*Narasumber   : Wahid Hayim, Ir.*

*Rubrik            : Tips dan Opini Publik*

*Topik              : "Prilaku Masyarakat untuk Memilih Gubernur DKI
Jakarta
*

* *

*Banyak masyarakat yang mengaku sulit dalam pengambilan keputusan ketika
ingin memilih Pemimpin/Gubernur di DKI Jakarta.  Bagaimana melihat peta
persaingan dan tips pengambilan keputusan yang tepat untuk memilih
pemimpin
Jakarta Kedepan.*

Mengembangkan Jakarta sebagai ibukota propinsi selamanya berujung sukses.
Tidak sedikit yang gagal hingga akhir Jabatannya. Untuk meraih kesuksesan
sebagai Gubernur, diperlukan kesiapan dan kesugguhan dari para calon
gubermur tersebut. Oleh karena itu, dengan jumlah memiliki 2 pasang calon
semakin mudah untuk menentukan, kendati memberikan peluang yang besar
kepada
calon pemilih karena calon lain tidak lolos dalam persyaratan pencalonan
nanti. Walau kampanye di media tidak banyak berpengaruh, tetapi
kampanye di
darat melalui kelompok pengajian, paguyuban, arisan warga akan memiliki
pengaruh yang kuat bagi pasangan calon gubernur nanti, karena pengaruh
partai politik secara belum berjalan optimal, kecuali partai yang berbasis
kader dan dakwah.

            Untuk menilai calon pasangan calon Gubernur yang cocok dan
akan
didukung oleh sebagian besar masyarakat, diperlukan informasi yang lebih
akurat dan seimbang sesuai dengan kondisi terakhir di masyarakat DKI
Jakarta.  Oleh karena itu, saya mencoba mengalisis sejumlah informasi
terkini dan prilaku politik masyarakat yang berkembang berdasarkan
sejumlah
temuan lapangan selama ini.

*Gambaran Prilaku Pemilih menjelang Pilkada DKI Jakarta*

       Bila kita menilik sejarah pemimpin DKI Jakarta sejak era orde baru,
hingga saat ini, ada kecenderungan bahwa DKI Jakarta dipimpin oleh 2 etnis
secara bergantian. Sejak tahun 1967 sd tahun 1974, Jakarta dipimpin oleh
seorang perwira angkatan laut yang berdarah sunda, yakni Laksamana Ali
Sadikin. Pada periode selanjutnya, Jakarta dipimpin oleh Cokro Pranolo,
Wiyogo Atmodarminto, R. Suprapto, yang kebetulan berdarah jawa.
Seperti ada
kesepakatan antara kesultanan Mataram dan Banten yang berjasa dalam
mendirikan Jayakarta, dan mulai berkurangnya kekuatan jawa centris,
Periode
1992-1997, Jakarta mulai dipimpin lagi oleh seorang gubernur, yang
kebetulan
etnis Sunda (Banten), yaitu Suryadi Sudirja. Namun dengan situasi politik
yang makin memanas, mantan pangdam Jaya yakni Sutiyoso terpilih menjadi
gubernur selama 2 periode sejak tahun 1997 lalu. Kini memasuki akhir
kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, beredar kuat keinginan agar
gubernur atau
setiknya wakil Gubernur supaya berdarah betawi asli.  Sinyal ini disambut
gembira oleh Wakil Gubernur saat ini yang dijabat oleh Dr.Ing. Faauzi
Bowo,
yang kebetulan berdarah Betawi dan Jawa yang kental. Tentu saja
peluang ini
disambut juga oleh partai lain dengan memasang gerbong hingga 19
partai dan
sejumlah elit politik yang berminat menjadi wakil gubernur yang akan
berhadapan dengan Adang Darajatun dan Dani Anwar yang memadukan asal etnis
sunda  dan betawi asli, yang awalnya hanya didukung oleh PKS, sebagai
pemenang pemilu di DKI Jakarta 2004 lalu.

