Belum setahun 2009 berlangsung, setiap parpol mulai pasang ancang-ancang supaya
meraup suara sebesar-besarnya. Melihat pertarungan PKS VS PDI-P yang dimotori
Taufik Kiemas, seperti menonton arena politik di tahun 1950-an. Setiap kader
parpol entah berlandaskan nasionalis, religius, sosialis dan komunis berkhotbah
memuji kebaikan parpolnya sambil menuding keborokan lawan politik. Dalam
politik, tuding menuding,saling menjatuhkan bukanlah hal tabu dan bersifat
haram. Layaknya pedagang menjual barang dagangannya.
Tapi satu hal terpenting, silakan memfitnah, menjelekkan di dalam arena politik
asalakan tidak membuat konflik horizontal di tingkatan akar rumput. Selain itu,
seeorang kader parpol mesti bersikap dewasa dalam menghadapi retorika lawan
politik. Panas di hati tetapi dingin dalam tindakan. Boleh ribut dan saling
jegal argumentasi di dalam panggung tapi tetap ngopi bareng ketika di luar.
Untuk saat ini, saya masih pesimis dengan kerja partai politik untuk mewujudkan
kesejahteraan dan kedaulatan bangsa meskipun ada parpol yang pamer telah
membuat pendidikan gratis dan kesejahteraan guru. Ketika saya berada di
persimpangan jalan sambil melihat anak-anak kecil yang harus mencari nafkah dan
putus sekolah,lalu apakah ini yang dinamakan pendidikan gratis? Tulisan ini
hanya ingin mengingatkan elit parpol, silakan jegal tapi tetap damai !!
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers