http://batampos.co.id/content/view/30590/1/


      Mentawai Bagai Kota Mati 
           
      Sabtu, 15 September 2007  
      MENTAWAI (BP) - Gempa dahsyat dua hari beruntun yang menimpa Bengkulu dan 
Sumatera Barat membuat beberapa daerah terisolasi. Bahaya kelaparan mengintai 
Kepulauan Mentawai karena putusnya komunikasi serta transportasi di gugusan di 
Laut Hindia tersebut. 

      Hingga kemarin (14/9), hari ketiga pascagempa berkekuatan 7,9 SR itu 
mengguncang, belum ada bantuan sembako ke pulau yang terletak sekitar 120 mil 
dari Padang tersebut. Di kepulauan itu saat ini ada 24 ribu warga yang 
mengungsi. Dari data korban, tak ada yang meninggal. Hanya, 14 warga yang 
mengalami cedera parah kini sedang dirawat di puskesmas. 

      Mentawai seperti kota mati. Tanpa listrik. Penduduk meninggalkan rumah. 
Mereka memilih berkumpul di pengungsian di daerah perbukitan. Mereka mengungsi 
karena khawatir terjadi gempa susulan dan kemungkinan tsunami yang bisa muncul 
setiap saat. Saat gempa Rabu lalu, sempat muncul tsunami kecil yang hanya 
setinggi tiga meter.    


      Selain takut tsunami, warga mengungsi karena rumah mereka rusak berat dan 
ringan. Lebih dari lima ribu rumah warga rusak parah dan tidak bisa dihuni 
lagi. 


      Kerusakan terparah terjadi di Pagai Utara Selatan Sikakap. 
      ''Mentawai seperti kota mati. Ribuan warga mengungsi di dataran tinggi 
untuk menghindari terjadinya tsunami. Listrik mati. Hanya di sekitar kantor PLN 
yang menyala. Masyarakat sulit mendapatkan sembako. Pasar-pasar tutup karena 
memang tidak ada sembako yang akan dijual,'' kata Adi yang membuka posko 
Kepulauan Mentawai di Jalan Azizi, Padang.


      Pemkab Mentawai menaksir kerugian sementara akibat gempa mencapai Rp91 
miliar. Selain rumah warga yang hancur, dermaga TPI, dermaga Sikakap, serta 
dermaga Maileppet rusak berat. Begitu pula, tiga tempat pendaratan kapal roro 
patah.


      Sebanyak 15 jembatan rusak serta 40 gedung sekolah rusak berat dan 
ringan. Di antaranya, SMA Siberut Selatan hancur. Di SMP Siberut Selatan, 
tinggal dua lokal yang bisa digunakan. SD 09 juga hancur. 
      Fasilitas umum serta gedung perkantoran pun tidak luput dari kerusakan. 
Sebanyak 25 kantor dan fasilitas rusak berat. Di antaranya, rumah dinas bupati 
dan wabup, kantor bupati dan DPRD rusak ringan, dan beberapa masjid serta 
gereja rusak. Misalnya, Masjid Maileppet. Sedikitnya 20 kilometer jalan 
pecah-pecah dan patah.


      Saat ini, selain sembako, warga membutuhkan tenda serta obatan-obatan. 
Hampir sebagian besar warga membutuhkan air bersih. Kondisi tersebut diperparah 
tidak adanya penerangan. Listrik menyala hanya di Kilometer 4 Tuapejat.


      Kabaghumas Kabupaten Kepulauan Mentawai Adi Dharma mengungkapkan, lebih 
dari 50 persen rumah warga di Sikakap rusak berat. Warga terpaksa tinggal di 
tenda.  Pemkab meminta bantuan helikopter kepada gubernur guna mengangkut 
bantuan sembako, tenda, serta obatan-obatan. (jpnn)

      Jika bantuan tidak segera datang, menurut Adi, dikhawatirkan terjadi 
kelaparan dan penularan penyakit.  ''Dengan adanya helikopter, kami berharap 
bantuan tersebut langsung didrop ke masing-masing pulau besok (hari ini, Red). 
Sebab, kalau didrop di Tuapejat, bantuan sulit didistribusikan ke pulau-pulau 
lain,'' ujarnya.


