Anehnya negara negara yang maju, makmur, tertata rapi, seperti Jepang, Jerman, Korea selatan, Perancis, Inggris, Swedia, tak membutuhkan orang orang shalih beragama ria, namun, manusia manusia cerdas yang sadar hukum, tidak sedikit sdikit panggil Tuhan, tetapi memutuskan sendiri dengan nalar dan rasa tanggung jawab kemasyarakatan yang tinggi.
Sejak walisongo masuk ke Nusantara sampai sore ini, tanah yang bernama Indonesia ini (dahulu Mataram dll), selalu kedodoran. mengapa ya? Salam danardono --- In [email protected], "Budi - Production Control" <budi- [EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ketika dunia politik diisi oleh orang-orang oportunis yang tidak > pernah percaya tuhan, agama dan kehidupan hari akhir, maka jadilah > kehidupan umat manusia amburadul Sebab merekalah yang mengambil > kebijakan politik sehingga melahirkan secara zhohir beragam azab dan > bencana di atas. > > Sayangnya, orang-orang shalih yang percaya kepada Allah dan paham > kitab suci, umumnya malah lari menghindar dari dunia politik. > Alih-alih menyelamatkan umat, mereka malah mencari tempat berlindung > sendiri-sendiri di balik liang kecil sambil memendam kepala di dalam > tanah. Memejamkan mata dan berpikir seolah semua ini terjadi begitu > saja dan merupakan takdir Allah. > > Sayangnya orang-orang yang bersih dan suci ini nyaris tidak mau > mengotori tangannya dengan kerja dan usaha terlebih dahulu, sehingga > mereka lebih memilih untuk bersembunyi di dalam pesantren dan lembaga > pendidikan. Membangun tembok benteng untuk sekedar melindungi diri > mereka sendiri. Adapun nasib umat Islam secara keseluruhan yang > menjadi korban kebobrokan kebijakan politik srigala culas, seolah > tidak pernah menjadi agenda pembicaraan. > > Lucunya, di tengah kehancuran yang nyata seperti ini, di mana semua > sepakat bahwa penyebabnya memang politk kotor para penguasa bejat, > masih saja ada yang berpaham untuk menjauhkan diri dari upaya > memperbaikinya. Bahkan mereka malah mengeluarkan fatwa yang > mengharamkan umat Islam berupaya mengantisipasi kebejatan kebijakan > politik. Fatwa-fatwa itu seolah mengatakan bahwa beramar makruf dan > nahi munkar tepat di titik permasalahannya adalah hal yang haram. > > Fatwa haramnya berpolitik dan mendirikan partai pendobrak kejahilan > seakan mengandung pesan bahwa kalau mau beramar makruf dan nahi > mungkar, jangan pada inti masalahnya, cukup pada masalah cabang dan > ranting-rantingnya saja. Jangan tebang akar pohon permasalahannya, > cukup setiap hari menyapu membersihkan sampahnya saja. > > Padahal bila umat Islam bersatu dengan dimulai dari para ulama dan > tokohnya, mereka duduk bersama dan menyamakan langkah, insya Allah > dunia politik itu bisa dikuasai dengan baik oleh orang-orang yang > shalih. Sehingga semua kebijakan politik yang lahir tidak lain adalah > bentuk nyata dari semangat bahwa Islam adalah rahmatan lil 'alamin. > > Wassallaam, > Budi-pc
