Salam Mas Dimas,
Maaf, dan maaf, kalau pendapat saya membuat Mas Dimas 'mencak-
mencak', marah-marah. Lalu "memaki-maki" umat yang memuliakan Hukum 
Allah, hukum Tuhannya. Hukum yang dibawa Rasul-NYA untuk kebaikan 
dunia.

Maaf, dan maaf. Sekali lagi, ini hanya diskusi, mencari pencerahan, 
bukan pembenaran. Hasil diskusi ini pun tidak akan ada keputusan. 
Saya senang menumpahkan uneg-uneg, mas Dimas senang pula menjawab 
uneg-uneg saya, dan kawan-kawan lain jadi "guru" pula bagi kita 
semua. Inilah hakekat demokrasi, saling harga-menghargai. Saling 
memberikan pencerahan dengan logika, bukan dengan "nafsu pribadi" dan 
bukan pula dengan "libidonya" mas Dimas, yang mungkin, sedang "penat" 
seharian mencari dan menulis berita. :-)).

Pertanyaan Mas Dimas, "Siapa sih yang melaksanakan hukum Allah? 
Siapakah yang menjalankan Khilafah?" Benar mas, benar "Manusia"lah 
yang menjalankannya. Bukan Iblis, bukan Setan, bukan Jin, bukan 
Malaikat, dan bukanpula hewan, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk-makhluk 
lainnya selain manusia. Kenapa manusia? Sebab manusia itu berakal, 
punya hati, berperasaan. Orang yang berakal dapat membedakan mana 
yang baik, mana pula yang buruk.

Karena yang melaksanakan hukum Allah itu adalah manusia--manusia yang 
benar-benar menjalankan hukum-NYA--menjalankan aturan-aturan-NYA, 
maka merekalah yang akan dapat terjaga dari buasnya NAFSU PRIBADI, 
terjaga dari LIBIDONYA yang ingin berkuasa. Ah, tak benar juga semua 
manusia itu otoriter dan antidemokrasi. Sebelum HAM (Hak Azasi 
Manusia) itu dikoar-koarkan Amerika, Rasulullah SAW 14 abad silam 
sudah mengajarkan kepada umat manusia untuk saling harga menghargai, 
kasih mengasihi, hormat menghormati. Yang kuat melindungi yang lemah, 
yang kaya menyantuni yang fakir, yang cerdas mengajarkan yang bodoh, 
bahkan ketika tanah seorang yahudi dicaplok oleh orang Islam, Rasul 
dan juga diikuti oleh para khalifah sesudahnya, menghukum oknum orang 
Islam itu. Kebenaran (hak yahudi) ditegakkan, dijunjung tinggi, 
dihormati.

Kata mas Dimas; "hanya orang-orang dungu saja yang mau dibodohi 
dengan penerapan apa-apa yang diklaim "Hukum Allah". Wah, lembut 
sekali kalimat Dimas ini. Maaf, jika Dimas adalah seorang muslim, 
dengan kalimat mas Dimas itu, dengan sendirinya mas Dimas memvonis 
Nabi-nabi itu dungu, sahabat-sahabat nabi Dungu, ulama-ulama Dungu, 
dan orang-orang saleh yang taat pada ajaran Allah juga dungu, yang  
mengamalkan agamanya sesuai tuntutan Alquran dan Sunah itu dungu, 
lalu aturan-aturan yang diperintahkan Allah itu aturan dungu 
(Nauzubillahi min dzalik, berlindung saya pada Allah dari lisan dan 
hati yang tak terjaga, dan semoga mas Dimas ini dibukakan hatinya 
untuk menerima hidayah Allah, amin). 

