Saya komentar sedikit di bawah kalimat yang dikomentari. On 8/28/07, aan_mm <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Salam Mas Dimas, > Maaf, dan maaf, kalau pendapat saya membuat Mas Dimas 'mencak- > mencak', marah-marah. Lalu "memaki-maki" umat yang memuliakan Hukum > Allah, hukum Tuhannya. Hukum yang dibawa Rasul-NYA untuk kebaikan > dunia.
Salah satu masalah mengapa banyak yang tidak suka berdiskusi soal agama dengan umat Islam adalah, setiap kali ada kritik atau bantahan, maka kalian akan mengeluarkan kalimat sakti seperti di atas itu. Dan kalimat sakti itu yang selalu membenarkan umat islam untuk melakukan kekerasan, karena merasa sedang membela TUHAN. Kalau memang Anda mau berdiskusi, ya diskusilah dengan pikiran terbuka. Jangan bawa-bawa TUHAN dulu. Anda yakin TUHAN YME itu menganggap Anda sebagai umatNYA ? Bisakah dibuktikan ? Anda yakin HUKUM yang dibawa Rasul NYA itu sama persis dengan yang anda baca sekarang, atau dengan kata lain apakah anda yakin tidak ada perubahan ? > > Kata Dimas pula; "Jepang, Cina, Hongkong, bisa bangkit dari > keterpurukan ekonomi dan peradabannya, dan jadi Macan Asia-bahkan > jadi negeri superpower dunia-tanpa menerapkan Hukum Allah yang > dipahami para fundamentalis Islam itu." Hmm, kalimat terakhir Dimas > ini, ingin saya serahkan pada kawan-kawan lainnya untuk didiskusikan > bersama. Secara tersirat, Dimas ingin berkata; "rakyat Indonesia, > umat-umat agama yang ada, majulah menjadi bangsa Jepang yang > menyembah MATAHARI, jadilah bangsa Cina yang sebagian besarnya > KOMUNIS, dan jadilah seperti bangsa Hongkong yang TAOISME (Ortodhok) > dan ATEIS, tak beragama. Dengan menjadi seperti mereka, negara Anda > akan menjadi BAPAK MACANNYA ASIA. Maaf, dan maaf. Itu kata Mas Dimas, > saya cuma menafsirkannya saja, he he he. Kalau saya lihat kalimat Sdr Dimas, saya tidak melihat ada tersirat seperti yang anda sampaikan. Yang saya tangkap maksud Sdr. Dimas adalah, "Jepan, Cina, Hongkong bisa bangkit tanpa harus menerapkan HUKUM ALLAH (Syariat). Artinya, manusia telah diberikan akal dan kebijaksanaan untuk sanggup memilih mana yang baik dan mana yang benar tanpa harus diatur oleh Syariat. Dan kalau negara-negara itu bisa berkembang tanpa syariat. Maka jelas Indonesia pun pasti bisa. Saat ini Indonesia terpuruk karena banyak urusan penting tidak dikerjakan, tapi para pemimpin terus berlomba memperkaya diri. (padahal sebagian besar dari mereka katanya adalah UMAT ISLAM ?) Kalau anda membaca kalimat Sdr. Dimas dan ternyata menurut anda tersirat maksud seperti itu. Maka anda telah memperkuat argumentasi saudara DIMAS bahwa. HUKUM ALLAH pun bisa ditafsirkan salah oleh orang-orang yang picik pikirannya. Apa yang akan terjadi bila orang-orang picik itu kemudian memegang kekuasaan di negara ini ? Regards, Paulus T.
