Sekadar urun rembug:

Saya orang kecil, yang berusaha bertahan hidup menjadi
buruh kecil di rumah. Menghilangnya Liga Inggris di
teve gratis, sekadar menyadarkan diri saya, bahwa kita
masih dan (tambah) belum sejahtera. Saya pikir, "hidup
penuh warna" seperti yang di-take_line-kan astro itu
sudah didapat sebagian besar masyarakat kita. Liga
Inggris nongol di teve kita, berarti kita tambah
sejahtera. Setelah itu semua menghilang, dan untuk
nonton mesti daftar ke astro, sadarlah saya, eh masih
mahal juga ya membuka pintu dunia.

Sekarang, di kampung-kampung dekat rumah saya,
piringan sebesar adiknya tampah itu nongkrong di
atap-atap rumah. Pemasangnya, para pegawai kelas
menengah, kepala bagian kantor, sales swastaan,
makelar mobil atau sejenisnya-lah. Begitu di rumah
mereka nangkring astro, gaya bicara dan perilaku para
pelanggan itu tercipta dengan sendirinya: mereka
membentuk kelas ekonomi menengah yang kamuflatif.

Nonton Liga Inggris plus sekitar 70-an channel teve,
keluar Rp 250.000 per bulan (plus paket sport dan
hiburan), mestinya sudah empot-empotan. Ambil misal,
penghasilan mereka Rp 5 jutaan, untuk makan mana cukup
Rp. 2,5 juta? Nyicil rumah, kendaraan, kegiatan
sosial? Sekarang, ng-astro lagi.

Sadar nggak sadar, kita ini jadi bulan-bulanan negara
kiri-kanan yang sudah mampu mengendalikan fasilitas
telekomunikasi dan multimedia. Eh yang lebih kurang
ajar lagi, abis terima pendaftaran dan pasang, dua
hari decoder ngadat, agen resmi di kota saya nggak mau
tahu garansinya. "Silakan telepon ke astro pusat,"
katanya. Ditelepon, susah masuk.

Wah, rupanya saya jadi korban juga perilaku kelas
ekonomi baru yang diciptakan astro. Apa boleh buat,
saya mencoba jadi pelanggan dengan mengkritisi posisi
ekonomi saya yang sebenarnya masih pula kamuflase ini.


handry tm
penulis, pelaku home industri

--- tito imanda <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> For one thing Riza Primadi benar,
> 
> EPL bukan sembako. Hidup tanpa EPL, walau kurang
> gembira rasanya,
> ya gak apa-apa juga. Maka kalau memang Astro tidak
> membuka akses
> tv airwave kepada EPL, saya siap berhanti
> berlangganan Astro sebagai
> protes.
> 
> salam,
> tito
> 
> On 9/13/07, socio.pathos <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >
> >   Jeng Ayu, jangan EGP dong...
> > Rakyat memang cuma mau tahu harga tentrem aman
> damai di kantong. Tapi
> > kalau mau hitung-hitungan, jelas kok rakyat kudu
> dibukakan matanya
> > bahwa ekonomi makro itu pengaruhnya besssuaaar ke
> kantong rakyat
> > kecil. EPL adalah satu mekanisme ekonomi makro dan
> regional yang
> > dilakukan Malaysia ataupun kapitalis dunia dengan
> menginjak-injak
> > kedaulatan rakyat kita (yang katanya kantongnya
> kecil itu). Dari
> > contoh satu sub-sub sektor ekonomi ini saja kita
> sudah diinjak-injak,
> > bagaimana dengan sektor lain (makanya ada
> pembalakan, ada impor gula
> > ilegal, dst....) di sini mata pemerintah juga
> harus dibukan 24 jam
> > sehari, 366 hari kabisat per tahun! Saya tak akan
> lelah bangunkan
> > pemerintah yang tidur, kalau bisa kita ganjel
> pakai korek api (manyala
> > bob!).
> >
> > Jadi, jangan pakai kacamata kuda. Saya malah
> berpikir puasa kali ini
> > ada hikmahnya, saya buka puasa dengan teh manis
> saja. Eh gulanya impor
> > ilegal. Mau makan korma, eh korma impor juga. Mau
> begadang nunggu
> > sahur, eh kagak ada yang lain selain Ulfa. Mau
> nonton bola, bayar?
> > Bayarnya kemana? Ya ke Malaysia... oh, plis dong
> ah! Kalau Jeng Ayu
> > tetap EGP, yah Pemerintahnya juga EGP loh... (tapi
> kantong saya tak
> > mau di-EGP-kan deeehh)
> >
> > Pis!
> >
> > --- In [email protected]
> <mediacare%40yahoogroups.com>, radenayu
> > asli <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > >
> > > Saya penggemar berat EPL tapi bukan bagian dari
> Astro
> > > dan tidak kenal orang Astro dan tidak
> berlangganan
> > > Astro karena mahal. Namun ingin menyampaikan
> suatu
> > > catatan. Pertama-tama, EGP, emangnya gue pikiran
> > > apakah diasiarkan Astro atau tidak. Buat saya
> yang
> > > paling penting adalah memikirkan kesejahteraan
> rakyat
> > > kita yang hidupnya maik sulit. Memasuki bulan
> Ramadhan
> > > harga-harga terus melonjak. Benar-benar hidup
> makin
> > > susah. Masyarakat yang makin miskin ini tidak
> akan
> > > kenyang perutnya karena menonton EPL. Jadi
> pejabat
> > > Pemerintah yang lagi berkuasa, khususnya dari
> > > Meninfokom, janganlah mengalihkan perhatian.
> > > Seharusnya Pemerintah tidak ribut ngurusin Astro
> dan
> > > EPL tapi lebih baik konsentrasi ke rakyat banyak
> yang
> > > kehidupan ekonominya makin sulit. Kalau Anda
> membuat
> > > polling kepada rakyat yang makin sudah hidupnya
> ini,
> > > apakah memilih nonton EPL atau memperoleh
> kehidupan
> > > yang lebih layak, pastilah mereka tidak akan
> pilih
> > > EPL. Sekali lagi, kita pun faham bahwa ini hanya
> usaha
> > > mengalihkan perhatian, suatu hal yang sudah
> biasa
> > > dilakukan Orde Baru.
> > >
> > >
> >
> > 
> >
> 



       
____________________________________________________________________________________
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! 
FareChase.
http://farechase.yahoo.com/

Kirim email ke