Pak Bismo, Untuk iseng silahkan lihat "Its men's world":
http://jp.youtube.com/watch?v=VCIyzNISw1Q ----- Original Message ----- From: BDG KUSUMO To: [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, September 17, 2007 10:50 AM Subject: Re: [mediacare] Re: Berhenti Berpikir Cara Televisi Tepat sekali Mbak Roslina yth., karena bukan intelektual saya senang sekali melihat TV yang memberi saya info, pengetahuan (segala film dok. BBC dll), hiburan dari opera, teater, musik klasik sampai jazz dan budaya "massal" Ttp saya masih juga baca koran, buku, di internet, ke cafe buat ngobrol (bukan intelektual salon lho). Jadi walau telah lamuaa sekali di Eropa, sy nampaknya gagal ber perilaku spt intelektual Eropa ... Salam hangat juga untuk Bung Wirajhana, yang puisinya, K&S, serem, seru dan sangat ber-"aroma", he3. Bismo DG ----- Original Message ----- From: wirajhana eka To: [email protected] Sent: Sunday, September 16, 2007 6:51 AM Subject: [mediacare] Re: Berhenti Berpikir Cara Televisi Wow... Untuk seorang Roslina... ini sungguh merupakan pengakuan yang bukan biasa.. Namun demikian, ukuran intelek menurut saya antara lain adalah: Mengikuti tapi tidak terseret menikmati namun tidak kecanduan.. Terlibat dengan alasan... Bertindak dengan keyakinan.. Berargumentasi dengan dasar.. berdiskusi tanpa emosi.... Selalu mempunyai waktu.. dan berani berseberangan... yah...untuk anda...ok-lah!!!! salam wirajhana Note: for bandung kusumo/BDORPIP/yongky: membaca...relatif untuk jadi ukuran.. mencetak buku dan belanja dan surat kabar????? kemana ukuran ini dibawa? merajuk-kah? untuk peningkatan porsi belanja media ataukah ukuran intelektual? Tidak ada keharusan belajar hanya lewat membaca... karena faktanya fungsi indria bukan cuma 1 dan semua adalah alat belajar.. untuk meningkatkan intelektual, kualitas memandang. any comment????? -------------------------------------------- From: Roslina Podico <[EMAIL PROTECTED]> Saya termasuk manusia langka. Berusia setengah abad. Berkeluarga. Tidak pernah jadi pemilik TV, sudah meninggalkan Indonesia sejak 2 dekade. Cukup mengikuti berita dunia melalui radio, yg khusus menyiarkan berita-berita aktual selama 24 jam. Banyak berita penting yg terjadi di Indonesia saya dengar lebih dahulu melalui radio. Seperti berita Tsunami, Pangandaran, Gempa kemaren dll. Di Eropa semakin banyak orang intelektual tdk punya waktu utk duduk di depan TV. Salam Roslina BDG KUSUMO wrote: *TV MAHA DIGDAYA ...* *From:* B.DORPI P. <mailto:[EMAIL PROTECTED]> kompas.com Sabtu. 15 September 2007 *Berhenti Berpikir Cara Televisi * *Yonky Karman* Ini zaman melek televisi dengan perannya yang dominan dalam kehidupan masyarakat, dari kota hingga desa. Di pedalaman lebih mudah menemukan layar kaca daripada seperangkat komputer. /* Penduduk desa menyiasati keterpencilannya dengan antena parabola. Pada era informasi, besar kontribusi televisi yang mengajar pemirsa banyak hal, kecuali mematikannya. Kaum yang membela netralitas televisi berkilah, benda itu hanya medium komunikasi. Baik buruk pemanfaatannya bergantung pada konsumen. Namun, aforisme *Marshall McLuhan* masih benar. Medium membawa pesan (*/Understanding Media: The Extensions of Man,/* 1964). Lebih dari message, medium juga massage. Bentuk komunikasi itu menentukan isi komunikasi. *_Televisi bukan produk teknologi bebas nilai. _* *Pendangkalan publik* Tayangan televisi komersial pada dasarnya bersifat selingan, tidak menuntut banyak berpikir, memperpendek rentang perhatian. Diskursus publik tentang politik, agama, pendidikan, olahraga, atau bisnis dikemas dalam berbagai bentuk hiburan (entertainment), sebagai bagian bisnis pertunjukan. *Penampilan dalam tayangan lebih penting daripada isinya.* Medium ikut mendefinisikan realitas. *_Untuk memahami kultur suatu masyarakat, lihat medium komunikasinya yang dominan._* Tayangan televisi merusak karakter reflektif manusia. Iklan komersial dikemas menarik sampai tak ada hubungan dengan kualitas dan manfaat produk yang diiklankan. *Orang dibujuk membeli karena pencitraan.