http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=9053

Selasa, 07 Agt 2007,



Kisah Sembilan Hari Pelarian TKW Jabar dari Perkebunan di Malaysia 


Kabur setelah 2 Bulan Terisolasi Bersama 20 Anjing 
Kisah memilukan TKW yang bekerja di Malaysia seperti tak ada habis-habisnya. 
Selain soal majikan yang suka menganiaya, kondisi lingkungan yang berat serta 
pengabaian hak-hak pekerja menjadi alasan mereka untuk kabur dari tempat kerja. 

HAFID ABDURRAHMAN, Kuala Lumpur

RAMBUTNYA dipotong pendek mirip pria. Nurhasanah, nama wanita itu, sampai 
kemarin masih tergolek lemas di ranjang susun ruang penampungan Kedutaan Besar 
Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur. Beberapa bagian tubuhnya masih tampak 
lebam dan lecet. 

Jangankan bangun dan berjalan, untuk bicara saja, dia mengaku sulit. "Dada saya 
masih sesak dan nyeri," katanya kepada Jawa Pos. 

Selama wawancara, dia hanya bisa berbaring. Sebuah tas tangan hitam tergeletak 
di sampingnya. 

Wanita asal Desa Santiyo, Sukabumi, Jawa Barat, tersebut tiba di KBRI Kuala 
Lumpur pada Jumat petang lalu. Saat itu, petugas keamanan (security) yang 
menjaga kantor KBRI yang menjadi jujukan para orang awak di negeri jiran itu 
melihat tubuh Nurhasanah digeletakkan di halaman begitu saja oleh seseorang 
yang mengendarai mobil.

Belum sempat Nurhasanah sadar, si pengendara lalu bergegas kabur sebelum sempat 
ditanya petugas keamanan. Wanita yang di tasnya diketahui membawa paspor 
Indonesia itu lalu dibopong petugas masuk ke gedung di Jalan Tun Razak 233 
tersebut.

Menurut Nurhasanah, dirinya sebetulnya baru sekitar dua bulan tiba di Malaysia. 
Dia tertarik bekerja di luar negeri untuk membiayai hidup keluarganya di 
Sukabumi yang pas-pasan. "Saya diajak kenalan teman saya. Tapi, saya tidak 
kenal siapa orangnya," ungkap ibu seorang anak itu.

Sebelum berangkat, dia diiming-imingi gaji 300 ringgit (sekitar Rp 750 ribu) 
per bulan. Tapi, dia tak pernah bertanya pekerjaan apa yang akan dilakukan. 
"Setelah tiba (di Bandara Kuala Lumpur), saya diajak (menumpang kendaraan 
darat) ke sebuah tempat yang sangat jauh. Saya tidak tahu nama tempat itu. Yang 
pasti di tengah pegunungan," ujar Nurhasanah yang sering mengelus dadanya 
karena masih nyeri.

Di tempat yang tak dikenali itu, dia bertemu seseorang yang mengaku akan 
mempekerjakan dirinya sebagai pembantu. "Lalu, saya dibawa naik gunung dan tiba 
di sebuah kebun yang dipenuhi anjing," katanya.

Bukannya dipekerjakan sebagai pembantu, di tempat itu, Nurhasanah disuruh 
mengurus 20 ekor anjing. Sebagai tempat istirahat, dia diminta tinggal di 
sebuah bilik di antara hewan bertaring tersebut. "Kemudian, saya ditinggal 
sendirian di perkebunan tersebut. Majikan saya pulang," tegasnya.

Dia terpaksa "bersahabat" dengan anjing-anjing peliharaan sang majikan. "Badan 
anjing itu besar-besar. Saya takut bukan main. Tapi, mau bagaimana lagi. Tak 
ada satu pun orang di perkebunan itu," ujarnya. 

Wanita berkulit sawo matang tersebut mengungkapkan, sang majikan tak memberi 
akses untuk berhubungan dengan dunia luar. "Sampai-sampai, kartu HP saya 
diambil, sehingga HP saya tidak berfungsi dan tidak bisa dibuat menelepon," 
katanya.

Hidup sendiri di rumah yang terisolasi di "belantara" perkebunan (mungkin 
sawit) bersama anjing-anjing itu membuat Nurhasanah tersiksa. Dia ingin lari, 
tapi tak berani karena medan perkebunan yang terjal dan curam. "Tiap hari, saya 
makan makanan anjing. Suatu hari, ada orang lewat dan memberi saya roti. Dia 
bilang kasihan sama saya, tapi tak berani menolong. Katanya takut pada majikan 
saya," jelasnya.

Setelah sebulan berlalu, sang majikan tersebut menjenguk tempat itu lagi. 
Namun, dia tetap tak memindahkan Nurhasanah dari tempat "mengerikan" tersebut. 
"Saya diberi beras supaya bisa makan nasi. Biar begitu, tiap malam, saya 
dicekam ketakutan," tegasnya.

Tak hanya diisolasi dengan anjing, setelah sebulan bekerja, Nurhasanah tak 
mendapatkan gaji dari sang majikan. Karena itu, desakan batinnya untuk kabur 
semakin kuat.

Pada Kamis (26/7), tekad dia bulat. Dia ingin mengakhiri penderitaan dengan 
lari dari tempat tersebut. "Saya tak punya bekal makanan. Saya hanya bawa 
selembar koran untuk alas tidur atau duduk," ungkapnya. 

Properti lain yang sempat dibawa adalah baju ganti, paspor, serta HP tanpa SIM 
card. 

Dia menuruni tebing curam dan menerabas rerimbunan pepohonan untuk menemukan 
jalan keluar. Namun, tak cukup sehari untuk bisa keluar perkebunan tersebut. 
"Saya puasa. Saya tak bawa apa-apa. Setiap malam, saya tidur beralas koran 
itu," ujarnya.

Memasuki hari kedua, ketiga, hingga keenam, kata Nurhasanah, dirinya masih tak 
menemukan jalan keluar perkebunan. Tubuhnya semakin lemah. "Pada hari keenam, 
saya terjatuh dari sebuah lereng," jelasnya sambil menunjukkan luka lebam di 
kaki, paha, perut, serta dada.

Setelah peristiwa itu, dia sempat pingsan. "Setelah siuman, saya kembali 
melanjutkan perjalanan. Tubuh saya lemas, tapi tetap saya paksa berjalan," 
katanya.

Memasuki hari kesembilan, Jumat (3/8), dia menemukan sebuah jalan kecil. Dia 
menunggu lama di tempat itu hingga sebuah mobil melintas. Dengan sisa tenaga, 
Nurhasanah menghentikan kendaraan beroda empat tersebut untuk memohon 
pertolongan. "Saya pingsan lagi. Tapi, sebelumnya, saya ingat, orang yang 
membantu saya itu memberi uang kepada saya," ujarnya.

Uang 31 ringgit (sekitar Rp 75 ribu) itu pun masih utuh karena belum sempat 
dibelikan apa-apa. Setelah siuman, Nurhasanah baru sadar dirinya sudah ada di 
gedung KBRI.

Kendati beberapa hari tubuhnya kekurangan makanan, dia masih sulit makan. Meski 
sudah dihibur oleh-oleh beberapa wanita sesama TKW di ruang penampungan, dia 
sering tak sadar diri. Bahkan, setelah diwawancarai Jawa Pos kemarin siang, 
untuk yang kesekian dia pingsan lagi. (*)

Kirim email ke