Sajak A.Kohar Ibrahim:
  Perjalanan Ke Pintu Gerbang Abadi
  http://bekasinews.com/puisi
   
  A.Kohar Ibrahim :
   
   
  Perjalanan 
  Ke Pintu Gerbang Abadi
   
  Catatan Tragedi 11 September  2001
  Pembinasaan Twin Towers
  WTC New York
   
  (1)
   
  maka terjadi apa yang 'kan terjadi
  tiba waktu yang telah lama ditunggu
   
  impian pun berubah jadi kenyataan
  bagi yang berkeras hati seperti besi
  berani serta teruji
  hingga detik penghabisan sekali
   
  bukankah harini telah terbukti
  seperti saja memacu kuda semberani
  melompat beranjak meluncur cepat
  melangit seperti sambaran kilat
   
  tiada yang 'kan mampu menghalang
  ketetapan hati para pejuang
  keyakinan menjulang
  menerobos segala aral melintang
  sekali pun ke ruang angkasa raya
  sekali pun ke ujung langit tertinggi
  sekali pun perjalanan terakhir kali
  demi mencapai pintu gerbang abadi
   
   
  (2)
   
  maka terjadi apa yang 'kan terjadi
  tiba waktu yang telah lama ditunggu
   
  bersama sang waktu
  mencapai titik temu
  menjemput barisan seperjalanan
  bersama sang waktu
  menyongsong sang maut di ambang pintu
  gerbang ke-abadi-an
   
  sang pejuang mencapai tujuan
  berkendara kuda semberani zaman ini
  sedang sang peserta terbawa ledakan bersama-sama
  dan beterbangan bagai burung-burung tanpa sayap
  hingga akhirnya sampai ke ujung perjalanan
  di pintu gerbang ke-abadi-an
   
  adakah semua itu hanya variasi
  dari zaman ke zaman perjalanan kehidupan
  mencapai titik yang mutlak dan unik
  pintu gerbang yang abadi?
   
   
  (3)
   
  maka terjadi apa yang 'kan terjadi
  tiba waktu yang telah lama ditunggu
   
  bagi pejuang yang telah berangkat mangkat
  impian telah berubah jadi kenyataan
  menunggang kuda semberani mencapai tujuan hakiki
  bagi peserta terpaksa
  telah terperangkap ketakutan menjadi kenyataan
  hari kiamat sigap menyergap seketika tak terduga
   
  bagi para pejuang memang tiada lain pilihan
  kecuali terbang tinggi mencapai titik tujuan
  meninggalkan alam kehidupan
  penuh dendam kebencian dan kehampaan
  tanpa makna tanpa keindahan
  bukankah bagi mereka yang benar berarti
  itulah kehidupan luhur di hari nanti?
  maka tinggalkan alam kehidupan yang fana
  penuh kenistaan dalam kegemerlapan
  penuh hingar bingar dalam nafsu dan dahaga segala
  tinggalkan mereka yang masih sudi menghayati
  sedang para pejuang teruskan perjalanan di barisan depan
  menyongsong gerbang ke-abadi-an
   
   
  (4)
   
  maka terjadi apa yang 'kan terjadi
  tiba waktu yang telah lama ditunggu
   
  sebarisan pejuang telah berangkat
  mangkat
  sekalian peserta terpaksa
  mangkat
  meninggalkan puing-puing perjuangan
  hidup dan mati
  antara kebiadaban dan peradaban
  mematrikan memori sepanjang zaman
   
  setelah ledakan ledakan kuda semberani
  para pejuang ke pintu gerbang abadi
  masih terdengar pula dari segenap penjuru dunia
  derap berderap suara langkah bersepatu larsa?
  gemuruh langkah kaki teriring denting pedang
  bayonet dan belati?
  oh, siapa siapa pula yang masih alpa
  akan pengalaman manusia berdarah
  tercabut nyawa dan terluka jiwa raga?
  dalam hembusan udara dihangati sinar mentari?
  sedang di malam hari diterangi bulan dan bintang
  ah, lihatlah betapa indahnya
  pemandangan sejagad alam raya
  betapa mulus bundarnya planit biru
   
  burung merpati putih suci terbang tinggi
  mengitari planit bumi
  dunia kita
   
  11.09.2001
   
  *
  Catatan : Sajak ini pernah dimuat Minggu Pagi, Yogya, 24 September 2001. 
Kemudian, selain majalah edisi cetak & online Kreasi, juga dipasang galeri 
puisi Cybersastra 06.10.2002. 
   

       
---------------------------------
 Ne gardez plus qu'une seule adresse mail ! Copiez vos mails vers Yahoo! Mail 

Kirim email ke