Menjelang hari pendaftaran calon Gubernur, Fauzi Bowo masih menyeleksi
sejumlah calon gubernur yang layak mendampinginya, yang umumnya dari para
purnawirawan angkatan darat. Sementara calon gubernur lainnya yakni
Sarwono
Kusuma Atmaja selaku Anggota DPD DKI Jakarta, Agum Gumelar, Faisal Basri
sebagai calon Gubernur yang memiliki peluang kuat masih mencari partai
pendukung dan keputusan MK dari calon independen, yang akhirnya gugur di
tengah jalan. Terpilihnya Prijanto sebagai pasangan calon Wakil Gubernur
dengan Fauzi Bowo, ternyata menuai masalah baru, karena sejumlah calon
wakil
gubernur lainnya sudah cukup lama mengantri dan mengorbankan banyak biaya
dengan sejumlah partai pendukung harus gugur tanpa pertanggung jawaban
yang
jelas. Kondisi ini memberi peluang kepada Cagub dan Cawagub Adang Dani
untuk
melakukan konsolidasi dengan kader dan pendekatan dengan sejumlah
pihak dan
elit calon gubernur dan wakil Gubernur yang telah menjadi korban dari
oknum
partai besar yang bergabung dengan pasangan Fauzi Bowo dan Prijanto.
Kendati
masih ada kemungkinan besarnya suara golput atau absen dalam pilkada
karena
kekecawaan mereka, sebagai besar suara telah mengalir deras ke kubu Adang
Dani. Demikian halnya dengan Forum Betawi Rembug (FBR) yang kecewa dengan
kebijakan Pemda belakangan ini siap menyumbangkan suaranya ke kubu Adang
Dani. Selain itu, sejumlah partai baru seperti Partai Demokrasi Pembaruan
(PDP), Partai Pemuda Indonesia (PPI) saat ini sudah berada di belakang
Adang
Dani. Bahkan berkat pantun pro ame-amenya, sejumlah kader dan simpatisan
dari kelangan muda PPP, PD, PAN dan PDIP sebagian siap mencoblos gambar
nomor 1 tersebut.

*Dukungan Adang dani Makin Kuat Dari berbagai wilayah dan Golongan*

   Besarnya dukungan masyarakat terhadap Adang – Dani yang dicalonkan oleh
PKS ini, semakin nyata pada saat kampanya terakhir, yang digelar di Parkir
Timur Senayan Pada Hari Jumat, 3 Agustus 2007 lalu.  Sejumlah artis, para
jendral purnawirawan, sesepuh partai dan ormas pendukung bersama masanya
yang diperkirakan mencapai 500 ribu orang itu sudah cukup menggemparkan
Jakarta, yang berdampak pada macet yang amat panjang. Dari sana terlihat
sejumlah bendera partai pendukung utama dan partai pesaing (pembelot)
berada
di sekitar kawasan. Kendati masih ada anak-anak yang ikut serta, namun
saya
terharu melihat para pendukung yang datang dari pinggir Jakarta dengan
membawa sepeda ontel/ojek beserta slogan-slogan bernuansa perubahan,
kemanusiaan dan spiritualitas. Belum lagi para suporter bola dan para
pelajar yang tampaknya, banyak berpihak kepada Adang- Dani, telah membuat
masa di Kawasan Senayan melimpah hingga ke Gatot Subroto, Jl Sudirman dan
Slipi.  Sementara itu, kampanye terakhir Pasangan Fauzi Bowo dan Prijanto
hanya dihadiri elit partai dan beberapa ribu orang saja.  Situasi ini,
telah
membuat para calon pemilih yang masih bingun/ragu (sekitar 20% dari jumlah
pemilih), bisa mengalihkannya pada pasangan Adang Dani. Banyak orang tipe
seperti ini menunggu siapa yang bakal menjadi pemenang atau ramai dipilih
orang, akan menjadi alternatif pilihannya.

