Saya awam dalam hal-hal yang berkaitan dgn jurnalisme. Namun sebagai konsumen pembaca, saya sangat heran dgn apa yg dilakukan Jawa Pos.
Apa sih begitu terlalu istimewanya operasi transplantasi liver seorang Dahlan Iskan, Boss-nya Jawa Pos, sampai-sampai tulisan tentang pengalaman menjalani operasi transplantasi livernya itu dimuat di Jawa Pos secara bersambung sampai sedemikian panjangnya? Bayangkan saja, sampai hari ini, Kamis, 20 September 2007, tulisan pengalaman transplantasi liver Dahlan Iskan sudah memasuki episode yang ke-26 ! Dan belum menunjukkan tanda-tanda "The End." Rasanya sudah setara dgn tebal sebuah novel. Apa tidak sekalian dibikin novelnya saja, Bapak2 / Ibu2 Redaktur di Jawa Pos? Atau barangkali mau dibuat sinetronnya sekalian di JTV? Masih belum cukup dgn cerita bersambung itu, Jawa Pos juga sempat memuat satu halaman khusus berisi komentar2 pembaca ttg tulisan tsb. Apakah koran ini terlalu mendewa-dewakan Sang Boss yg bernama Dahlan Iskan? Kalau ya, jangan pembacanya juga diikut-ikutan, dong... Koran Jawa Pos itu adalah media publik, bukan koran intern atau sejenisnya. Atau para Redakturnya takut kepada Sang Boss, sehingga terpaksa memuat semua tulisannya tsb? Jangankan membacanya terus, melihat judulnya saja rasanya sudah 'nek.
