Bisa didapatkan di:

Toko Buku the WAHID Institute
Jl Taman Amir Hamzah No. 8
Matraman Jakarta
Hanya Rp 50 ribu
Bisa pesan kirim.
Telp.: 021-3928233, 3145671
Email: [EMAIL PROTECTED]


GAMBUS JAWA DIPERSEMBAHKAN OLEH KOMUNITAS WAYANG SUKET



Gambus Dalam Kemesraan Jawa



"Gambus menghembuskan nafas iLLahiku; menggelar tikar tanahku, hidupkan jiwa
jawaku; merajut nyawa buyut, ingsun lan putu. Menghembuskan cahaya segar
illahiyah baru setiap waktu tapi kuno, nyaman menduduki jagat wong liya
betah diklasa ayahku, suara jadi cahaya, cahaya jadi suara, hati menjadi
jari, jari merasuk sukma, sukma dan jagat adalah engkau dan kami semua
nikmat kita. Tembus ubun-ubun lan dubur  kepala,  telapak, berdiri jakar
sumangat tancap dalam goyangan lindu tiada henti anakku, engkau adalah
engkau, adalah bapak adalah ibu adalah tetangga adalah cinta, cinta pada
barokah dan petaka bergoyang dan bergoyang merenung dan semedi."… ( endo
suanda)



Perkembangan musik Gambus bersamaan dengan karya sastra di Persia atau Arab.
Gambus ini biasa didendangkan kaum sufi dalam usahanya berkomunikasi dengan
sang khalik,  dalam proses menyebarnya  terjadi proses asimilasi dan
akulturasi dengan kebudayaan lokal. Jawa adalah salah satu yang dapat
menerima Gambus dengan apa adanya, apalagi karakteristik yang sama dalam
kesenian Jawa dalam merefleksikan suasana religius ketuhanan, cinta dan
penghargaan pada alam. Ini terlihat pada Tembang-tembang Suluk di tanah
Jawa. Jawa mempunyai jejak yang kuat berhubungan mesra dengan kebudayaan
manapun. Setiap ada kebudayaan dan kesenian apapun dari luar, Jawa
merengkuhnya bukan menjadi tamu tetapi memeluk kesenian asing itu lebur
menjadi setara citarasanya. Berangkat dari itu semua Slamet Gundono, Mustofa
el Habsyi dan komunitas Wayang Suket berkolaborasi untuk mencari jejak-jejak
kemesraan antara Gambus, Gamelan dan  Tembang Jawa.



Adapun sajian Gambus Jawa ini terdiri dari 6 lagu, yaitu:



1. Maca, lagu ini berbicara tetang wahyu pertama yang diterima oleh Nabi
Muhammad SAW yaitu surat Al-a'laq.



2. Pengantinku, lagu ini terinspirasi ketika Gus Mus mantu. Sebuah lagu yang
menceritakan betapa pahit seseorang memutuskan untuk menjadi pengantin,
Slamet Gundono dengan tembangnya mencoba mengusung kisah perkawinan yang
pahit seperti benang getas.



3. Kalimusada Ilang, lagu ini berkisah tentang orang-orang yang tidak punya
rasa malu lagi untuk melakukan pengkhianatan pada kerja yang dia pilih.



4. Yen Kiamat Teka, lagu ini penuh pertanyaan-pertanyaan tentang apakah
manusia mampu menghadapi kiamat dan apakah setiap manusia ingin menempuh
kembali kepada Tuhan dengan jalan yang baik.



5. Z Oh Z, tembang cinta yang muncul di pasar, di tempat tidur bahkan di
lobang angin. Z seorang perempuan yang hanya ada pada tembang, yang dicintai
tapi tidak pernah diketemukan.



6. Kangen barzanji, pada tembang ini adalah Slamet Gundono membaca barzanji
dengan caranya sendiri.



Gambus Jawa didukung oleh :



1. Vokal dan gitar Suket      : Ki Slamet Gundono

2. Gitar Gambus                     : Mustofa el Habsyi

3. Kendang dan gender       : Sri Waluyo

4. Ilustrasi cover                  :  Lukisan Jauhari abdul rosyad



 Produksi : Komunitas wayangsuket surakarta

Kirim email ke