Suara Pembaruan  PDI-P soal Pancasila     Asas Partai Harus Sama dengan Dasar 
Negara        [ JAKARTA ] Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) 
konsisten dengan perjuangannya agar asas partai politik (parpol) harus sama 
dengan asas negara Indonesia yakni Pancasila.   Karena itu, bagi PDI-P, 
termasuk Partai Golkar (PG) dan Partai Demokrat (PD) sebagai partai yang juga 
menggagasi wacana Pancasila sebagai asas tunggal parpol masuk dalam Daf- tar 
Inventarisasi Masalah (DIM) RUU Partai Politik, polemik bahwa parpol bisa 
memiliki asas lain tidak perlu karena Pancasila sudah final.   Ketua Dewan 
Pimpinan Pusat (DPP) PDI-P Bidang Pemuda, Mahasiswa dan Olahraga, Maruarar 
Sirait di Jakarta, Senin (24/9), mengatakan, perjuangan partai itu ideologis. 
Jika tidak idelogis, dia akan kehilangan arah dan tujuan berbangsa dan 
bernegara. Apalagi Indonesia adalah negara plural dengan beragam suku, agama 
dan ras.   "PDI-P dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara jelas bahwa
 ideologinya Pancasila, ekonominya bukan kapitalisme dan demokrasinya tidak 
otoriter," kata Maruarar yang juga anggota Komisi XI DPR.   Mengenai anggapan 
sejumlah pihak bahwa usulan PDI-P, PG dan PD agar menjadikan Pancasila sebagai 
asas tunggal parpol karena takut akan kebangkitan partai-partai Islam, Maruarar 
mengatakan, bukan itu persoalannya.   "Kita tidak melihat itu. Partai itu 
bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Itu artinya, asas negara harus 
sama dengan asas partai. Partai harus mengikuti asas atau ideologi negara," 
katanya.   Karena itu, Maruarar mengingatkan agar jangan menjadikan Pancasila 
sebagai alat atau sarana mencapai tujuan tetapi sebagai dasar berpolitik, 
berbangsa dan bernegara. "Pancasila sudah final dan karena itu harus 
dipertahankan dan dijalankan dengan konsekuen," tegasnya.   Pengamat politik 
senior dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, Senin, mengatakan, parpol tidak 
harus menjadikan Pancasila sebagai asas partai. "Parpol itu alat
 demokrasi, mengapa asasnya harus diseragamkan? Ideologi negara yang harus 
seragam, satu tidak bisa di tukar apalagi digadaikan," katanya.     Jangan 
Gadaikan   Konsekuensinya, kata Arbi, parpol pemenang pemilu yang memiliki 
ideologi yang berbeda harus menafsirkan arah pembangunan berdasarkan Pancasila 
dan UUD 1945. "Itu dibolehkan, tapi ingat jangan pernah menukarkan atau 
menggadaikan Pancasila dengan asas partainya, karena itu sama artinya 
menggantikan Pancasila sebagai dasar negara," kata Arbi.   Sementara itu, Ketua 
Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Surya Dharma Ali kepada wartawan di 
Jakarta, akhir pekan lalu, mengatakan, PPP tegas menolak wacana supaya asas 
tunggal sebagai asas partai dalam pembahasan RUU Politik yang tengah digodok 
pemerintah dan DPR. "Jika wacana tersebut terus digulirkan maka sama artinya 
memperhadapkan antara Islam dengan Pancasila," kata Surya Dharma Ali   Disisi 
lain, Surya mengaku, partainya konsisten mendorong pemberlakuan Syariat Islam
 (SI). "Partai adalah wadah aspirasi masyarakat. Tetapi, apakah umat Islam 
secara mayoritas menginginkan SI itu masuk dalam konstitusi secara formal atau 
tidak, itu persoalannya," katanya. [L-8]     
---------------------------------
  Last modified: 23/9/07   
 
       
---------------------------------
 For ideas on reducing your carbon footprint visit Yahoo! For Good this month.

Kirim email ke