Publik kini mengalami pendewasaan, bukan semata-mata
oleh publik itu sendiri, tetapi juga oleh
sepak-terjang partai-partai politik. Publik tidak lagi
melihat tokoh-tokoh parpol sebagai sebarisan
orang-orang yang suci-duit apalagi suci-dosa. Mereka
sama dengan manusia normal lainnya...
Juga, ada kecenderungan menarik dengan semakin
seringnya pengambilan keputusan parpol
mempertimbangkan hasil survei. Ini gejala baik.
Nah, ada baiknya parpol-parpol melakukan survey
(bersama oleh semua parpol) untuk mengetahui apakah
ejek-mengejek di antara mereka dapat menambah
pengaruh(baca perolehan suara) parpol. Jika memang
survei membuktikan manfaat dari pengejekan, maka
teruskan saja pola ejek-mengejek itu. Toh akan
menghasilkan lebih banyak suara!
--- kusnadi ateng <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Sedih sekali rasanya melihat sepak terjang pelaku
> politik di republik ini. Mentalitas yang ada di
> otaknya semata saling menjatuhkan satu sama lain,
> saling jegal, mecari kesalahan satu sama lain.
>
> Mengapa tidak memaparkan program-program yang real
> bagi rakyat untuk membangun indonesai mendatang yang
> lebih arif dan sejahtera. Dimanakah rasa malu dalam
> hati sanubari anda sebagai pelaku politik.
>
> Apasih enaknya anda berkuasa, sementara disisi
> lain anda menindas orang lain. Rakyat perlahan sudah
> mulai dewasa dalam berpolitik, mereka akan mencari
> tahu pilihan apa yang terbaik untuknya di lima tahun
> mendatang.
>
> Bagi yang terlanjur belum menjelekan saingannya,
> semoga memahami bahwa strategi lama saling
> menjatuhkan, menghina saingan sudah tidak relevan
> lagi. Sebaiknya niatan tadi diurungkan saja. Seperti
> yang terjadi antara PKS VS PDIP
>
>
> Alfi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Selasa, 11/9/07, saya menghadiri ceramah
> Taufik Kiemas, suami mantan
> Presiden Megawati, dalam acara seminar yang diadakan
> RSIS ( Rajaratman
> School
> of International Studies) tempat saya kuliah.
> Seminar merupakan bagian dari
> mata kuliah yang wajib saya ikuti.
>
> Taufik Kiemas datang atas undangan Indonesian Center
> RSIS yang dipimpin oleh
> Prof. Dr. Leonard Sebastian (Indonesianis
> Singapura). Tampak hadir menyertai
>
> Taufik para petinggi PDIP, di antaranya Pramono
> Anung, Sutradara Ginting,
> Puan Maharani dan beberapa yang tidak saya kenal.
>
> Dalam kesempatan itu Taufik memaparkan dua hal
> pokok. Pertama, soal
> perkembangan PDIP dan persiapan menghadapi Pemilu
> 2009. Kedua soal terorisme dan sektarianisme di
> Indonesia . Pada poin pertama Taufik, dengan bahasa
> Indonesia yang diterjemahkan oleh seorang
> translator, memaparkan tentang
> cita-cita PDIP untuk membangun Indonesia sebagai
> rumah besar nasionalisme
> yang bertujuan mempertahankan Pancasila, NKRI dan
> mewujudkan pluralisme.
> "Mustahil nasionalisme tanpa pluralisme, " tukas
> Taufik.
>
> Untuk mewujudkan rumah besar itu, PDIP harus
> bekerjasama dengan pihak
> eksternal. Dalam hal ini ia menyebut Golkar untuk
> dalam negeri dan Amerika
> Serikat yang dianggap memiliki kemampuan campur
> tangan terhadap negara lain.
>
> "Saya tidak butuh orang-orang golkar. Yang saya
> butuhkan adalah Partai
> Golkar yang berhaluan pluralis," ujar Taufk.
>
> Sikap itu juga disampaikan saat Taufik dan
> kawan-kawan berkunjung ke Amerika
> Serikat (AS). Menurut Taufik, saat di AS ia
> menegaskan kembali tentang sikap
>
> PDIP sebagai partai oposisi di Indonesia dan sebagai
> partai nasionalisme
> yang menjunjung tinggi pluralisme.
>
> Saat membahas bagian kedua dari ceramahnya tentang
> pluralisme dan terorisme
> di Indonesia , ia menyebutkan bahwa nasionalisme/
> pluralisme di Indonesia
> sedang menghadapi apa yang ia sebut sektarianisme.
> Sektarianisme inilah yang
> menjadi kelompok teroris. Persoalannya, menurut
> Taufik, bila kelompok
> teroris membentuk kelompok tersendiri akan lebih
> mudah untuk menumpasnya,
> tapi kini kelompok teroris itu telah masuk ke dalam
> partai politik sehingga
> lebih sulit dideteksi. Dan tanpa tedeng aling ia
> menyebut PKS.