*Jajak Pendapat sebagai Ajang meraih Suara, tapi bisa menyesatkan*

Sebentar lagi kita akan memilih, mungkin kita penasaran siapakan yang
bakal
memenangkan pemilihan gubernur tanggal 8 Agustus 2007 tersebut. Berbagai
hasil survey prilaku pemilih banyak dilansir oleh sejumlah lembaga,
diantaranya adalah Lembaga Survey Indonesia dan Lingkaran Survey Indonesia
(LSI) memproyeksikan kemenangan di pihak Pasangan Fauzi Bowo dan Prijanto
berdasarkan hasil jajak pendapat metode Quick Count setiap minggu, dengan
angka terakhir 56% untuk Fauzi Bowo dan 26% untuk Adang Darajatun-Dani
Anwar. Hasil jajak pendapat itu sengaja di jadikan Opini publik di Media
masa, bahwa pemenangnya adalah Pasangan Fauzi Bowo dan Prijanto.  Padahal
peluang kekalahan juga masih sangat mungkin terjadi, karena survey itu
masih
sarat dengan muatan politik dan tidak memperhatikan psikologis masa
saat-saat kampanye terakhir dan menjelang pencoblosan. Banyak pihak
meragukan akurasi survey tersebut, sehingga kubu Adang dani mencoba
melakukan jajak pendapat terbatas, dengan hasilnya diperkirakan
dimenangkan
kubu Adang Dani dengan perolehan suara 60% : 40% (media Nonstop, Kamis, 2
Agustus 2007).  Belum puas dengan temuan itu, sejumlah nara sumber
dari Agen
Rahasia dari AS dan China (Rakyat Merdeka, Sabtu, 4 Agustus 2007)
diperoleh
keterangan bahwa peluang pasangan Adang-Dani menang sangat besar, dengan
perolehan suara sekitar 2,3 juta orang. Angka itu jauh diatas suara golput
dan pasangan Fauzi –Prijanto yang mencapai 2,1 juta dan 1,3 juta dari
total
pemilih sekitar 5,7 juta orang. Tentu saja angka tersebut terlalu kasar
karena menunjukan jumlah golput mengalahkan hasil suara Fauzi Bowo –
Prijanto. Tentu saja angka kedua terakhir ini membuat khawatir, sehingga
belakangan terjadi kampanye negatif untuk Adang Dani.

*Proyeksi Perolehan Suara Pilkada DKI Jakarta*

Berdasarkan pengalaman mengamati pilkada selama ini, khususnya yang
diajukan
PKS, saya menilai akan ada kejutan hasil pilkada DKI Jakarta, yang bakal
dimenangkan oleh Kubu Adang-Dani, dengan jumlah yang cukup meyakinkan.
Adasejumlah indikator khusus yang membuat hasil survey lembaga diatas
menyimpang yaitu :

1.       PKS berpengalaman dalam memenangkan pemilu di kawasan perkotaan,
terutama Jadebotabek, seperti Depok dan Kabupaten Bekasi Belakangan ini.

2.       Prilaku pemilih sudah tidak loyal lagi terhadap para elit partai
politik diatasnya, karena belum bisa memberikan manfaat langsung, sehingga
mereka lebih memilih berdasarkan hati nuraninya, bahkan cenderung akan
memilih pasangan yang cenderung teraniaya karena dikeroyok oleh banyak
partai, sementara partai PKS pendukungnya akan mendapat simpati karena
kegigihan dan kepeduliannya.

3.       Orang Indonesia, terutama perkotaan sangat mudah melupakan jasa,
termasuk sogokan yang diberikan oleh partai yang diyakini akan memenangkan
pertarungan ini. Sebagian Warga DKI Jakarta makin dewasa dalam memilih,
sehingga pengaruh politik uang kalaupun terjadi, pengaruhnya makin kecil.

