Membentuk Khilafah Sesuai dengan tuntunan Islam

Penulis : Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba’abduh


 

 

وَعَدَ
اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ
قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ
وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُوْنَنِي لاَ
يُشْرِكُوْنَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ
الْفَاسِقُوْنَ

“Allah
telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan
mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan
Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada
dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan
tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa tetap
kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(An-Nur: 55)


Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

وَعَدَ

‘Allah telah berjanji ‘, maknanya adalah Allah k telah menjanjikan. Dan telah 
menjadi ketetapan Allah k bahwa Dia tidak akan mengingkari janji-Nya.

الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

‘Kepada
orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal
yang shalih’, mereka adalah orang-orang yang tegak dengan keimanannya,
yaitu keimanan yang harus dimiliki setiap muslim berupa tauhid dengan
segala konsekuensinya dan juga beramal shalih. Mereka adalah
orang-orang yang senantiasa beramal dengan mengikuti petunjuk
Rasulullah n.

لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ

‘Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi’, maknanya Allah k
pasti memberikan khilafah kepada mereka dan dengan kekhilafahan itu
mereka bisa berbuat seperti perbuatan para raja di muka bumi. (Lihat
Tafsir Fathul Qadir, 4/47; Tafsir Al-Baidhawi, 4/197)

كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ

‘Sebagaimana
Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa’, yaitu
sebagaimana telah diberikan khilafah kepada orang-orang sebelum mereka
dari kalangan Bani Israil dan umat-umat sebelumnya yang lain. (Lihat
Fathul Qadir, 4/47 oleh Al-Imam Asy-Syaukani t)

وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ

‘Dan
sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya
untuk mereka’. Yang dimaksud dengan tamkin adalah mengokohkan, yaitu
menjadikannya kokoh dengan silih bergantinya mereka dalam menduduki
kekuasaan. Tidak hanya bersifat sebentar dan sementara waktu lalu
menghilang dengan cepat. Yang dimaksud agama yang diridhai adalah
Islam, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah k:

وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْناً

“Dan Aku telah ridha Islam menjadi agama kalian.” (Al-Maidah: 5) [Lihat Fathul 
Qadir, 4/47, karya Al-Imam Asy-Syaukani t]

وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا

‘Dan
Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada
dalam ketakutan menjadi aman sentausa.’ Yaitu dihilangkannya rasa takut
yang dahulu mereka rasakan akibat gangguan para musuh Islam, hingga
mereka hanya takut kepada Allah k saja.