Membaca kalimat Dimas yang lembut itu pula, teringat saya ketika Nabi 
Muhammad SAW menyebarkan risalahNYA di muka bumi; orang-orang kafir 
Quraisy beramai-ramai memusuhinya, melempar nabi dengan batu, kotoran 
unta, dan menganggap Nabi yang Ummi itu dungu dan gila. Bahkan, Nabi 
dan pengikut-pegikutnya sempat dikejar-kejar pula hingga ke Negeri 
Thaif. Dalam satu riwayat disebutkan, malaikat yang menyaksikan 
penderitaan Nabi itu sempat berkata, "Wahai Kekasih Allah, andai 
engkau izinkan, aku balikkan Jabal Uhud (gunung Uhud) ini dan aku 
timpakan ke negeri Thaif itu dan musuh-musuhmu akan musnah". Tapi 
Nabi yang mulia itu berkata: "Jangan, jangan. Mereka melakukan semua 
itu pada saya, sesungguhnya karena mereka tidak tahu. Andai mereka 
tahu, mereka akan berbalik mencintai saya...". Nabi itu pemaaf, dan 
atas kelembutan hatinya itu pula, banyak umat manusia yang menjadi 
pengikut-pengikutnya.

Kata Dimas pula; "Jepang, Cina, Hongkong, bisa bangkit dari 
keterpurukan ekonomi dan peradabannya, dan jadi Macan Asia-bahkan 
jadi negeri superpower dunia-tanpa menerapkan Hukum Allah yang 
dipahami para fundamentalis Islam itu." Hmm, kalimat terakhir Dimas 
ini, ingin saya serahkan pada kawan-kawan lainnya untuk didiskusikan 
bersama. Secara tersirat, Dimas ingin berkata; "rakyat Indonesia, 
umat-umat agama yang ada, majulah menjadi bangsa Jepang yang 
menyembah MATAHARI, jadilah bangsa Cina yang sebagian besarnya  
KOMUNIS, dan jadilah seperti bangsa Hongkong yang TAOISME (Ortodhok) 
dan ATEIS, tak beragama. Dengan menjadi seperti mereka, negara Anda 
akan menjadi BAPAK MACANNYA ASIA. Maaf, dan maaf. Itu kata Mas Dimas, 
saya cuma menafsirkannya saja, he he he.

Sekali lagi, kata seorang Ulama, wartawan itu adalah DAI. Jika ulama 
berdakwah melalui LISANNYA, maka seorang wartawan berdakwah dengan 
TULISANNYA (bil kalam). Menjadi wartawan untuk mengungkap kebenaran, 
termasuk persoalan-persoalan agama. Namun, saya juga tidak berharap 
milis ini menjadi milis agama.

Sukses buat mas Dimas, dan salam buat keluarga.

Tabik,
Muhammad Subhan
Sekarang lagi di Bukittinggi

---------------------

Salam,
Siapa sih yang melaksanakan hukum Allah? Manusia!
Siapa sih yang menjalankan Khilafah ? Manusia. Mereka
manusia-manusia dengan segala nafsu pribadi dan
libidonya berkekuasa - berlindung di belakang "Hukum
Allah" untuk kepentingan sendiri dan golongannya.

Sudah pasti mereka otoriter dan antidemokrasi. Bila
dikritik, cepat-cepat berlindung di ketiak "Hukum
Allah". Bagaimana detailnya Hukum Allah, bisa-bisa
mereka menafsirkannya. 

Yang penting, siapa yang berani mengritik sama dan
dianggap dengan mengritik Allah.

Akhirnya, hanya orang-orang dungu saja yang mau
dibodohi dengan penerapan apa-apa yang diklaim "Hukum
Allah", padahal manusia dengan segala kecerdasannya
bisa menafsir dan menyusun sistem bagaimana mengelola
kelompok dan masyarakatnya.

Ngapain berlindung di belakang Hukum Allah? Betapa
picik dan nggak gentle-nya!

Sekali lagi: Jepang, Cina, Hong Kong, bisa bangkit
dari keterpurukan ekonomi dan peradabannya, dan jadi
Macan Asia - bahkan jadi negeri superpower dunia -
tanpa menerapkan Hukum Allah yang dipahami para
fundamentalis Islam itu. 

Tolong jawab dan tanggapi ini dulu....!!

Wassalam,

Dimas.

Kirim email ke