Tepat sekali Mbak Roslina yth.,
karena bukan intelektual saya senang sekali melihat TV
yang memberi saya info, pengetahuan (segala film dok.
BBC dll), hiburan dari opera, teater, musik klasik sampai
jazz dan budaya "massal"  Ttp saya masih juga baca koran, 
buku, di internet, ke cafe buat ngobrol (bukan intelektual 
salon lho). Jadi walau telah lamuaa sekali di Eropa, sy 
nampaknya gagal ber perilaku spt intelektual Eropa ...

Salam hangat juga untuk Bung Wirajhana, yang puisinya, 
K&S, serem, seru dan sangat ber-"aroma", he3.
Bismo DG



  ----- Original Message ----- 
  From: wirajhana eka 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, September 16, 2007 6:51 AM
  Subject: [mediacare] Re: Berhenti Berpikir Cara Televisi



  Wow...
  Untuk seorang Roslina...
  ini sungguh merupakan pengakuan yang  bukan biasa..

  Namun demikian, ukuran intelek menurut saya antara lain adalah:
  Mengikuti tapi tidak terseret
  menikmati namun tidak kecanduan..
  Terlibat dengan alasan...
  Bertindak dengan keyakinan..
  Berargumentasi dengan dasar..
  berdiskusi tanpa emosi....
  Selalu mempunyai waktu..
  dan berani berseberangan...

  yah...untuk anda...ok-lah!!!!

  salam
  wirajhana

  Note:
  for bandung kusumo/BDORPIP/yongky:
  membaca...relatif untuk jadi ukuran..
  mencetak buku dan belanja dan surat kabar?????
  kemana ukuran ini dibawa?
  merajuk-kah? untuk peningkatan porsi belanja media ataukah 
  ukuran intelektual?
  Tidak ada keharusan belajar hanya lewat membaca...
  karena faktanya fungsi indria bukan cuma 1
  dan semua adalah alat belajar..
  untuk meningkatkan intelektual, kualitas memandang.
  any comment?????
  --------------------------------------------

  From: Roslina Podico <[EMAIL PROTECTED]>


  Saya termasuk manusia langka. Berusia setengah abad. Berkeluarga. Tidak 
  pernah jadi pemilik TV, sudah meninggalkan Indonesia sejak 2 dekade. 
  Cukup mengikuti berita dunia melalui radio, yg khusus menyiarkan 
  berita-berita aktual selama 24 jam. Banyak berita penting yg terjadi di 
  Indonesia saya dengar lebih dahulu melalui radio. Seperti berita 
  Tsunami, Pangandaran, Gempa kemaren dll.

  Di Eropa semakin banyak orang intelektual tdk punya waktu utk duduk di 
  depan TV.

  Salam
  Roslina

  BDG KUSUMO wrote:

  *TV MAHA DIGDAYA ...*
  *From:* B.DORPI P. <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
  kompas.com
   
  Sabtu.  15 September 2007
  *Berhenti Berpikir Cara Televisi *
  *Yonky Karman*

  Ini zaman melek televisi dengan perannya yang dominan dalam 
  kehidupan masyarakat, dari kota hingga desa. Di pedalaman lebih mudah 
  menemukan layar kaca daripada seperangkat komputer. /*

  Penduduk desa menyiasati keterpencilannya dengan antena parabola. Pada 
  era informasi, besar kontribusi televisi yang mengajar pemirsa banyak 
  hal, kecuali mematikannya. Kaum yang membela netralitas televisi 
  berkilah, benda itu hanya medium komunikasi. Baik buruk pemanfaatannya 
  bergantung pada konsumen. Namun, aforisme *Marshall McLuhan* masih 
  benar. Medium membawa pesan (*/Understanding Media: The Extensions of 
  Man,/* 1964). Lebih dari message, medium juga massage. Bentuk 
  komunikasi itu menentukan isi komunikasi. *_Televisi bukan produk 
  teknologi bebas nilai. _*

  *Pendangkalan publik*

  Tayangan televisi komersial pada dasarnya bersifat selingan, tidak 
  menuntut banyak berpikir, memperpendek rentang perhatian. Diskursus 
  publik tentang politik, agama, pendidikan, olahraga, atau bisnis 
  dikemas dalam berbagai bentuk hiburan (entertainment), sebagai bagian 
  bisnis pertunjukan. *Penampilan dalam tayangan lebih penting daripada 
  isinya.* Medium ikut mendefinisikan realitas.

  *_Untuk memahami kultur suatu masyarakat, lihat medium komunikasinya 
  yang dominan._* Tayangan televisi merusak karakter reflektif manusia. 
  Iklan komersial dikemas menarik sampai tak ada hubungan dengan 
  kualitas dan manfaat produk yang diiklankan. *Orang dibujuk membeli 
  karena pencitraan.* Kesan pertama dibuat menggoda, selanjutnya 
  terserah pemirsa.

  Sebuah produk mencantumkan peringatan serius untuk tidak mengonsumsi 
  karena merusak kesehatan. Namun, iklannya amat indah membawa pesan 
  keindonesiaan yang merekatkan bangsa. Tayangan rutin yang 
  mengeksploitasi tindakan sadis tidak memupuk iba atas korban, tetapi 
  menumpulkan nurani. Banalisasi kejahatan, kekerasan, kekejaman, dan 
  penderitaan. Pernikahan kehilangan sifat sakralnya. Ketika bencana 
  nasional menjadi breaking news, berlangsung konstruksi sekaligus 
  dekonstruksi rasa haru.