Penjelasan Makna Ayat 
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata: “Ayat ini termasuk di antara 
janji-janji Allah k yang (pasti) benar, yang telah disaksikan kenyataannya dan 
kandungan beritanya. (Allah k)
telah berjanji kepada orang yang menegakkan iman dan beramal shalih
dari kalangan umat ini bahwa Dia akan memberikan kepada mereka khilafah
di muka bumi. Mereka akan menjadi para khalifah di atasnya, yang
mengatur urusan-urusan mereka dan mengokohkan agama -yang mereka
ridhai- untuk mereka, yaitu agama Islam yang telah mengalahkan seluruh
agama karena keutamaan, kemuliaan dan kenikmatan Allah atasnya. 
Mereka
leluasa dalam menegakkannya dan menegakkan syariat baik yang dzahir
maupun yang batin baik pada diri mereka maupun selain mereka. Sebab,
orang-orang selain mereka dari kalangan para pemeluk agama selain
(Islam) telah terkalahkan dan terhinakan. Dan Allah k
menggantikan keadaan mereka dari rasa takut yang menyebabkan mereka
tidak mampu menampakkan agama dan menegakkan syariat disebabkan
gangguan dari orang-orang kuffar, serta jumlah kaum muslimin yang
sangat sedikit bila dibandingkan dengan selain mereka, dan seluruh
penduduk bumi memusuhi dan menentang mereka dengan berbagai kerusakan.
Allah
menjanjikan hal-hal tersebut untuk mereka pada saat turunnya ayat ini,
namun kekhalifahan di bumi dan kekokohannya belum dapat disaksikan saat
itu. Yang dimaksud dengan kekokohan adalah kekokohan agama Islam,
keamanan yang sempurna di mana mereka hanya menyembah kepada Allah,
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu dan mereka tidak takut kecuali
hanya kepada Allah. Maka tegaklah generasi awal umat ini, dengan iman
dan amal shalih yang menyebabkan mereka berada di atas umat lainnya,
maka Allah kuasakan kepada mereka berbagai negeri dan manusia, serta
dibukakan kekuasaan dari timur ke barat sehingga terwujud keamanan dan
kekokohan yang sempurna.
Ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah k
yang menakjubkan. Dan hal tersebut akan senantiasa berlangsung hingga
(mendekati) hari kiamat. Selama mereka menegakkan iman dan amal shalih
pasti mereka akan mendapatkan apa yang telah Allah k janjikan untuk mereka.
Namun
terkadang orang kafir dan munafikin menguasai mereka dan mengalahkan
kaum muslimin disebabkan kelalaian kaum muslimin dalam menegakkan iman
dan amalan yang shalih.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman hal. 573)
Al-Imam Asy-Syaukani t berkata: “(Ayat) ini merupakan janji Allah k
bagi orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih berupa pemberian
khilafah bagi mereka di muka bumi sebagaimana yang telah diberikan
kepada orang-orang sebelum mereka dari umat-umat sebelumnya. Janji ini
mencakup seluruh umat. 
Ada
yang berkata: ‘Ayat ini khusus untuk para shahabat.’ Namun hal itu
tidak benar, karena beriman dan beramal shalih tidaklah terkhusus untuk
mereka. Bahkan hal tersebut mungkin terjadi pada siapa saja dari
kalangan umat ini. Maka barangsiapa yang mengamalkan Kitabullah dan
Sunnah Rasul-Nya maka sungguh dia telah menaati Allah dan Rasul-Nya.”
(Fathul Qadir, 4/47)
Ibnul Qayyim t berkata: “(Ayat) ini mengabarkan tentang ketetapan dan 
kebijaksanaan Allah k terhadap makhluk-Nya yang tidak akan mungkin berubah, 
bahwa barangsiapa yang beriman dan beramal shalih maka Allah k
akan mengokohkannya di muka bumi dan memberikan khilafah kepadanya,
tidak membinasakan dan menghancurkan mereka sebagaimana (Allah k) membinasakan 
orang-orang yang mendustakan para rasul dan menyelisihi mereka. Allah k 
mengabarkan kebijaksanaan dan muamalah-Nya terhadap orang yang beriman kepada 
para rasul dan membenarkan mereka bahwa Allah k akan memperlakukan mereka 
sebagaimana Allah k memperlakukan orang-orang sebelum mereka dari para pengikut 
rasul.” (Jala`ul Afham hal. 287, karya Ibnul Qayyim t)