>
> Lebih lanjut ia menjelaskan, karena itulah mengapa
> kelompok nasionalis yang
> memperjuangan pluralisme di Indonesia bersatu
> melawan PKS dalam Pilkada di
> DKI Jakarta . Karena hanya dengan bersatu padu
> itulah mereka dapat
> mengalahkan PKS di sejumlah daerah. "Tampaknya
> melihat kaum pluralis bersatu
>
> mereka takut juga," tandas Taufik.
>
> Ia juga sempat menyitir pidato Pak Hidayat Nur
> Wahid, yang saya tidak tahu
> dimana, bahwa Pak Dayat berbicara tentang
> nasionalisme dan pluralisme,
> seolah-olah ia lebih nasionalis dari orang
> nasionalis sendiri.
>
> Terus terang, mendengar paparan Taufik itu dada saya
> langsung bergemuruh.
> Tadinya tidak ada niat saya untuk bertanya. Saya
> datang hanya untuk
> menggugurkan kewajiban kuliah saja. Dan kita juga
> sama-sama tahulah kualitas
>
> Taufik, jadi saya pikir tak ada sesuatu yang bisa
> diambil. Di samping,
> kedatangan saya juga untuk menjaga hubungan baik
> saya dengan Andi Widjajanto
> (anak Theo Syafei yang sedang mengambil Phd. Di
> Singapura) teman sekelas
> saya di satu mata kuliah. Saya juga tahu Andi kini
> menjadi salah satu
> advicer penting di PDIP terkait persoalan militer.
>
> Pada saat masuk sesi tanya jawab, reflek saya angkat
> tangan. Saya katakan,
> sebelum masuk ke pertanyaan saya ingin menanggapi
> dulu apa yang disampaikan
> Taufik tentang PKS. Saya perlu meluruskan masalah
> ini ke audience karena
> yang hadir adalah para mahasiswa RSIS dari berbagai
> negara. Apa jadinya jika
> mereka beranggapan bahwa setiap muslim harus
> dicurigai sebagai teroris
> sebagaimana yang disampaikan Taufik. Lebih berbahaya
> kalau mereka
> beranggapan PKS adalah supporter teroris di
> Indonesia .
>
> Dengan sedikit emosi saya katakan, PKS adalah a
> small party in Indoensia,
> only 7 percent. PKS dibentuk oleh para generasi muda
> Indonesia yang mecoba
> mencari solusi terhadap berbagai persoalan di
> Indonesia . Mereka
> bercita-cita
> ingn membangun apa yang mereka sebut "The New
> Indoensia"/ Indonesia Baru.
> Dan perlu dicatat, mereka adalah lulusan universitas
> secular di Indonesia,
> seperti UI, UGM, ITB dan IPB.
>
> Lalu saya jelaskan, tampaknya cita-cita mereka ini
> ditangkap oleh sebagain
> masyarakat Indonesia berpendidikan dan menginginkan
> perubahan. Karena itu
> terbukti, PKS unggul di Jakarta . Di sini saya
> memberi penekanan: " Jakarta
> adalah tolok ukur politik di Indonesia . Jika Anda
> ingin mengatahui the real
> politics in Indonesia dan proses demokratisasi di
> Indonesia, look at
> Jakarta !" Sebab jika Anda melihat Indonesia secara
> keseluruhan, maka
> sesungguhnya sebagian besar masyarakat Indonesia
> berpendidikan rendah yang
> mudah dibohongi oleh para elit partai.
>
> Setalah itu barulah saya masuk ke pertanyaan
> sederhana: Apa konsep PDIP
> untuk membangun Indonesia . Pertanyaan itu tak
> dijawab secara baik oleh
> Taufik, karena mungkin ia keburu kaget ada orang PKS
> terselip di antara
> hadirin. Setelah tahu saya orang PKS pernyataannya
> menjadi melunak, ia
> katakan syukurlah kalo ternyata PKS sudah berubah.
>
> Alhamdulillah, tampaknya hadirin mendapatkan
> informasi lain tentang PKS, hal
> itu terlihat dari pertanyaan2 yang terlontar, baik
> dari orang Indonesia
> sediri, Singaporean, Malaysian, semua tampak bernada
> positif terhadap PKS.
> Beberapa kawan dari Indonesia dan beberapa negara
> menghampiri saya
> mengomentari penjelasan singkat saya itu.
>
> Menurut saya, ceramah Taufik Kiemas di RSIS itu tak
> boleh dianggap angin
> lalu. Boleh jadi inilah gambaran sikap PDIP sendiri
> dan sikap partai-partai
> lain secara umum terhadap PKS. Sikap ini tampaknya
> akan melatari kebijakan
> partai untuk menghadapi Pemilu 2009. Isu terorisme,
> sektarianisme adalah isu
> usang namun efektif untuk menjatuhkan citra partai
> Islam. Sebagaimana
> tudingan militer secular Turki yang menuding Justice
> Party
=== message truncated ===
____________________________________________________________________________________
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=summer+activities+for+kids&cs=bz