gak usah repot repot, suruh saja si aan dan sejenisnya memberikan 
contoh:

a) negara yang pakai peraturan Allah itu negara mana sih? 

b) wilayah Nusantara yang non Muslim mau dipaksa pakai peraturan 
Allahnya mereka? gak nyambung lahhh

c) yang jamin peraturannya adalah peraturan Allah itu siapa? lalu 
negara negara Muslim lainnya juga harus tunduk pada peraturan made 
in Indonesia yang diberi label peraturan Allah?

Kapan ini mau terjadi? sehabis lebaran?

Memang, cappekk dehh mas

PS: Mungkin yang pakai nama samaran "Swara" bisa bantu?



--- In [email protected], "Paulus Tanuri" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Saya komentar sedikit di bawah kalimat yang dikomentari.
> 
> On 8/28/07, aan_mm <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Salam Mas Dimas,
> > Maaf, dan maaf, kalau pendapat saya membuat Mas Dimas 'mencak-
> > mencak', marah-marah. Lalu "memaki-maki" umat yang memuliakan 
Hukum
> > Allah, hukum Tuhannya. Hukum yang dibawa Rasul-NYA untuk kebaikan
> > dunia.
> 
> 
> Salah satu masalah mengapa banyak yang tidak suka berdiskusi soal 
agama
> dengan umat Islam adalah, setiap kali ada kritik atau bantahan, 
maka kalian
> akan mengeluarkan kalimat sakti seperti di atas itu. Dan kalimat 
sakti itu
> yang selalu membenarkan umat islam untuk melakukan kekerasan, 
karena merasa
> sedang membela TUHAN.
> Kalau memang Anda mau berdiskusi, ya diskusilah dengan pikiran 
terbuka.
> Jangan bawa-bawa TUHAN dulu.
> Anda yakin TUHAN  YME itu menganggap  Anda sebagai umatNYA ? 
Bisakah
> dibuktikan ?
> Anda yakin HUKUM yang dibawa Rasul NYA itu sama persis dengan yang 
anda baca
> sekarang, atau dengan kata lain apakah anda yakin tidak ada 
perubahan ?
> 
> 
> 
> >
> > Kata Dimas pula; "Jepang, Cina, Hongkong, bisa bangkit dari
> > keterpurukan ekonomi dan peradabannya, dan jadi Macan Asia-bahkan
> > jadi negeri superpower dunia-tanpa menerapkan Hukum Allah yang
> > dipahami para fundamentalis Islam itu." Hmm, kalimat terakhir 
Dimas
> > ini, ingin saya serahkan pada kawan-kawan lainnya untuk 
didiskusikan
> > bersama. Secara tersirat, Dimas ingin berkata; "rakyat Indonesia,
> > umat-umat agama yang ada, majulah menjadi bangsa Jepang yang
> > menyembah MATAHARI, jadilah bangsa Cina yang sebagian besarnya
> > KOMUNIS, dan jadilah seperti bangsa Hongkong yang TAOISME 
(Ortodhok)
> > dan ATEIS, tak beragama. Dengan menjadi seperti mereka, negara 
Anda
> > akan menjadi BAPAK MACANNYA ASIA. Maaf, dan maaf. Itu kata Mas 
Dimas,
> > saya cuma menafsirkannya saja, he he he.
> 
> 
> Kalau saya lihat kalimat Sdr Dimas, saya tidak melihat ada 
tersirat seperti
> yang anda sampaikan. Yang saya tangkap maksud Sdr. Dimas 
adalah, "Jepan,
> Cina, Hongkong bisa bangkit tanpa harus menerapkan HUKUM ALLAH 
(Syariat).
> Artinya, manusia telah diberikan akal dan kebijaksanaan untuk 
sanggup
> memilih mana yang baik dan mana yang benar tanpa harus diatur oleh 
Syariat.
> Dan kalau negara-negara itu bisa berkembang tanpa syariat. Maka 
jelas
> Indonesia pun pasti bisa. Saat ini Indonesia terpuruk karena 
banyak urusan
> penting tidak dikerjakan, tapi para pemimpin terus berlomba 
memperkaya diri.
> (padahal sebagian besar dari mereka katanya adalah UMAT ISLAM ?)
> 
> Kalau anda membaca kalimat Sdr. Dimas dan ternyata menurut anda 
tersirat
> maksud seperti itu. Maka anda telah memperkuat argumentasi saudara 
DIMAS
> bahwa. HUKUM ALLAH pun bisa ditafsirkan salah oleh orang-orang 
yang picik
> pikirannya. Apa yang akan terjadi bila orang-orang picik itu 
kemudian
> memegang kekuasaan di negara ini ?
> 
> 
> Regards,
> Paulus T.
>


Kirim email ke