Perwujudan Janji Allah k 
di Masa Generasi Salaf
Apa
yang telah dijanjikan pada ayat ini telah dirasakan oleh orang-orang
yang senantiasa menjalankan persyaratan yang disebutkan Allah k berupa iman dan 
mentauhidkan Allah k serta mengikuti Sunnah Rasulullah n. Juga senantiasa 
berada di atas jejak beliau sehingga Allah k memberikan kekuasaan kepada mereka 
di berbagai negeri dan menundukkan negara-negara besar seperti Persia dan 
Romawi.
Perhatikanlah sirah (perjalanan hidup, red) Rasulullah n. Beliau tidak 
meninggal dunia kecuali Allah k
telah memberikan kemenangan kepada beliau dengan ditaklukkannya kota
Makkah, Khaibar, Bahrain, seluruh negeri Arab dan seluruh negeri Yaman.
Beliau memberlakukan penarikan jizyah (upeti) dari bangsa Majusi di
Hajar dan sebagian daerah pesisir Syam.
Heraklius,
Raja Romawi, meminta berdamai kepada beliau. Demikian pula penguasa
Mesir dan penguasa Iskandariah yang digelari Muqauqis. Juga raja-raja
Oman dan raja Najasyi, penguasa Habasyah yang menjadi raja setelah
‘Ashimah t.
Tatkala Rasulullah n meninggal, pemerintahan dilanjutkan oleh para khalifah 
setelah beliau. Tidak lama setelah kematian beliau n, Abu Bakar Ash-Shiddiq 
melanjutkan kekuasaan dan mengirim pasukan Islam ke Persia, dipimpin Khalid bin 
Al-Walidz.
Kaum muslimin menaklukkan sebagian wilayah Persia dan membunuh sebagian
tentara mereka. Pasukan lain yang dipimpin Abu Ubaidah z dan para pemimpin 
lainnya bersamanya menuju Syam. Pasukan ketiga pimpinan ‘Amr bin Al-’Ash z 
menuju Mesir. Allah k
memberikan kemenangan bagi pasukan yang menuju Syam dan berhasil
menguasai Bashrah, Damaskus, dan masih tersisa darinya negeri Hauran
dan sekitarnya hingga Allah k mewafatkannya dan memberikan pilihan kemuliaan 
baginya.
Kemudian Allah k menganugerahi kaum muslimin di mana Ash-Shiddiq z diberikan 
ilham untuk mengangkat ‘Umar Al-Faruq z sebagai penggantinya. ‘Umar z
pun menegakkan kekhalifahan dengan penegakan yang sempurna, yang belum
pernah dikenal dalam sejarah yang seperti beliau -setelah para nabi-
dalam kekuatan dan kesempurnaan keadilannya.
Beliau
berhasil menyempurnakan kemenangan di seluruh negeri Syam. Demikian
pula negara-negara Mesir dan sebagian besar wilayah Persia. Beliau
meruntuhkan kekuasaan Kisra (raja Persia) dan menghinakannya dengan
serendah-rendahnya sehingga dia melarikan diri hingga ke ujung
kekuasaannya. Juga beliau meruntuhkan Kaisar (raja Romawi) dan
melepaskan kekuasaannya dari negeri Syam sehingga dia lari menuju
Kostantinopel.
‘Umar z menginfakkan harta keduanya di jalan Allah k, sebagaimana yang telah 
dikabarkan dan dijanjikan oleh Rasulullah n. Lalu berlanjut sampai kekuasaan di 
tangan Daulah Utsmaniyah, semakin melebar kekuasaan Islam hingga ke ujung timur 
dan barat.
Ditundukkan
pula negeri Maghrib hingga ke ujungnya yaitu Andalus, Qabras, negeri
Qairuwan, negeri Sabtah yang berada di dekat lautan Muhith. Adapun dari
arah timur hingga ke ujung negeri Cina dan berhasil membunuh Kisra
serta meruntuhkan kekuasaannya secara total.
Ditundukkan
pula beberapa kota seperti Irak, Khurasan, Ahwaz, dan kaum muslimin
berhasil membunuh pasukan Turki dalam jumlah yang banyak sekali. Allah k
menghinakan raja agung mereka Khaqan dan menarik upeti dari wilayah
timur dan dan barat lalu dibawa ke hadapan Amirul Mukminin ‘Utsman bin
‘Affan z.
Yang demikian ini disebabkan barakah dari bacaan Al Qur`an beliau,
mengilmuinya, dan menyatukan seluruh umat dengan disatukan dalam
pemeliharaan Al Qur`an. Oleh karena itu telah shahih bahwa Rasulullah n 
bersabda:

إِنَّ
اللهَ زَوَى لِي اْلأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا
وَسَيَبْلُغُ مُلْكُ أُمَّتِي مِثْلَ مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا

“Sesungguhnya
Allah melipat bagiku bumi ini hingga akupun melihat wilayah timur dan
baratnya, dan kekuasaan umatku akan sampai ke wilayah yang telah
dilipatkan (diperlihatkan) kepadaku darinya.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu
Dawud, dari Tsauban z) [Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 3/301-302] 

