SBY Harus Berani Ambil Keputusan Dalam Menyingkirkan Suharto ! > andri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > sby itu punya hubungan kuat dengan soeharto. karirnya didongkrak > oleh mantan presiden kita ini, karena dia menantu sarwo edi yang > merupakan kawan soeharto (atau setidaknya bukan musuh soeharto). > > jadi sby gk bakalan berani menyentuh soeharto. lagipula dia butuh > dukungan soeharto untuk mempertahankan kekuasaannya, atau setidaknya > tidak menghancurkan simpati soeharto padanya.
Pendapat anda betul tepat sekali, tapi anda harus ingat, sby juga berpendidikan tentara, di Akmil dulu dia dibrainwash untuk setia kepada Suharto. Namun brainwash seperti itu bisa dinetralisir apabila ada kekuatan lebih besar yang bisa meyakinkan dia untuk berlindung seperti kekuatan Amerika. Jangan lupa, Amerika sangat suka kepada orang2 yang berani seperti halnya Honasan di Philipina yang meskipun terkadang merugikan Amerika tapi bisa dididik untuk dihadapkan kepada musuh2 Amerika. Silahkan anda juga baca tulisan saya seputar g30s dalam mengomentari tulisan Umar Said. Pada hakekatnya semua penguasa Indonesia itu begundal2 Amerika yang merupakan kaki tangan CIA seperti halnya Aidit. Mereka semua saling bersaing dan memanfaatkan kekuatan Amerika agar bisa ditopang menjadi penguasa di Indonesia. Salah satunya yang saya katakan adalah bahwa militer Amerika bisa dengan gampang sekali masuk ke negara mana saja dengan baju seragam tentara domestik. Jumlahnya tak perlu banyak, satu kompi atau satu batalyon saja sudah mampu menculik presiden negara ybs. Itulah sebabnya, saya enggak percaya kalo ada tentara RI yang bisa mengepung istana Sukarno yang menyebabkan Sukarno lari ketakutan ngumpet di Lubang Buaya dilindungi Omar Dhani. Kenapa enggak digempur saja tentara yang mengepung Istana Sukarno itu???? Sukarno itu punya dukungan solid baik dari ABRI maupun dari rakyat, bahkan Suharto juga tunduk kepada Bung Karno??? Tapi kenyataan berbeda, semua orang tahu, biarpun cuma satu kompi saja, pasukan bersenjata lengkap dari Amerika itu sudah lebih dari cukup buat menculik presiden. Semua pasukan yang menculik jenderal2 itu juga bukan tentara Indonesia. Bukan pasukan yang dibawah kendalinya untung. G30S hanyalah sandiwara kamuflase menutupi gerakan pasukan Amerika ini. Sedangkan Suharto hanya diperintah dari kedubes Amerika di Jakarta. Semua kejadian seputar G30S itu sangat aneh. Kalo anda pikir benar2, kenapa Sukarno yang anti Amerika dan katanya pro Komunis, tetapi masih saja kedubes Amerika boleh dibuka di Jakarta meskipun diberitakan di-koran2 hubungan Amerika-Sukarno sudah diputus. Saya sendiri yang ikut demo penurunan Sukarno padahal waktu itu saya ini pendukung Bung Karno. Waktu demo, saya makan dan minum gratis sekenyangnya dikedubes Amerika dijalan Merdeka selatan, dan dijaga oleh pasukan bersenjata lengkap seperti ABRI. Suharto dan Sarwo Edhie keduanya akhirnya bentrok, kemungkinan keduanya itu saling menuduh tentang pembunuhan massal diseluruh Indonesia. Ada family dekat Suharto yang ikut terbunuh karena dianggap PKI dan Suharto sangat marah dia menuduh perbuatan Sarwo Edhi. Agar anda bisa memahami bagaimana cara2 operasi CIA secara global, sebaiknya anda mempelajari secara teliti kasus perang di VietNam terutama setelah jatuhnya Dhien Bien Phu. Semua plotnya penuh konspirasi, disatu pihak Amerika mau menyingkirkan Perancis keluar dari VietNam, CIA memperalat Ngo Din Dhiem, yang cuma seorang pastor Katolik di VietNam yang mayoritasnya Budhist. Dilain pihak, Perancis memperalat raja Bao Dai yang beragama Budhist. Dilain pihak lagi, Ho Chi Minh yang didik Perancis malah memerangi Perancis yang secara diam2 dia dibantu juga oleh Amerika. Perancis terjerembab dihantam oleh Ho Chi Minh, belakangan Ho Chi Minh minta pengakuan resmi Amerika, tapi atas kepandaian Ngo Din Dhiem yang berkolaborasi dengan Vatican melalui Kardinal Spellman