REPUBLIKA
Selasa, 11 September 2007

Bangsa Tunailmu 

Oleh : Ahmad Syafii Maarif 


Dalam Pembukaan UUD '45 ditegaskan bahwa di antara tugas pemerintah adalah 
''mencerdaskan kehidupan bangsa''. Rumusan semacam ini bukan tanpa latar 
belakang historis yang sarat dengan kegetiran; ia tidak muncul secara 
tiba-tiba. Akarnya menjalar jauh dan dalam. Sebagai bangsa bekas jajahan, para 
perumus UUD kita menyadari betul betapa gelapnya otak bangsa ini jika tingkat 
buta huruf masih sangat tinggi, yaitu pada tahun 1945 sekitar 90 persen.

Tahun 2007, persentasenya, berkat kemerdekaan, memang sudah terbalik, yaitu 
sekitar 90 persen sudah melek huruf, sekalipun sebagian (besar?) belum tentu 
tamat SD. Dari sisi ini, betapapun masih rendahnya tingkat kecerdasan rakyat, 
kita wajib mensyukuri kemerdekaan bangsa ini. Tanpa kemerdekaan, kita tetap 
saja dalam posisi bangsa budak.

Tetapi, fokus perhatian kita kali ini bukan di situ. Yang hendak disoroti 
adalah kenyataan bahwa tingkat keilmuan bangsa ini secara keseluruhan masih di 
bawah standar. Dengan kata lain, dibandingkan dengan negara tetangga yang lebih 
belakangan mendapatkan kemerdekaan, kita jauh kedororan. Ambillah contoh 
Malaysia yang pada 1950-an dan 1960-an jauh tertinggal oleh Indonesia dan kita 
mengirim pasukan guru ke sana, sekarang memandang kita dengan sebelah mata. 
Apalagi dengan berjibunnya TKI/TKW kita mengadu nasib ke sana, negeri jiran ini 
telah menganggap kita sebagai bangsa dan negara yang tidak serius mengurus dan 
mengisi kemerdekaan. Kita kehilangan wibawa di depan rakyat negara itu yang 
sekarang sedang menikmati kemakmurannya, seperti yang sudah disinggung dalam 
Resonansi sebelum ini.

Apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh dan jiwa bangsa ini? Mengapa kita masih 
dalam keadaan stagnasi dalam upaya memajukan bangsa ini agar lebih bermartabat 
di depan forum dunia? Dalam perspektif perkembangan keilmuan dan teknologi 
dasar, kita adalah bangsa yang masih tunailmu dan tunateknologi. Penyebab 
pokoknya tidak lain karena perhatian negara yang diwakili pemerintah selama 
lebih 60 tahun terhadap dunia pendidikan minim sekali.

Kabinet telah jatuh-bangun berulang kali sejak proklamasi, tetapi dunia 
pendidikan kita tetap saja sebagai kelinci percobaan. Seorang menteri 
pendidikan biasanya diangkat bukan karena visi dan kemampuannya dalam memajukan 
pendidikan, tetapi pertimbangan politik kekuasaan jauh lebih dominan.

Cara semacam ini merupakan salah satu penyebab utama mengapa politik pendidikan 
nasional kita seperti kehilangan benang merah, tidak ada kesinambungan antara 
seorang menteri dengan menteri yang lain dalam berbagai periode. Dengan 
kenyataan ini dunia pendidikan kita menjadi terombang-ambing oleh kebijakan 
yang zigzag tanpa visi yang jelas dan itu semua melelahkan kita. Korbannya 
adalah peserta didik yang tidak mengerti apa-apa mengapa mereka dijadikan 
''barang mainan'' puluhan tahun.

Akibat jangka panjangnya sangat jelas dan tunggal: Pendidikan kehilangan 
perpektif masa depan. Ini persoalan yang sangat serius. Sebuah bangsa yang 
tidak cerdas pasti akan menjadi sasaran obokan pihak lain, tidak peduli apakah 
jumlah penduduknya besar atau kecil.

Beberapa hari yang lalu, dalam penerbangan ke Jakarta, saya kebetulan duduk 
bersebelahan dengan dekan Fakultas Kedokteran UGM yang sangat prihatin pada 
kondisi pendidikan di Indonesia. Ujarnya, bagaimana mungkin bangsa ini akan 
menjadi cerdas manakala tingkat kesejahteraan guru sangat minim, termasuk guru 
besarnya.

Pak dekan ini suami istri adalah profesor, tetapi penghasilan gabungan keduanya 
berada di bawah pendapatan seorang anggota DPRD tingkat II yang PAD-nya tidak 
tinggi. Untung saja dekan ini seorang dokter yang masih berpraktik, sehingga 
ada tambahan penghasilan. Sebuah ironi terlihat di sini: Seorang profesor 
dengan kualifiasi PhD atau doktor lulusan perguruan tinggi dalam negeri 
dilecehkan oleh penghasilan seorang politikus kelas kabupaten atau kota yang 
menjadi anggota DPRD.

Anda mau contoh yang lebih konkret tentang ironi ini? Adalah Profesor T Jacob 
yang punya reputasi dunia dan seorang penulis prolifik, mantan rektor UGM, 
sekalipun sudah pensiun, masih tinggal di rumah dinas karena tidak mampu 
membuat rumah untuk keluarga kecilnya. Yang bernasib begini banyak sekali. 
Manusia tipe Profesor Jacob yang tidak mau bergeser sedikit saja dari posisi 
seorang ilmuwan harus rela hidup tanpa rumah pribadi sampai usia tuanya.

Begitu juga nasib sejarawan almarhum Profesor T Ibrahim Alfian yang telah 
mewariskan beberapa karya tulis penting untuk bangsa ini, di saat wafatnya kita 
melayat ke rumah dinasnya di lingkungan kampus UGM. Pendapatannya selama 
berkarier sebagai ilmuwan yang PNS tidak mampu menolong hari tuanya untuk 
sekadar punya tempat berteduh.

Inilah di antara panorama yang tak sedap dipandang di sebuah bangsa kaya, 
tetapi tidak menghargai ilmu, bangsa tunailmu. Pertanyaan pungkasannya adalah: 
Sampai berapa lagi mendung tebal yang melingkupi alam pendidikan kita berangsur 
sirna?

Kirim email ke