Kenapa kita harus mendukung kemerdekaan Palestina ?

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Ngapain sih mendukung Palestina? 

Kalau ada ribut-ribut di negara-negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, 
atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap Negara 
tersebut.. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina diserang. Ngapain sih 
mendukung Palestina? 

Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama karena kita bukan 
orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah, dan juga 
karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada 
kegiatan kita sehari-hari. 

Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia malah 
berhutang dukungan untuk Palestina. 

Sukarno-
Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 
Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai 
negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa 
lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh 
Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat. 

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan 
Mesir, seperti dikutip dari buku "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar 
Negeri" yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan 
Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. 
Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana 


Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) 
, dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution. 

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada 
hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Palestina 
terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani 
untuk memutuskan sikap. 
Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti 
besar Palestina-secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia: 

".., pada 6 
September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan 'ucapan 
selamat' mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke 
Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan 
'pengakuan Jepang' atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio 
tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian 
"Al-Ahram" yang terkenal telitinya juga menyiarkan." Syekh Muhammad Amin 
Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan 
menyambut kedatangan delegasi "Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia" dan 
memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui 
generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini. 

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar 
memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat 


bersimpati terhadap perjuangan Indonesia , Muhammad Ali Taher. Beliau adalah 
seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di 
Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: "Terimalah semua kekayaan 
saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia .." 

Setelah seruan itu, maka negara daulat yang berani mengakui kedaulatan RI 
pertama kali oleh Negara Mesir 1949. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul 
oleh negara-negara Tim-Teng lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk 
secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh.. Pengakuan 
itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara 
merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan & pembahasan tentang 
Indonesia di lembaga internasional. 

Dukungan Mengalir Setelah Itu 

Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi 
sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk 'Panitia Pembela 
Indonesia '. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional 
PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam 
pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut. 

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi-demonstrasi dukungan kepada Indonesia 
oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 
10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya , demonstrasi anti 
Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib 
dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur 
Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat 
itu. 

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca 
Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal 
"Volendam" milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port 
Said. 

Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu. Mereka 
menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih -tanda 
solidaritas-berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau 
blokade terhadap motor-motor-boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air 
& makanan untuk kapal "Volendam" milik Belanda yang berupaya melewati 
Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar 
pengangkut logistik untuk "Volendam" bergerak dengan dijaga oleh 20 orang 
polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal 
Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun 
hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir. 

Wartawan 'Al-Balagh' pada 10/8/47 melaporkan: 


"Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu 
dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar 
stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar 
itu kejuruan lain." 

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan menakut-nakuti Barat 
dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. "Kebangkitan 
Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan 
menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari 
Eropa." 

Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang saat 
ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran bangsa bangsa 
Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan kita..(Lihat foto 
bung Hatta, Hj Agus Salim, Mufti Palestina, dan pemimpin Mesir di 
attachement supaya kita kenal wajah wajah dari tokoh pembela Indonesia ini) 

Statement Tokoh dalam buku ini: 

Dr. Moh. Hatta: 
"Kemenangan diplomasi Indonesia yang dimulai dari Kairo. Karena dengan 
pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai 
negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda 
untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di 
masa-masa yang lampau." 

A.H. Nasution: 
"Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI 
dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling 
dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. 
Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI 
bersama Afghanistan dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil 
perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap 
luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, 
jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD '45 : 
"ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian 
abadi dan keadilan sosial". 
"Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cinta mencintai 
antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota berasa 
sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dan tidak dapat tidur." (HR 
Bukhari) 



Kirim email ke