di Amerika, berhasil mempengaruhi senat Amerika untuk menolak pengakuannya kepada Ho Chi Minh. Amerika menolak Ho Chi Minh dan mendukung Ngo Din Dhiem. Semua itu cuma ambisi mau jadi penguasa dengan memperalat kekuatan asing yang dalam hal ini Amerika. Ho Chi Minh tidak habis akal, dia undang secara rahasia Ngo Din Dhiem ke Hanoi, keduanya berunding agar bisa bekerja sama menggulingkan raja Bao Dai yang beragama Buddha ini. Kerja sama penggulingan raja Bao Dai disetujui oleh Ngo Din Dhiem, tetapi untuk bergabung dengan Ho Chi Minh dia menolak. Ngo Din Dhiem masih tetap dendam kepada pasukan Vietcong, karena kakak Ngo Din Dhiem dibunuh oleh komunis. Ngo Din Dhiem sendiri seorang nasionalist sejati seperti halnya Bung Karno, akal2nya banyak meskipun akhirnya juga terjerembab ditipu jenderalnya sendiri seperti Suharto. Raja Bao Dai juga cari akal, diam2 dia juga mengundang Ngo Din Dhiem setelah menyadari bahwa Ngo Din Dhiem sangat kuat lobby-nya ke senat Amerika. Bao Dai gagal mendapat dukungan Amerika dan dia sangat ketakutan kepada Vietcong. Ngo Din Dhiem ditawari untuk jadi perdana Menteri, tapi ditolak. Singkat ceritanya, raja Bao Dai yang adalah bonekanya Perancis akhirnya terguling, Ngo Din Dhiem naik jadi presiden pertama VietNam Selatan yang beragama katolik di negara yang mayoritasnya Buddhist. Bagaimana Ngo Din Dhiem bisa berhasil ternyata ada prajurit Perancis keturunan VietNam, namanya Nguyen Hinh (?), dia ini kenal dengan Ngo Din Dhiem, dan menawarkan diri untuk memberi bantuan dalam menggulingkan Bao Dai. Ngo Din Dhiem langsung saja menerima dan percaya kepada Hinh ini yang olehnya kemudian diangkat jadi jenderal. Kalo di Perancis dia cuma berpangkat Prajurid I, di VietNam sekarang dia jadi Jenderal. Perancis dendam kepada Ngo Din Dhiem, digosoknya jenderal Hinh untuk menyingkirkan Ngo Din Dhiem agar bisa jadi presiden. Hinh berambisi besar, dia punya kekuatan militer, kenapa harus jadi bawahan Ngo Din dhiem??? Diam2, Jenderal Hinh ini berkolaborasi dengan pendeta2 Buddhist untuk membuat demo besar2an dengan kampanye isu2 agama katolik yang berusaha memusnahkan Buddhist. Jenderal Hinh memberi laporan palsu kepada Ngo Din Dhiem, bahwa biangkerok demo orang2 Buddha itu adalah Komunis dibelakangnya dan mereka merencanakan kudeta. Hinh membuat laporan palsu, jenderal2 lain yang setia kepada Ngo din Dhiem dikatakannya merencanakan kudeta, dan meminta dukungan Ngo Din Dhiem untuk menangkap mereka dan membubarkan demo. Ngo Din Dhiem percaya Hinh, oleh Hinh, demo orang2 Buddha itu dibubarkannya dengan senapan mesin, dan terjadilah pembunuhan massal yang dilakukan Hinh. Kemudian Hinh membuat rapat besar kepada rakyat untuk menggulingkan Ngo Din Dhiem yang dituduhnya melakukan pembunuhan massal terhadap orang2 Buddha. Padahal, pembunuhan massal itu dilakukan oleh Jenderal Hinh diluar pengetahuan Ngo Din Dhiem. Orang2 Buddha dendam kepada Ngo Din Dhiem dan mendukung jenderal Hinh yang sebelumnya tidak punya kekuatan politik apapun juga. Ngo Din Dhiem sendiri bolak balik ke Kedubes Amerika minta bantuan menghadapi situasinya. Tapi sudah terlambat, dia dicaci maki oleh dubes Amerika karena mempercayai Hinh dan mengangkatnya jadi jenderal. Ngo Din Dhiem dibenci rakyat, kalo Ngo din Dhiem jatuh tentu Amerika kehilangan tempat berpijak. Dubes Amerika cepat2 mendekati jenderal Hinh dan berjanji mendukung dirinya. Barulah Ngo Din Dhiem menyadari kalo dia sudah tak ada harapan lagi. Ngo Din Dhiem secara rahasia mengontak Ho Chi Minh, minta bantuan menyelamatkan dirinya dari posisi sulit ini. Ho Chi Minh setuju, dan berjanji akan mengirimkan pasukan ke Perbatasan untuk menyelamatkan bekas musuhnya yaitu Ngo Din Dhiem. Kemudian, Ngo Din Dhiem mengontak dubes Amerika agar menyelamatkan dirinya. Dubes Amerika kemudian memerintahkan jenderal Hinh untuk membebaskan Ngo Din Dhiem keluar kota Saigon. Tapi jenderal Hinh curiga kalo dubes