4.       Jakarta beserta birokrasi dan masyakat didalamnya memiliki
permasalahan yang komplek dan membuat banyak orang menjadi korban di
dalamnya, termasuk kemiskinan, pengangguran dan KKN, sehingga sebagian
besar
pemilih menengah bawah menghendaki perubahan, yang bisa dimulai dari
pemimpinnya. Di sinilah masyarakat akan merasa ada harapan perubahan nasih
bila terjadi perubahan pemimpin beserta program-programnya.  Dengan visi
untuk membenahi Jakarta dan melakukan perubahan yang positif, kelompok
yang
sebelumnya menghendaki golput dan tidak cocok dengan tawaran yang
disiapkan
pasangan Fauzi Bowo, sebagian beralih ke pasangan Adang Dani

5.       Selama masa kampanye, kubu Adang-Dani telah menunjukan sistem
kampanye terbuka yang simpatik dan kritis terhadap permasalahan DKI
Jakarta
selama ini. Tidak hanya sekedar menggelar panggung, apalagi hiburan, akan
tetapi melakukan sosialisasi dari rumah ke rumah oleh sejumlah
kader/salesmen dari kalangan pemuda, wanita dan lainnya dengan basis masa
yang jelas dan loyal. Oleh karena itu, angka hasil jajak pendapat yang
dikeluarkan lebih bisa dipertanggung jawabkan sampai hari terakhir
menjelang
Pilkada.

            Berdasarkan pertimbangan tersebut, saya memperkirakan bahwa
jumlah suara syah yang masuk ke pasangan Adang Dani bisa mencapai
2.659.000orang. Dari jumlah itu, pendukung terbanyak berasal dari
kader dan
simpatisan PKS sebanyak 52,7%.  Kemudian diikuti oleh pendukung dari FBR
sekitar 9,8%. Selanjutnya didukung oleh paguyuban masyarakat Sunda dan
Minang masing-masing sebesar 4,5% dan 3,8%. Pendukung lainnya adalah
Simpatisan dari eksodus partai lain dan keluarga besar kepolisian, Petani
ikan/nelayan serta pedagang pasar, UKM, mikro dan Asongan.  Gambaran
selengkapnya, disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel – 1 .

Proyeksi Perolehan Suara Adang Dani Menurut Kelompok Pendukung

*No.*

*KELOMPOK PENDUKUNG*

*JUMLAH (ORANG)*

*SHARE (%)*

1

Kader dan Simpatisan PKS *)

               1,400,000

       52.7

2

Forum Betawi Rembug (FBR) dll

                  250,000

         9.4

3

Paguyuban warga Sunda Jakarta

                  120,000

         4.5

4

Keluarga Besar ex cagub/cawagub

                  100,000

         3.8

5

Paguyuban warga Minang Jakarta

                     90,000

         3.4

6

Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP)

                     80,000

         3.0

7

Exsodus Benteng Muda (PDIP)

                     70,000

         2.6

8

Paguyuban Pedagang Kakilima/asongan

                     64,000

         2.4

9

Exsodus Pemuda Demokrat (PD)

                     60,000

         2.3

10

Pelajar Islam Indonesia (PII)

                     50,000

         1.9

11

Pendukung Lainnya (tak berkelompok)

                     50,000

         1.9

12

Suporter Pepsija Jakarta

                     60,000

         2.3

13

Exsodus Pemuda Ka'bah (PPP)

                     45,000

         1.7

14

Keluarga Besar Nelayan/Petani Ikan

                     30,000

         1.1

15

Exsodus Pemuda PAN  (PAN)

                     45,000

         1.7

16

Keluarga Besar Kepolisian

                     40,000

         1.5

17

Keluarga Besar Pedagang Pasar

                     40,000

         1.5

18

Partai Pemuda Indonesia (PPI)

                     40,000

         1.5

19

Paguyuban Tukang Ojeg Motor/Sepeda

                     25,000

         0.9

*Total Pendukung*

*               2,659,000 *

*    100.0 *

* *

* *

*Adang – Dani  Lebih Berpeluang Besar VS Fauzy-Prijanto*

Prediksi banyak pengamat dan tokoh masyarakat tampaknya bisa meleset dari
perkirakan. Sejumlah partai pendukung pasangan Fauzi Bowo-Prijanto masih
setengah hati, sehingga sebagian harus lari ke pesaingnya. Hal ini
terlihat
dari jumlah suara yang masuk ke pasangan ini hanya sekitar 2.090.000 orang
atau sekitar 36,7% dari total  calon peserta pilkada. Dari 10 kelompok
pendukungnya, sebagian menjadi Golput, yang terlihat dari total suara yang
absen dan tidak syah akan mencapai 951 ribu orang atau 16,8%.
Sementara itu,
dari kelompok Adang – Dani suara yang masuk bisa mencapai 46,6%. Untuk
jelasnya disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel – 2 . Proyeksi Perolehan Suara Pilkada DKI Menurut Kandidat dan
Pendukungnya

