Menjelang hari Raya Idulfitri nanti, marilah kita semua umat Islam meminta maaf kepada orang2 Yahudi, kepada orang2 kafir, kepada orang2 murtad, kepada orang2 yang selama ini kita anggap sebagai lebih rendah daripada binatang karena mereka menolak menyembah Allah.
Kita sebagai umat Islam pada hari Raya ini berkesempatan untuk menyatakan bahwa kebebasan beragama akan ditegakkan umat Islam secara benar bukan hanya kata2 saja. Setiap umat manusia berhak menyembah apa saja yang dipercayanya, dan tidak ada paksaan untuk menyembah Allah, tidak ada paksaan untuk menganggap bahwa tiada Tuhan selain Allah. Sebagai umat Islam kita harus meminta maaf kepada pemilik maupun para penyembah patung2 yang selama ribuan tahun dirusak dan dihancurkan oleh umat Islam, sebagai umat Islam kita bersedia memugar semua patung2 dan memberi ganti rugi kepada mereka yang patung2nya telah dirusak oleh umat Islam selama ini. Setiap umat Islam berhak untuk pindah agama dan tidak lagi harus dianggap murtad dan dihukum pancung seperti selama ini kita lakukan. Ny. Muslim binti Muskitawati. --- In [email protected], abdul kohar ibrahim <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Maaf Memaafkan Selayaknya Insan Manusiawi > > Prosapuisi > > Oleh A.Kohar Ibrahim > > > > Suasana dalam alam kesucian mensuci cuci diri dari biadab keadaban hidup kehidupan manusia sejagad dunia tanpa henti berjanji pun tiada henti yang berbakti pun yang beraksi keji sekali pun dengan nyanyi kaji mengaji di pagi siang sore pun malam hari bahkan dimulai dinihari > Sementara yang setia berbakti menjaga jati diri sejati ; sementara yang ingkar seraya berkoar pamer pamor sesumbar caci maki tipu daya pengumbar nafsu birahi kuasa usaha tanpa puas apura-pura sekali pun sehari dalam dahaga tiada tara bak raja diraja kekayaan dunia meski hipokrit komat kamit doa seraya penganjur saling maaf minta ampun segala dosa > > > Maaf memafkan ah iya memang lah iya sudah selayaknya insan manusiawi berhatinurani sejagad bumi tapi tanpa ilusi pada kaum tirani macam zaman dulu macam zaman kini ini di sini di mana mana bola bumi ; kepada mereka sia sia saja sekalipun teriring jutaan salaman sarat asa apa pula minta minta belas kasihan > jangan jangan sekali kali apa lagi jutaan kali merunduk tunduk bagai budak belian di hadapan kaum yang dipertuan maunya dipertuhankan kekuasaan kekuatan uang kekayaan hasil rampokan yang membudaya sepanjang zaman arogansi kekuasaan > > Maaf memaafkan ah iya sudah ku terima sudah kunyatakan dalam beragam cara lisan tersurat tersirat tersarat asa kejujur-tulusan insan manusiawi berhatinurani memancar binar binar kebenaran hakiki > begitu juga jangan jangan sekali sekali pun sekali bertindak-anjak merangkak bak budak belian tanpa harga diri sama sekali apa pula jadi ketularan kaum pikun alpa lupa kesejarahan bangsa teralgojo kaum nista ternista meski berjubah putih putih suci tapi penyimpan dengki benci keragam-macam-an manusia se alam dunia sekalian pikiran aliran seadanya > > Maaf memaafkan ah iya sudah selayaknya tapi selayaknya pula tanpa lupa tragedi kejahatan kemanusiaan tak terperikan dahsyat kedahsyatan jahatanya kaum berwajah manusia jiwanya setan siluman paling kejam menikam merajam > jangan jangan sekali pun sekali lupa kan penggeledahan pengejaran penggelapan pemberangusan penembakan pemancungan buku buku serta sekalian penerbitan lainnya teriring pembantaian jutaan manusia sekali pun jutaan kali mereka lakukan kebiadaban berdarah tanpa berdarah ujung ujungnya sia sia belaka kerna kebenaran sarat makna pepatah patah satu tumbuh seribu hilang di sini muncul lagi dan lagi di sana sini bersama kesegalaan gerak bergerak maju tak gentar secara pintar lanjut gelinding bak roda gerobak sarana perjalanan hidup dan kehidupan sepanjang zaman > > Maaf memaafkan ah iya lumrah tapi sarat marwah tanpa lupa kan kebiadaban dalam menelusuri mengungkap-tegakkan kebenaran keadilan hakiki selayaknya giat kiprah insan manusiawi > Kami, aku pun teman teman seperjuangan pencinta pencipta tulisan penerbitan buku maupun koran tak pernah punya hasrat itikad pula kekuasaan melakukan pembakaran buku dan penerbitan apa pula pembinasaan sesama manusia insan budaya di medan laga pentas maupun media massa kecuali menari berlaga lagu musikalita dinamika polemika selaku pelaku komedi pun drama pendamba kemerdekaan rakyat dan bangsa indonesia > > Maaf memaafkan ah iya tapi sarat marwah tanpa lupa `kan kebiadaban dalam mengangkat-tegakkan kebenaran keadilan hakiki mengungkap segala sikap perbuatan biadap kekuasaan arogan pendamba zaman perbudakan dan penjajahan di segala bidang kehidupan ; begitulah beda kehakikiannya dengan mentalita kaum budak belian sekalipun berada seputar singgasana tiranika sekian dasawarsa adanya > Kami tak gentar jatuh bangun tegak tegar membela yang benar > Karena yang benar adalah benar yang salah adalah salah ; pula yang hitam adalah hitam sedang yang putih putih yang merah merah bak sangsaka merah-putih yang layak dibela dikibar dalam perjuangan kemerdekaan sampai akhir zaman > > (September 1965-2007) > > > > --------------------------------- > Ne gardez plus qu'une seule adresse mail ! Copiez vos mails vers Yahoo! Mail >