Amerika ini mau menyingkirkan dirinya dan kembali membacking Ngo Din Dhiem. Dihadapan Ngo Din Dhiem, jenderal Hinh bersumpah setia untuk melindunginya. Oleh jenderal Hinh, Ngo Din Dhiem diselamatkan dari kepungan militer dengan diam2 menumpang tank milik jenderal Hinh. Ditengah perjalanan ke Cholon, Ngo Din Dhiem ditembak mati oleh Jenderal Hinh didalam tank itu dan mayatnya dilemparkan saja ditepi jalan. Seluruh keluarga Ngo Din Dhiem dibunuh habis. Setelah kematian Ngo Din Dhiem, VietNam kacau balau, jenderal Hinh sama sekali tidak punya kekuatan politik, bahkan tentara dari jenderal Hinh ini juga tidak loyal kepadanya, jenderal ini berambisi jadi presiden tapi tak punya modal apa2 selain akal2an bunuh sini dan bunuh sana atas nama orang lainnya untuk mengadu domba. Akhirnya juga jenderal Hinh ini terbunuh entah apakah CIA terlibat dalam pembunuhan jenderal Hinh karena jenderal ini tidak dipercaya CIA yang terlambat menyadarinya bahwa Ngo Din Dhiem dibunuh oleh jenderal ini. Tapi CIA tahu kalo jenderal Hinh ini kaki tangan Perancis. Demikianlah dalam keadaan kacau balau begini, akhirnya Amerika mengangkat Jenderal Nguyen Cao Ky yang juga bekas preman pedagang candu. Demikianlah kira2 kejadian G30S mirip sekali dengan di VietNam, semuanya cuma sandiwara dari vested interest berebut kekuasaan dengan memperalat kekuatan Amerika. Sementara boneka2 Amerika itu diadu untuk bertempur melawan komunis, Amerika sendiri diam2 berkolaborasi dengan orang2 komunis di VietNam Utara. Entah apakah Ho chi Minh mati secara alamiah atau juga diracuni. Yang jelas, kolaborasi Amerika dengan komunis VietNam Utara memungkinkan Amerika untuk keluar dari VietNam, dan sekarang gantian, komunist VietNam utara kemudian jadi boneka Amerika untuk membantai tentara China yang setia kepada Mao. Singkat ceritanya, Amerika akhirnya berhasil menghemat biaya perangnya dengan hasil yang gemilang, seluruh Asia, mulai dari Indonesia sampai ke China berhasil menjadi boneka Amerika sekarang ini. > sby ini presiden dengan kekuatan yang paling lemah, partai asalnya > sangat kecil, kekuatan uang dibelakangnya juga kecil sekali (yang > didukung beberapa pengusaha korup juga). dan bapak presiden kita > yang satu ini sebenarnya orang yang naif, tidak terbiasa berpolitik > dan polos dalam permainan busuk politik. > Jadi sama halnya dengan SBY, sekarang dia jadi presiden yang diperintah dari belakang layar oleh Suharto, SBY tak berdaya karena tak punya kekuatan tentara yang bisa membacking dirinya. Tapi secara bertahap anda bisa saksikan sendiri, tidak di-tutup2i, Amerika terus mendorong keberanian SBY untuk menghantam frontal kekuatan Suharto. Bayangin dong, kalo anda jadi SBY gimana perasaan anda, semua menteri dan pejabat bukan loyal kepada presidennya tapi kepada Suharto. Mereka semuanya korupsi untuk membiayai kekuatan Suharto untuk tetap survive mengontrol kekuasaan sang presiden. Daripada jadi boneka Suharto lebih baik jadi boneka Amerika. Kalo saja anda jadi Suharto, anda tentu sadar, musuh anda itu adalah Amerika. Dilain pihak kalo anda jadi SBY, juga anda sadar bahwa yang bisa menyingkirkan kekuasaan Suharto sekarang ini juga cuma Amerika. SBY perlu dana untuk menghantam Suharto dan militer2nya. Darimana dana itu??? Amerika membuka jalan, PBB bersedia mengejar harta Suharto untuk diserahkan kepada SBY. Sekarang tergantung kepada SBY, apakah dia berani bekerja sama dengan Internasional dalam memberangus kekuatan Suharto didalam negeri ini??? Antek2 Suharto berusaha memperkuat diri dengan isu2 nasionalistik agar menolak intervensi Internasional membantu SBY. Lhaa..... apakah dalam posisi dijepit terus menerus seperti ini SBY harus tetap loyal kepada Suharto??? Waktu yang akan menjawabnya. Agar lebih jelas bagaimana nasib Ngo Din Dhiem, anda baca juga kasus naas yang dialami Ngo Din Dhiem: http://en.wikipedia.org/wiki/Ngo_Dinh_Diem Ny. Muslim binti Muskitawati.