* Kesan pertama dibuat menggoda, selanjutnya terserah pemirsa. Sebuah produk mencantumkan peringatan serius untuk tidak mengonsumsi karena merusak kesehatan. Namun, iklannya amat indah membawa pesan keindonesiaan yang merekatkan bangsa. Tayangan rutin yang mengeksploitasi tindakan sadis tidak memupuk iba atas korban, tetapi menumpulkan nurani. Banalisasi kejahatan, kekerasan, kekejaman, dan penderitaan. Pernikahan kehilangan sifat sakralnya. Ketika bencana nasional menjadi breaking news, berlangsung konstruksi sekaligus dekonstruksi rasa haru. *Neil Postman* merisaukan kultur di AS pada paruh kedua abad ke-20 dan seterusnya (*/Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age of Show Business/*, 1986). Abad pertelevisian telah menggeser abad percetakan (tipografi). Pesona tulisan tergeser pesona tayangan. Bisnis surat kabar di AS terdesak televisi dan mesin pencari berita, opini, dan iklan seperti Google dan Yahoo. Sebagian masyarakat AS tengah memasuki kultur lisan fase kedua. Fase pertama sebelum orang berkenalan dengan budaya tulisan dan hidup dalam tradisi lisan. Kultur lisan fase kedua bersifat high-tech didukung peralatan elektronik seperti televisi dan komputer (*Walter J Ong,* */Orality and Literacy: The Technologizing of the Word,/* 1982). *_Menonton televisi tidak perlu melek huruf. _* Akibat pengaruh televisi di AS, terjadi pergeseran kultural. Dari kultur yang berpusat pada kata kepada kultur yang berpusat pada gambar, tanpa kecenderungan berbalik arah dan nyaris tanpa protes. Orang tertidur di depan televisi yang masih hidup, menghibur diri sampai mati. Dibanjiri tayangan yang tak berkait, orang menjadi terbiasa mementingkan hal-hal sepele terkait perasaan dan kenikmatan, menjadi pasif dan akhirnya egoistis. *_Pesona televisi dapat melumpuhkan minat baca kita yang notabene masih rendah_*. Ada korelasi kemajuan bangsa dengan kegemaran membaca. Masih rendahnya minat baca kita terlihat dari 4.800 judul buku yang dicetak per tahun di Indonesia, sementara Malaysia 7.000, Thailand 8.000, Jepang 10.0000, Korea Selatan 43.000, Amerika Serikat 50.000. *_Tahun 2003, belanja masyarakat Indonesia untuk rokok Rp 150 triliun per tahun, tetapi belanja surat kabar hanya Rp 4,9 triliun._* Berbeda dari di AS, sebagian besar masyarakat Indonesia belum beranjak dari kultur lisan fase pertama. Belum sempat memiliki budaya baca, orang yang terperangkap budaya televisi tanpa disadari memasuki budaya lisan yang lain, sekaligus berada dalam dua fase kultur lisan. Pada temu koordinasi nasional pelaksanaan gerakan nasional percepatan pemberantasan buta aksara di Jakarta, 11 Juli, Mendiknas Bambang Sudibyo menegaskan, cara paling mudah, murah, dan cepat meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) adalah dengan pemberantasan buta aksara. Penduduk Indonesia yang buta huruf pada akhir 2009 ditargetkan menjadi 5 persen. *Namun, data di kantung-kantung kemiskinan yang tersebar di 1.236 kecamatan atau 20.633 desa miskin menunjukkan, masyarakat usia 15-44 tahun mengidap tiga kebutaan: _buta aksara, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan umum/ pendidikan dasar_. Mereka belum mengenyam pendidikan dasar atau cuma beberapa tahun di SD lalu putus sekolah. * *Tanggung jawab bersama* Penuntasan tiga buta itu mendapat hambatan serius dari pesona elektronik yang membuai dan menjauhkan masyarakat dari barisan huruf. Pemerintah tidak boleh berdiam diri membiarkan industri pertelevisian secara tak langsung melestarikan kemiskinan. Warga miskin yang lemah perlu dilindungi dari dekadensi moral dan psikologis akibat tayangan yang hanya mengikuti selera pasar. *Sejauh ini industri pertelevisian menganut sistem tunggal rating kuantitatif yang tak peduli dengan efek pembodohan tayangan.* Yang dilihat hanya peringkat dan jumlah penonton, padahal rating tidak mencerminkan kualitas tayangan. Bisa saja tayangan buruk memiliki rating tinggi (*Erica L Panjaitan dan TM Dhani Iqbal, /Matinya Rating Televisi,/* 2006). *Efek pembodohan itu bertentangan dengan upaya mencerdaskan bangsa*. Jangan berharap banyak pada industri pertelevisian yang berorientasi bisnis. Untuk membendung efek pembodohan dan meningkatkan efek pencerdasan televisi, Kementerian Komunikasi dan Informatika dapat mengeluarkan rating tandingan yang memperhitungkan dampak sosial tayangan terhadap psikologi penonton. Gagasan Garin Nugroho bersama Yayasan SET (Sain, Estetika, dan Teknologi) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia untuk memelopori rating publik sebagai alternatif perlu didukung. Rating kualitatif itu melibatkan 560 orang dari berbagai latar profesi (dosen/guru, aktivis LSM, jurnalis/redaktur, profesional/pebisnis, pemuka masyarakat) di 14 kota besar. Sebuah keluarga yang saya kenal "menyelamatkan" keempat anaknya dengan menempatkan televisi di ruang belakang, hanya ditonton seperlunya. Tayangan juga dapat menjadi obyek puasa. *Keadaban bangsa tak boleh digadaikan kepada kapitalisme berjubah media. * Yonky Karman*/ Rohaniwan/ ---------------------------------------------------------------------------- Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! FareChase. ------------------------------------------------------------------------------ No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.487 / Virus Database: 269.13.21/1012 - Release Date: 9/16/2007 6:32 PM