      Selain sembako, tenda, obat-obatan, dan helikopter, Pemkab Mentawai 
meminta bantuan tenaga medis, perlengkapan tidur, relawan, serta petugas 
pendataan.


      Dedi, seorang warga Mentawai yang mengungsi ke Km 2 ibu kota Mentawai, 
Tuapejat, yang sempat menjalin kontak dengan Padang Ekspres dini hari kemarin 
mengungkapkan, kondisi di daerah tersebut masih mencekam. Banyak rumah yang 
ambruk. Jalan di Km 5 longsor, sehingga tidak bisa dilalui kendaraan beroda 
empat.


      ''Di Tuapejat, gempa susulan terus terjadi. Lampu di sini juga masih 
padam. Masyarakat sekitar pesisir pantai mengungsi ke daerah ketinggian hingga 
ke Km 5,'' ungkapnya yang saat dikontak sedang merasakan gempa. 

      Rumah Roboh Dapat Rp15 Juta 
      Pemerintah menyiapkan dana Rp1 triliun sebagai bantuan renovasi rumah 
korban gempa di Bengkulu, Sumatera Barat, dan Jambi. Rumah roboh atau rusak 
total akan mendapatkan Rp15 juta. Bantuan untuk rumah yang rusak ringan Rp5 
juta.


      Kepastian tersebut disampaikan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla dalam 
keterangan pers mingguan di Kediaman Dinas Wakil Presiden, Jalan Diponegoro No 
2, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin. "Perlakuannya tentu sama. Kalau (korban 
gempa) di Yogyakarta kita bantu perbaikan rumah, tentu demikian juga (korban 
gempa) di Bengkulu," katanya. 


      Meski demikian, nilai bantuan dari pemerintah tidak akan sama dengan yang 
diberikan kepada korban gempa di Jogja. Sebab, tingkat kerusakan di Jogjakarta 
jauh lebih parah daripada yang di Bengkulu. "Tentu ini (bantuan) bukan ganti 
rugi. Besarnya bisa Rp15 juta sampai Rp20 juta. Yang penting rumahnya bisa 
berdiri lagi," terang Kalla.


      Wapres menegaskan, tingkat kerusakan akibat gempa di Bengkulu tidak 
sebesar di Aceh atau di Yogyakarta. Karena itu, biaya rehabilitasinya masih 
dapat ditanggung pemerintah. "Masak, (untuk mengatasi kerusakan)  bencana yang 
ukurannya seperti itu, kita harus minta bantuan dari luar? Negeri ini nanti 
jadi negeri pengemis, negeri yang minta sumbangan melulu."


      Meski demikian, Kalla membantah penyataan Ketua DPR Agung Laksono yang 
menilai pemerintah arogan dengan menyatakan tidak membutuhkan bantuan 
internasional. "Kalau orang mau nyumbang, tentu terbuka saja. Tapi,  kita tidak 
minta. Kita tidak pernah men-declare minta bantuan karena pemerintah sanggup," 
ujarnya.


      Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah menuturkan, dana Rp1 triliun untuk 
penanganan dampak bencana alam, termasuk pembangunan rumah penduduk yang rusak 
akibat gempa, berasal dari dana bencana alam di APBN Perubahan 2007. "Dengan 
dana Rp15 juta, masyarakat sudah bisa membangun kembali rumahnya yang rusak. 
Ini sudah kita buktikan ketika terjadi gempa bumi di Yogyakarta," paparnya.


      Bachtiar menegaskan, pemerintah peduli terhadap penanggulangan bencana 
alam baik terkait masalah fisik maupun pertolongan kepada para korban yang luka 
maupun meninggal dunia. "Kalau persediaan tenda dan selimut habis, (pemerintah 
daerah) bisa mengajukan bantuan ke Departemen Sosial. Pasti kami kirim," 
tegasnya.


      Meski demikian, Bachtiar mengimbau pemerintah daerah tidak mengandalkan 
bantuan dari pemerintah pusat. Bila penanganan bencana alam membutuhkan dana 
dalam jumlah kecil, pemerintah daerah diimbau menggunakan dana milik sendiri. 
(jpnn)
     

Kirim email ke