Tegakkan Daulah Islamiyyah dalam Diri Kalian, Niscaya akan Ditegakkan Daulah 
Islamiyyah di Negara Kalian!
Berbagai
kelompok yang menyimpang dari jejak para ulama salaf, sering menyerukan
slogan “Dirikan Daulah Islamiyyah”, “Tegakkan Syariat Islam”, dan yang
semacamnya. Dalam upaya mencapai keinginan tersebut, mereka banyak
membuat trik atau cara yang sesuai dengan hawa nafsu mereka dan jauh
menyimpang dari apa yang dikehendaki Allah k
dan Rasul-Nya. Di antaranya ada yang berusaha untuk mendirikan negara
di dalam negara dan berupaya keras untuk meruntuhkan pemerintahan yang
sah.
Di antara mereka ada pula yang
menggunakan cara-cara teror dan mengacaukan keamanan negara muslim
dengan alasan pemerintah telah melanggar hukum Allah k, seperti yang telah 
dilakukan oleh kaum Khawarij sebagai nenek moyang mereka.
Di
antara mereka ada yang menempuh cara-cara diplomasi dengan ikut serta
duduk di kursi-kursi pemerintahan walaupun harus melanggar sebagian
hukum Allah k dan mengakui cara-cara demokrasi dengan dalih memperjuangkan 
tegaknya syariat Islam, dan entah dengan cara apa lagi.
Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t
sering berkata: “Tegakkan daulah Islamiyyah dalam diri kalian, niscaya
akan ditegakkan daulah Islamiyyah di negara kalian!”, ketika beliau
membantah berbagai kelompok yang menyimpang dari tuntunan Al Qur`an dan
Sunnah Rasulullah n serta apa yang telah menjadi amalan as-salafush shalih. 
Beliau t
berkata: “Sungguh aku kagum terhadap satu kalimat yang diucapkan
sebagian para mushlihin (orang yang melakukan perbaikan) di masa kini,
yang menurutku seakan-akan ini merupakan wahyu dari langit, yaitu
perkataan:

أَقِيْمُوا دَوْلَةَ اْلإِسْلاَمِ فِيْ قُلُوْبِكُمْ تَقُمْ لَكُمْ فِيْ 
أَرْضِيْكُمْ

“Tegakkanlah
Daulah Islam dalam hati kalian, niscaya akan ditegakkan Daulah Islam di
negara kalian.” (lihat At-Tashfiyah wat-Tarbiyah hal. 33, transkrip
ceramah Asy-Syaikh Al-Albani t)
Beliau t pun berkata: “Jika kita menghendaki kemuliaan dari Allah k,
menghilangkan kehinaan dari kita, dan memberikan pertolongan-Nya kepada
kita dalam mengalahkan musuh, maka tidaklah cukup untuk itu apa yang
telah kami isyaratkan tadi kewajiban membenarkan pemahaman (yang
keliru) dan menghilangkan berbagai pendapat yang menakwilkan
dalil-dalil yang syar’i yang ada di kalangan ahli ilmu atau ahli fiqih.
Namun di sana ada sesuatu yang sangat penting –yang merupakan hal inti–
dalam membenarkan pemahaman. Yaitu beramal, sebab ilmu adalah jalan
untuk beramal. Maka apabila seseorang telah belajar dan ilmu yang
dipelajarinya bersih lagi suci (dari kesesatan), apabila dia tidak
mengamalkannya maka sangat jelas sekali bahwa ilmu yang ada padanya
tidak menghasilkan buah. Maka haruslah ilmu tersebut ditemani amalan.
Wajib
bagi para ahli ilmu untuk mengurusi pendidikan yang baru tumbuh dari
kaum muslimin berdasarkan pancaran yang shahih dari Al-Kitab dan As
Sunnah. Kita tidak boleh membiarkan manusia tetap berada di atas apa
yang mereka warisi berupa berbagai pemahaman keliru, yang sebagiannya
dipastikan kebatilannya berdasarkan kesepakatan para imam, dan
sebagiannya diperselisihkan, dan masih ada bagian dari pandangan secara
ilmiah, ijtihad, dan pendapat, dan sebagian dari ijtihad serta
pemikiran tersebut menyelisihi As Sunnah.
Setelah
men-tashfiyah (menjernihkan) perkara-perkara ini dan menjelaskan apa
yang harus dijalani serta bertolak darinya, maka kita harus
men-tarbiyah (mendidik) benih yang baru tumbuh tersebut di atas ilmu
yang benar ini. Pendidikan inilah yang akan membuahkan masyarakat Islam
yang murni, dan selanjutnya tegaklah Daulah Islamiyyah.
Tanpa
dua pembukaan ini, yaitu: Ilmu yang benar dan Pendidikan yang benar
yang dibangun di atas ilmu yang benar tersebut, mustahil –menurut
keyakinanku– untuk bisa ditegakkan hukum Islam atau Daulah Islamiyyah.”
(At-Tasfiyah wat-Tarbiyah, Asy-Syaikh Al-Albani hal. 29-31)
Camkanlah nasehat beliau, semoga kita termasuk hamba yang mendapatkan hidayah 
menuju jalan-Nya. Amin.

1 Surat Al-An’am ayat 153, red.



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke