya dia sendiri yang keliatan bodoh.

Atau wartawan tidak memuatnya?

Sebagai peneliti yang banyak memakai data, saya concern jika BPS tidak
independen. Kalau estimasinya kadang under-estimate saya percaya (dan
itu bisa dibaca dlm asumsi/definisi/metode yg mereka pakai), dan kita
bisa rekonstruksi lagi untuk menyesuaikan dg definisi yang kita
inginkan (dg mengubah metodologi dan asumsi2 yg dipakai).

Tetapi jika dikatakan bahwa data ini pesanan, saya benar2 concern,
karena artinya adalah data bohong. Kalau ada wartawan yang meliput
acara ini, tolong informasikan apakah Iman Sugema juga menyampaikan
argumen ttg tuduhannya dan bagaimana perhitungan yang dia lakukan.
Sebagai ekonom, seharusnya dia melakukan itu, otherwise dia mencoba
membodohi publik demi tujuan politisnya.

Terima kasih.

salam,

fau

--- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, Tejo
Sulaksono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Benar-benar Republik BBM (Betul-betul Macet), masak BPS dipanggil
presiden lalu angka jadi positif, menyenangkan pemerintah. BPS yang
tidak kredibel bagaimana ekonom bisa buat prediksi dan mengitung
semuanya. BPS harus ilmiah dan independen donk, presiden itu bukan
Raja loh
>
> TSL
>
> Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=176650
>
>
> PENDUDUK MISKIN MENURUN
> Iman Sugema: Angka-angka BPS
> Merupakan Pesanan
>
>
Namun data BPS itu dipertanyakan sejumlah pengamat ekonomi yang
tergabung dalam Tim Indonesia Bangkit (TIB). Ekonom Inter-CAFE Iman
Sugema di antaranya. Dia mengatakan, angka-angka penurunan yang
dipaparkan BPS tidak lebih dari pesanan pemerintah. "Itu adalah angka
pesanan pemerintah, karena beberapa waktu lalu BPS dipanggil
Presiden," kata Iman, di Jakarta, kemarin.
>
> Menurut Iman, indikator angka penduduk miskin meliputi tiga hal:
pendapatan, beban hidup, dan program antikemiskinan yang dijalankan
pemerintah. Dan jika dilihat dari ketiga indikator itu, ternyata tidak
ada kemajuan, bahkan kemunduran. "Jadi jika angka kemiskinan di
Indonesia dilaporkan turun, maka itu tidak benar dan cenderung
direkayasa," tutur Iman.
>
> Sementara ekonom TIB lainnya, Bini Bukhori, mengatakan,
angka-angka kemiskinan di Indonesia yang dipaparkan BPS beberapa tahun
terakhir terindikasi bermasalah dan diragukan validitasnya. "Kita ini
bukan lagi hanya berbicara tentang naik atau turunnya orang miskin,
tapi faktanya masalah kemiskinan ini memang terus saja menghiasi
perjalanan republik ini selama 60 tahun lebih," kata Bini.

Kirim email ke