Wow...
Untuk seorang Roslina...
ini sungguh merupakan pengakuan yang  bukan biasa..

Namun demikian, ukuran intelek menurut saya antara lain adalah:
Mengikuti tapi tidak terseret
menikmati namun tidak kecanduan..
Terlibat dengan alasan...
Bertindak dengan keyakinan..
Berargumentasi dengan dasar..
berdiskusi tanpa emosi....
Selalu mempunyai waktu..
dan berani berseberangan...

yah...untuk anda...ok-lah!!!!

salam
wirajhana

Note:
for bandung kusumo/BDORPIP/yongky:
membaca...relatif untuk jadi ukuran..
mencetak buku dan belanja dan surat kabar?????
kemana ukuran ini dibawa?
merajuk-kah? untuk peningkatan porsi belanja media ataukah 
ukuran intelektual?
Tidak ada keharusan belajar hanya lewat membaca...
karena faktanya fungsi indria bukan cuma 1
dan semua adalah alat belajar..
untuk meningkatkan intelektual, kualitas memandang.
any comment?????
--------------------------------------------
From: Roslina Podico <[EMAIL PROTECTED]>

Saya termasuk manusia langka. Berusia setengah abad. Berkeluarga. Tidak 
pernah jadi pemilik TV, sudah meninggalkan Indonesia sejak 2 dekade. 
Cukup mengikuti berita dunia melalui radio, yg khusus menyiarkan 
berita-berita aktual selama 24 jam. Banyak berita penting yg terjadi di 
Indonesia saya dengar lebih dahulu melalui radio. Seperti berita 
Tsunami, Pangandaran, Gempa kemaren dll.

Di Eropa semakin banyak orang intelektual tdk punya waktu utk duduk di 
depan TV.

Salam
Roslina

BDG KUSUMO wrote:

*TV MAHA DIGDAYA ...*
*From:* B.DORPI P. <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
kompas.com
 
Sabtu.  15 September 2007
*Berhenti Berpikir Cara Televisi *
*Yonky Karman*

Ini zaman melek televisi dengan perannya yang dominan dalam 
kehidupan masyarakat, dari kota hingga desa. Di pedalaman lebih mudah 
menemukan layar kaca daripada seperangkat komputer. /*

Penduduk desa menyiasati keterpencilannya dengan antena parabola. Pada 
era informasi, besar kontribusi televisi yang mengajar pemirsa banyak 
hal, kecuali mematikannya. Kaum yang membela netralitas televisi 
berkilah, benda itu hanya medium komunikasi. Baik buruk pemanfaatannya 
bergantung pada konsumen. Namun, aforisme *Marshall McLuhan* masih 
benar. Medium membawa pesan (*/Understanding Media: The Extensions of 
Man,/* 1964). Lebih dari message, medium juga massage. Bentuk 
komunikasi itu menentukan isi komunikasi. *_Televisi bukan produk 
teknologi bebas nilai. _*

*Pendangkalan publik*

Tayangan televisi komersial pada dasarnya bersifat selingan, tidak 
menuntut banyak berpikir, memperpendek rentang perhatian. Diskursus 
publik tentang politik, agama, pendidikan, olahraga, atau bisnis 
dikemas dalam berbagai bentuk hiburan (entertainment), sebagai bagian 
bisnis pertunjukan. *Penampilan dalam tayangan lebih penting daripada 
isinya.* Medium ikut mendefinisikan realitas.

*_Untuk memahami kultur suatu masyarakat, lihat medium komunikasinya 
yang dominan._* Tayangan televisi merusak karakter reflektif manusia. 
Iklan komersial dikemas menarik sampai tak ada hubungan dengan 
kualitas dan manfaat produk yang diiklankan. *Orang dibujuk membeli 
karena pencitraan.* Kesan pertama dibuat menggoda, selanjutnya 
terserah pemirsa.

Sebuah produk mencantumkan peringatan serius untuk tidak mengonsumsi 
karena merusak kesehatan. Namun, iklannya amat indah membawa pesan 
keindonesiaan yang merekatkan bangsa. Tayangan rutin yang 
mengeksploitasi tindakan sadis tidak memupuk iba atas korban, tetapi 
menumpulkan nurani. Banalisasi kejahatan, kekerasan, kekejaman, dan 
penderitaan. Pernikahan kehilangan sifat sakralnya. Ketika bencana 
nasional menjadi breaking news, berlangsung konstruksi sekaligus 
dekonstruksi rasa haru.

*Neil Postman* merisaukan kultur di AS pada paruh kedua abad ke-20 dan 
seterusnya (*/Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age 
of Show Business/*, 1986). Abad pertelevisian telah menggeser abad 
percetakan (tipografi). Pesona tulisan tergeser pesona tayangan. 
Bisnis surat kabar di AS terdesak televisi dan mesin pencari berita, 
opini, dan iklan seperti Google dan Yahoo.