*No.*

*KELOMPOK PENDUKUNG*

*JUMLAH (ORANG)*

*SHARE (%)*

*SHARE (%)*

*1*

*Proyeksi Suara Adang Dani*

* *

* *

* *

1

Kader dan Simpatisan PKS *)

        1,400,000

       52.7



2

Forum Betawi Rembug (FBR) dll

           250,000

         9.4



3

Paguyuban warga Sunda Jakarta

           120,000

         4.5



4

Keluarga Besar ex cagub/cawagub

           100,000

         3.8



5

Pendukung Lainnya

           789,000

       29.7



*Total Pendukung*

*        2,659,000 *

     100.0

          46.6

*2*

*Proyeksi Suara Fauzi- Prijanto*

* *

* *

* *

1

Kader dan Simpatisan PD

           750,000

       35.9



2

Kader dan Simpatisan PDIP

           360,000

       17.2



3

Kader dan Simpatisan PPP

           200,000

         9.6



3

Kader dan Simpatisan Golkar

           160,000

         7.7



4

Kader dan Simpatisan PAN

           150,000

         7.2



5

Kader dan Simpatisan PDS

           100,000

         4.8



6

Kader dan Simpatisan PBR

              70,000

         3.3



7

Forum Anak Betawi (Forkabi) dll

              50,000

         2.4



8

Paguyuban Jawa Jakarta

              95,000

         4.5



9

PWNU DKI Jkt

              80,000

         3.8



10

Partai/Pendukung Lainnya

              75,000

         3.6



*Total Pendukung*

*        2,090,000 *

     100.0

          36.7

*C*

*Absen/Golput*

*           951,000 *

* *

*        16.68 *

* Grand Total Pemilih (Hak Pilih DKI Jakarta)*

*        5,700,000 *

     214.4

        100.00



Dengan hasil perolehan suara diatas, maka pasangan Adang-Dani berpotensi
untuk memenangkan Pilkada DKI, dengan porsinya mencapai 55,99%.  Sedangkan
pasangan Fauzy-Bowo mencapai 44,01% atau terjadi selisih suara sekitar
10%.
Untuk jelasnya, disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel – 3 Proyeksi Komposisi suara Pilkada antara Adang-Dani dan 
Fauzy Bowo
– Prijanto (Dalam Pilkada DKI Tanggal 8 Agustus 2007)

* *

*No.*

*KELOMPOK PENDUKUNG*

*JUMLAH (ORANG)*

*SHARE (%)*

*1*

*Proyeksi Suara Adang Dani*

*        2,659,000 *

*   55.99 *

*2*

*Proyeksi Suara Fauzi- Prijanto*

*        2,090,000 *

*   44.01 *

*    Proyeksi  Total  Suara Syah*

*        4,749,000 *

   100.0



Tentu saja angka tersebut masih bisa berubah. Namun demikian, bila
tingkat  kesalahannya
maksimal 10% saja, pasangan Adang –Dani masih tetap menang, kendati dengan
selisih yang makin tipis. Hal ini untuk mengantisipasi adanya
kecurangan dan
jumlah golput yang lebih besar dari angka yang diperkirakan. Harapan saya,
semoga kita masyarakat DKI Jakarta bisa belajar banyak dari kekalahan dan
kemenangan yang diraihnya dan tetap menghargai hasil diperoleh oleh
siapapun
pasangan dan mendukung setiap pasangan yang menang kedepan.



Sumber : Pusat Kajian Bisnis dan Kebijakan Publik Indonesia (KBKPI) -
email:[EMAIL PROTECTED]

















--


[Non-text portions of this message have been removed]

--- End forwarded message ---


Kirim email ke