  *Neil Postman* merisaukan kultur di AS pada paruh kedua abad ke-20 dan 
  seterusnya (*/Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age 
  of Show Business/*, 1986). Abad pertelevisian telah menggeser abad 
  percetakan (tipografi). Pesona tulisan tergeser pesona tayangan. 
  Bisnis surat kabar di AS terdesak televisi dan mesin pencari berita, 
  opini, dan iklan seperti Google dan Yahoo.

  Sebagian masyarakat AS tengah memasuki kultur lisan fase kedua. Fase 
  pertama sebelum orang berkenalan dengan budaya tulisan dan hidup dalam 
  tradisi lisan. Kultur lisan fase kedua bersifat high-tech didukung 
  peralatan elektronik seperti televisi dan komputer (*Walter J Ong,* 
  */Orality and Literacy: The Technologizing of the Word,/* 1982). 
  *_Menonton televisi tidak perlu melek huruf. _*

  Akibat pengaruh televisi di AS, terjadi pergeseran kultural. Dari 
  kultur yang berpusat pada kata kepada kultur yang berpusat pada 
  gambar, tanpa kecenderungan berbalik arah dan nyaris tanpa protes. 
  Orang tertidur di depan televisi yang masih hidup, menghibur diri 
  sampai mati. Dibanjiri tayangan yang tak berkait, orang menjadi 
  terbiasa mementingkan hal-hal sepele terkait perasaan dan kenikmatan, 
  menjadi pasif dan akhirnya egoistis.

  *_Pesona televisi dapat melumpuhkan minat baca kita yang notabene 
  masih rendah_*. Ada korelasi kemajuan bangsa dengan kegemaran membaca. 
  Masih rendahnya minat baca kita terlihat dari 4.800 judul buku yang 
  dicetak per tahun di Indonesia, sementara Malaysia 7.000, Thailand 
  8.000, Jepang 10.0000, Korea Selatan 43.000, Amerika Serikat 50.000.

  *_Tahun 2003, belanja masyarakat Indonesia untuk rokok Rp 150 triliun 
  per tahun, tetapi belanja surat kabar hanya Rp 4,9 triliun._* Berbeda 
  dari di AS, sebagian besar masyarakat Indonesia belum beranjak dari 
  kultur lisan fase pertama. Belum sempat memiliki budaya baca, orang 
  yang terperangkap budaya televisi tanpa disadari memasuki budaya lisan 
  yang lain, sekaligus berada dalam dua fase kultur lisan.

  Pada temu koordinasi nasional pelaksanaan gerakan nasional percepatan 
  pemberantasan buta aksara di Jakarta, 11 Juli, Mendiknas Bambang 
  Sudibyo menegaskan, cara paling mudah, murah, dan cepat meningkatkan 
  indeks pembangunan manusia (IPM) adalah dengan pemberantasan buta 
  aksara. Penduduk Indonesia yang buta huruf pada akhir 2009 ditargetkan 
  menjadi 5 persen.

  *Namun, data di kantung-kantung kemiskinan yang tersebar di 1.236 
  kecamatan atau 20.633 desa miskin menunjukkan, masyarakat usia 15-44 
  tahun mengidap tiga kebutaan: _buta aksara, buta bahasa Indonesia, dan 
  buta pengetahuan umum/ pendidikan dasar_. Mereka belum mengenyam 
  pendidikan dasar atau cuma beberapa tahun di SD lalu putus sekolah. *

  *Tanggung jawab bersama*

  Penuntasan tiga buta itu mendapat hambatan serius dari pesona 
  elektronik yang membuai dan menjauhkan masyarakat dari barisan huruf. 
  Pemerintah tidak boleh berdiam diri membiarkan industri pertelevisian 
  secara tak langsung melestarikan kemiskinan. Warga miskin yang lemah 
  perlu dilindungi dari dekadensi moral dan psikologis akibat tayangan 
  yang hanya mengikuti selera pasar.

  *Sejauh ini industri pertelevisian menganut sistem tunggal rating 
  kuantitatif yang tak peduli dengan efek pembodohan tayangan.* Yang 
  dilihat hanya peringkat dan jumlah penonton, padahal rating tidak 
  mencerminkan kualitas tayangan. Bisa saja tayangan buruk memiliki 
  rating tinggi (*Erica L Panjaitan dan TM Dhani Iqbal, /Matinya Rating 
  Televisi,/* 2006). *Efek pembodohan itu bertentangan dengan upaya 
  mencerdaskan bangsa*.

  Jangan berharap banyak pada industri pertelevisian yang berorientasi 
  bisnis. Untuk membendung efek pembodohan dan meningkatkan efek 
  pencerdasan televisi, Kementerian Komunikasi dan Informatika dapat 
  mengeluarkan rating tandingan yang memperhitungkan dampak sosial 
  tayangan terhadap psikologi penonton.

  Gagasan Garin Nugroho bersama Yayasan SET (Sain, Estetika, dan 
  Teknologi) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia untuk memelopori 
  rating publik sebagai alternatif perlu didukung. Rating kualitatif itu 
  melibatkan 560 orang dari berbagai latar profesi (dosen/guru, aktivis 
  LSM, jurnalis/redaktur, profesional/pebisnis, pemuka masyarakat) di 14 
  kota besar.

  Sebuah keluarga yang saya kenal "menyelamatkan" keempat anaknya dengan 
  menempatkan televisi di ruang belakang, hanya ditonton seperlunya. 
  Tayangan juga dapat menjadi obyek puasa. *Keadaban bangsa tak boleh 
  digadaikan kepada kapitalisme berjubah media. *

  Yonky Karman*/ Rohaniwan/





------------------------------------------------------------------------------
  Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! 
FareChase. 

   

Kirim email ke