Sebagian masyarakat AS tengah memasuki kultur lisan fase kedua. Fase 
pertama sebelum orang berkenalan dengan budaya tulisan dan hidup dalam 
tradisi lisan. Kultur lisan fase kedua bersifat high-tech didukung 
peralatan elektronik seperti televisi dan komputer (*Walter J Ong,* 
*/Orality and Literacy: The Technologizing of the Word,/* 1982). 
*_Menonton televisi tidak perlu melek huruf. _*

Akibat pengaruh televisi di AS, terjadi pergeseran kultural. Dari 
kultur yang berpusat pada kata kepada kultur yang berpusat pada 
gambar, tanpa kecenderungan berbalik arah dan nyaris tanpa protes. 
Orang tertidur di depan televisi yang masih hidup, menghibur diri 
sampai mati. Dibanjiri tayangan yang tak berkait, orang menjadi 
terbiasa mementingkan hal-hal sepele terkait perasaan dan kenikmatan, 
menjadi pasif dan akhirnya egoistis.

*_Pesona televisi dapat melumpuhkan minat baca kita yang notabene 
masih rendah_*. Ada korelasi kemajuan bangsa dengan kegemaran membaca. 
Masih rendahnya minat baca kita terlihat dari 4.800 judul buku yang 
dicetak per tahun di Indonesia, sementara Malaysia 7.000, Thailand 
8.000, Jepang 10.0000, Korea Selatan 43.000, Amerika Serikat 50.000.

*_Tahun 2003, belanja masyarakat Indonesia untuk rokok Rp 150 triliun 
per tahun, tetapi belanja surat kabar hanya Rp 4,9 triliun._* Berbeda 
dari di AS, sebagian besar masyarakat Indonesia belum beranjak dari 
kultur lisan fase pertama. Belum sempat memiliki budaya baca, orang 
yang terperangkap budaya televisi tanpa disadari memasuki budaya lisan 
yang lain, sekaligus berada dalam dua fase kultur lisan.

Pada temu koordinasi nasional pelaksanaan gerakan nasional percepatan 
pemberantasan buta aksara di Jakarta, 11 Juli, Mendiknas Bambang 
Sudibyo menegaskan, cara paling mudah, murah, dan cepat meningkatkan 
indeks pembangunan manusia (IPM) adalah dengan pemberantasan buta 
aksara. Penduduk Indonesia yang buta huruf pada akhir 2009 ditargetkan 
menjadi 5 persen.

*Namun, data di kantung-kantung kemiskinan yang tersebar di 1.236 
kecamatan atau 20.633 desa miskin menunjukkan, masyarakat usia 15-44 
tahun mengidap tiga kebutaan: _buta aksara, buta bahasa Indonesia, dan 
buta pengetahuan umum/ pendidikan dasar_. Mereka belum mengenyam 
pendidikan dasar atau cuma beberapa tahun di SD lalu putus sekolah. *

*Tanggung jawab bersama*

Penuntasan tiga buta itu mendapat hambatan serius dari pesona 
elektronik yang membuai dan menjauhkan masyarakat dari barisan huruf. 
Pemerintah tidak boleh berdiam diri membiarkan industri pertelevisian 
secara tak langsung melestarikan kemiskinan. Warga miskin yang lemah 
perlu dilindungi dari dekadensi moral dan psikologis akibat tayangan 
yang hanya mengikuti selera pasar.

*Sejauh ini industri pertelevisian menganut sistem tunggal rating 
kuantitatif yang tak peduli dengan efek pembodohan tayangan.* Yang 
dilihat hanya peringkat dan jumlah penonton, padahal rating tidak 
mencerminkan kualitas tayangan. Bisa saja tayangan buruk memiliki 
rating tinggi (*Erica L Panjaitan dan TM Dhani Iqbal, /Matinya Rating 
Televisi,/* 2006). *Efek pembodohan itu bertentangan dengan upaya 
mencerdaskan bangsa*.

Jangan berharap banyak pada industri pertelevisian yang berorientasi 
bisnis. Untuk membendung efek pembodohan dan meningkatkan efek 
pencerdasan televisi, Kementerian Komunikasi dan Informatika dapat 
mengeluarkan rating tandingan yang memperhitungkan dampak sosial 
tayangan terhadap psikologi penonton.

Gagasan Garin Nugroho bersama Yayasan SET (Sain, Estetika, dan 
Teknologi) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia untuk memelopori 
rating publik sebagai alternatif perlu didukung. Rating kualitatif itu 
melibatkan 560 orang dari berbagai latar profesi (dosen/guru, aktivis 
LSM, jurnalis/redaktur, profesional/pebisnis, pemuka masyarakat) di 14 
kota besar.

Sebuah keluarga yang saya kenal "menyelamatkan" keempat anaknya dengan 
menempatkan televisi di ruang belakang, hanya ditonton seperlunya. 
Tayangan juga dapat menjadi obyek puasa. *Keadaban bangsa tak boleh 
digadaikan kepada kapitalisme berjubah media. *

Yonky Karman*/ Rohaniwan/







      
____________________________________________________________________________________
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=graduation+gifts&cs=bz

Kirim email ke